Friday, September 24, 2010 By: shanti dwita

Jumat yang melelahkan

Hujan diluar membuyarkan rencana saya untuk bergabung dengan teman-teman ke sebuah pesta yang konon diadakan untuk menyambut mahasiswa internasional di kota Gent. Yah, mungkin memang sebaiknya saya tidak datang, karena party disini lekat sekali image-nya dengan minuman beralkohol seperti beer, wine dan juga vodka plus dansa dansi dengan hingar bingar musik  Hampir sebulan tinggal disini, belum sekalipun saya datang ke diskotik atau pub seperti yang biasa dilakukan oleh sebagian mahasiswa ataupun anak muda lainnya. Saya sungkan dengan pakaian yang saya kenakan, meskipun tampaknya mereka tidak terlalu ambil pusing dengan apa yang saya pakai. Mereka mungkin tidak tahu kalau di agama saya, makan babi dan minum alkohol itu dilarang, dan itu sebabnya mereka sering menawari saya untuk mencicipi beer atau wine dan pernah juga  minuman dengan kadar alkohol 50% (haa??). Tapi tenang, saya menolak semuanya, karena itu termasuk point-point perjanjian saya dengan (mm.. dengan siapa ya?), jelas, dengan diri saya sendiri.
Hari ini hari Jumat, dan Jumat malam adalah saatnya pesta besar. Saya melaluinya dengan berpesta bersama roti kismis dan netbook, mencoba mencari inspirasi yang mungkin bisa dituangkan dalam blog ini. Ya, mungkin kali ini saya akan memenuhi permintaan sahabat saya untuk menceritakan suasana kelas saat pelajaran berlangsung. Momentumnya mungkin sangat tepat, karena hari ini saya benar-benar memacu otak dan raga saya untuk bekerja keras. Betapa tidak, kuliah tentang teknik dasar biologi molekular jam 9.30 pagi menyentak saya agar segera siaga. Bertepatan dengan waktu yang dijadwalkan, kuliah itu pun dimulai. Tidak ada ceritanya dosen ngaret hingga 15 menit seperti kebiasaan saya di tempat kerja, justru yang ada, dosennya lah yang menunggu hingga semua mahasiswa datang dan duduk tenang di kursinya masing-masing dan siap menerima kuliah. (hmm....).

Kesan pertama saya ketika bertemu dengan Prof  Dirk Iserentant, (sebenarnya dia tidak mengatakan kalau dirinya professor, tapi menurut saya, he is a professor!) saya mengira dia bukan siapa-siapa (kejamnya saya). Dia masuk ke kelas dengan kaos oblong warna coklat keabu-abuan, dengan celana corduray dan sepatu kets, seperti halnya orang yang sedang pergi ke bengkel untuk menservis mobil. Tapi sangkaan saya buyar ketika dia bertanya "Is there somebody else who hasn't come?" sambil menutup pintu kelas. Ohh, alangkah santainya bapak yang satu ini. Pengajar yang hadir di hari sebelumnya berpakaian rapi dengan kemeja dan celana bahan sedangkan yang perempuan menggunakan dress dengan tight dan boots, terlihat modis dan chic. Terbayang betapa rapihnya dosen-dosen saya dan juga teman-teman kerja saya nun jauh disana. Dengan blazer dan high heels yang berbunyi "tok tok tok" mengesankan kalau mereka berwibawa (?) dan professional. But, as Tukul Arwana said, "Don't judge the book from its cover!" saya pun memahami bahwa ini hanya masalah selera. 

Dirk Iserentant mungkin telah berumur diatas 60 tahun, dengan rambut putih yang hampir merata di kepalanya.  Dia tidak tinggi seperti kebanyakan manusia Eropa, mungkin hanya sekitar 167 cm. Tubuhnya cukup "berisi" dan gerak-geriknya menunjukkan bahwa ia sangat cerdas. Kuliah dibuka dan Dirk meminta setiap mahasiswa memperkenalkan diri, pengalaman kerja dan harapan setelah mengikuti kuliah ini. Terus terang saya tidak pernah mengatakan bahwa saya seorang pengajar, karena malu kalau-kalau nanti nilai ujian saya jelek. Singkat, saya pun memperkenalkan diri sebagai shanti dari Indonesia, lulus dari IPB jurusan THP dan pngin mendalami bidang keamanan pangan. That's all. Lupakanlah nostalgia kerja di pabrik udang sebagai buruh harian, lupakan juga status digaji tiap bulan oleh pemerintah RI, saya pun kini setara dengan teman-teman sekelas yang berumur 22-23 tahun (asyiik, lebih muda 5 tahun).






                    mencuri-curi kesempatan menggambil gambar Dirk saat mengajar

Dirk bertanya, apa itu protein, apa itu gen, apa itu DNA sebagai pengganti kopu susu untuk menghangatkan suasana kelas pagi itu. Seperti yang saya cemaskan, saya tidak menjawab pertanyaan yang ia lontarkan, saya seperti lupa dengan cara menjawab pertanyaan. Hei Shanti, bukankah kamu ngajar kimia pangan? masa nggak tau sih protein itu apa? ya..ya, saya tau, tapiiiiiiii... (entah apa alasan yang akan saya kemukakan untuk menjawab hal ini..)

