Thursday, December 30, 2010 By: shanti dwita

Paris day 2


Hari kedua saya di Paris. Pagi itu nuansa mendung plus gerimis belum juga beranjak,  masih sama seperti hari sebelumnya. Bangun jam 6 pagi menyiapkan sarapan alakadarnya untuk kami bertiga, kebetulan pagi itu si empunya kamar berencana berangkat subuh untuk mengikuti acara pemilihan ketua PPI Perancis di kedutaan. Jam 9an, saya dan Rush meninggalkan Cachan dan bertolak ke pusat Paris, menaiki RER B dari Arcueil Cachan, turun di station Luxembourg dan berjalan kaki menuju Pantheon. Berdiri di Rue de Soufflot yang menghubungkan Jardin de Luxembourg dan Pantheon, saya bisa menyaksikan keindahan detil  ala Quartier Latin di gedung  yang dulunya adalah gereja itu.  Saat Louis XV menderita sakit yang cukup serius di tahun 1744, dia pun bernazar akan membangun sebuah gereja jika nantinya ia sembuh.  Atas andil Jacques- Germain Soufflot, sang arsitek, gereja yang didedikasikan untuk Sainte-Genevi√®ve ini pun selesai di tahun 1791, di saat yang sama ketika Paris sedang bergejolak dengan revolusi Perancis. Setelah revolusi, fungsi gereja pun dialihkan menjadi public building yang terbuka untuk umum. 

Kawasan Quarter Latin di selatan Paris (Left Bank of the Seine River) ini merupakan kawasan pelajar, dimana banyak perguruan tinggi berdiri. Setelah sejenak mengusir dingin dengan minum secangkir espresso mini serta sepotong raisin croissant di salah satu sudut Rue de Soufflet, kami kemudian menuju Sorbonne University (Universite de Paris), universitas ternama yang beridir sejak abad 12. Di universitas inilah  pasangan Marie dan Pierre Currie, pemenang nobel Fisika-Kimia, pernah belajar. Sejumlah nama seperti Victor Hugo, penulis novel Notredame, Desiderius Erasmus, humanis Belanda yang namanya dipakai dalam program “Erasmus Mundus” oleh Uni Eropa, serta Antoine Lavoisier, sang Bapak Kimia Moderen,  juga merupakan alumni Sorbonne University. Begitu terkenalnya hingga tokoh Aisha dalam novel Ayat-Ayat Cinta-nya Habiburrahman El Shirazy pun dikisahkan pernah belajar di universitas ini.
Dari sana, kami menuju Jardine de Luxembourg, sebuah taman ber-landscape campuran Italian-French. Mengapa ada nama Luxembourg di dalam kota Paris? Hmm.. karena dulunya area tersebut merupakan milik Duke of Luxembourg yang kemudian dibeli oleh Marie de Medici, ibu Louis XIII yang seorang keturunan Italian. Pertanyaan mengapa ber-landscape Italy pun sekaligus terjawab bukan? Sayang, mengunjungi taman ini di kala autumn membuat saya  kurang bisa menikmati keindahannya, meskipun tetap ada berumpun aster warna-warni di sejumlah sudutnya.  Merasa terkejar waktu plus banyaknya tempat yang ingin disinggahi, kami segera bergegas kembali ke Luxembourg subway/metro station menuju St Michel untuk berganti line ke arah Chateau de Versailles. 

Metro yang kami naiki pun melaju menuju Versailles. Dalam waktu 40 menit diperkirakan kami akan sampai disana. Namun, entah mengapa, tiba-tiba metro berhenti di Invalides disertai announcement dalam bahasa Perancis yang intinya “ini adalah pemberhentian terakhir”. Akhirnya kami mengambil metro di arah berlawanan, yang juga menuju ke Versailles, namun dengan rute yang lebih panjang, sekitar 75 menit. Setelah berjalan kaki 15 menit dari stasiun, kami pun sampai, disambut oleh patung Louis XIV yang dengan gagahnya menunggang kuda.  Suasana Chateau (dalam bahasa Inggris disebut Palace) di hari Sabtu itu begitu ramai. Ratusan orang menyemut di pintu loket untuk masuk ke dalam taman juga istana yang merupakan simbol absolutisme Lois XIV di tanah Eropa.

0 komentar:

Post a Comment