Biarkanlah, semua pertanyaan di sesi pagi itu menjadi milik Edward dan Dagmara.. Oya, dagmara ini fresh graduate dari Dublin Institute of Technology bidang bioteknologi, oleh karena itu wajar dong kalau dia tau banyak tentang transkripsi-translasi dari DNA-RNA hingga akhirnya jadi protein.. (nahh.. ini dia alasan saya, akhirnya saya menemukannya.. :))

Pertanyaan Dirk tidak berhenti sampai disitu, karena bahasan pun menyinggung maslah haploid, diploid dan poliploid pada makhluk hidup. Saya pun teringat pada pelajaran biologi kelas III SMA lengkap dengan background kelas saya, III IPA 5 dan juga bu guru  (bu Usa) yang mengajar plus ekstra ingat tentang soal-soal ujian pemberian beliau yang sedikit banyak selalu memaksa saya memutar otak. "Well, thanks, we're diploid, so we can enjoy sex" kata Dirk. Ah, tentu, mana pernah makhluk hidup haploid seperti Amoeba sibuk mencari pasangan lain jenis saat ingin punya anak, mereka cukup bereplika sendiri.  Masuk akal! (walau sebenarnya saya tidak tahu apakah makhluk itu juga sebenarnya menginginkan pasangan beda jenis atau tidak..hehe). "Lalu apa lagi  hal yang menguntungkan kita sebagai makhluk yang diploid?" Agak lama Dirk menunggu, sebelum akhirnya seorang perempuan yang duduk di sebelah kiri edward menjawab "munculnya variasi dari setiap keturunan yang dihasilkan". Aha, itu dia!!

Sesi pertama yang cukup membuat saya shock berakhir jam 12, tapi ini bukan akhir dari kuliah hari ini. Masih ada lagi sesi kedua hingga jam 5. Saya pun bergegas ke international office untuk men-setting wifi di netbook agar bisa klik dengan jaringan internet nirkabel di kampus. Akses internet di kampus nantinya akan memudahkan saya untuk mengakses jurnal-jurnal internasional seperti Elsevier, Science Direct dan juga jurnal lainnya. Setelah menaiki puluhan anak tangga dan berhasil mencapai ruang IT, gambling yang saya lakukan pun menemui ujung pahit. Saya tahu jam 12 adalah jam istirahat, tapi kok ya masih saja nekat mau ke ruang IT, terang saja saya tidak mendapat apa-apa selain informasi kalau pegawai IT sedang makan siang, dan saya bisa kembali lagi sekitar jam 2.. Wel, Dank U.. Jam 2 saya ada kuliah. Saya pun janjian dengan Leandro untuk kembali lagi ke ruang IT jam 2 kurang 10 sebelum sesi kedua tentang Genetically Modified Organism (GMO) bersama Prof. Dirk dimulai. Oya, sebelum pulang, saya mampir di SoVo (Sociale Voorzieningen). Saya tau kepanjangan SoVo ini setelah dengan sengaja saya mencari surat perjanjian sewa kamar antara saya dan SoVo, tapi kalau ditanya apa artinya Voorzieningen, jujur saya nggak tau. Mampirnya saya di tempat ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengambil paket spesial untuk mahasiswa (asing) yang ada di KaHo. Saya buka isinya, ada makanan, minuman, buku panduan Gent, kupon-kupon diskon, gel rambut Nivea Man (mungkin akan saya berikan ke steve) dan juga nggak ketinggalan, sebotol beer dengan kadar alkohol 7%. Waw.. Sayang, bir itu keburu saya berikan ke teman sebelum sempat seteguk pun saya cicipi.

                                                    paket dari SoVo
Seperti hari sebelumnya, kuliah jam 2 selalu membuat saya tergopoh-gopoh, karena zuhur jatuh jam 1.40. Janji ketemuan dengan leandro di international office pun melayang begitu saya lihat jam ditangan saya menunjukkan pukul 1.55 dan saya pun masih harus menukarkan sprei, sarung bantal dan dufet cover kamar saya yang sudah kotor di gedung C serta mengambil yang baru. Sungguh beruntung kampus saya menyediakan layanan seperti ini, jika tidak, terbayang betapa susahnya mencuci barang-barang itu secara manual ditambah lagi dengan harga sekotak detergen yang mahalnya hampir sama dengan harga satu kilo daging sapi menjelang Idul Fitri di Indonesia, 6 euro sekian sen! (sekitar 72 ribu rupiah kalau dikurskan).

Oke, kembali ke GMO bersama Dirk di M225 (gedung M, lantai 2, ruang 225). Saya duduk di bangku kedua dari depan dan juga kedua dari dinding kanan ruangan, persis seperti di sesi sebelumnya. Di sebelah kanan saya ada Edward, the Ugandan Man, dan disebelah kiri saya ada Dagmara (berasa lomba cerdas cermat). Di sesi kedua ini, Dirk tak lagi bicara teknis kloning makhlup hidup dan juga vektor plus PCR-nya, namun lebih menekankan pada pangan transgenik yang sekarang banyak beredar di pasaran terutama dalam kaitannya dengan keamanan pangan. Ketika bicara tentang novel food, saat pertama kali Lactobacillus cassei dikenalkan dalam minuman probiotik seperti Yakult dan Activia, Dirk pun bertanya, pewarna apa yang digunakan untuk mewarnai yoghurt rasa strawberry sehingga  warnanya menjadi pink? apakah jus strawberry alami? No! Jus strawberry  ditambah yoghurt tentu warnanya akan menjadi krem kecoklatan.

Fikiran saya pun dengan sigap melayang (lagi) ke acara Welcome Lunch senin kemarin. Saat itu saya dan teman-teman Erasmus Mundus diundang makan siang bersama dengan koordinator program SEFO dan para stafnya. Saya duduk berhadapan dengan Prof. Van Keer dan setengah hati menyantap vegetarian steak, kentang rebus, sup tomat serta sayur campur-campur (groenten) yang menurut saya adalah menu yang paling mendekati halal yang bisa saya pilih. Saya juga mengambil jatah satu botol yoghurt Actimel rasa strawberry gratis pemberian SoVo. Saat itulah pembicaraan saya dan Prof. Van Keer dimulai. Dia membahas tentang labelling pada kemasan yoghurt dan melihat komposisi penyusunnya. Ada pewarna, ada gula, ada juga bakteri. Lalu ia bertanya apakah saya tau darimana pewarna pink pada yoghurt ini berasal. "I don't know, is it natural colorant? Well, it might be beet.." jawab saya, karena ibu saya pernah membuatkan jus bit untuk bapak, dan warnanya benar-benar merah pekat. "Nooo.. It's from cactus".. jawab Prof. Van Keer

Dapat dipastikan, mendapat pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya tentang pewarna pink pada yoghurt, saya pun akhirnya menjawab "kaktus". Ya, kaktus, tapi sebenarnya bukan kaktusnya yang memberi warna merah, tapi organisme kecil Dactylopius coccus yang hidup di tanaman tersebut  mampu menghasilkan cochineal dye yang berwarna merah.

Kelas selesai tepat jam 5 sore, dan seingat saya jam 5 lewat 2 menit adalah waktunya azan ashar berkumandang. Seperti biasa, jika kuliah padat, saya terpaksa menumpang sholat di rumah seorang teman muslim di Bergikaai straat. Ada 3 muslim turki dan satu muslim dari India yang tinggal disana. Selesai ashar, saya pun melanjutkan perjalanan ke gedung D untuk mengikuti materi academic writing yang diberikan oleh guru favorit saya Erik van Achter. Bukan karena Erik selalu berkata "... when I was young and handsome" yang membuat saya menyukainya, tapi lebih karena dia mengingat hampir semua nama mahasiswa dan dia juga lucu, meski kadang hanya saya yang dibuat tertawa oleh omongannya yang kadang nyeleneh, tapi benar. Saya heran deh, kenapa yang lain tidak tertawa, apakah ini berarti selera humor saya sudah menurun. Oohh come on!


                                                 erik dan suasana selesai kuliah

Jam 19.00 sesi academic writing ini pun berakhir, namun hari jumat belumlah berakhir hingga waktu tepat menunjukkan jam 12 malam. Sepulang kuliah, saya kembali ke rumah. Setelah menghempaskan tas berisi netbook, buku, serta seperangkat sprei dan sarung bantal yang baru saya tukar di kampus, saya pun bertolak menuju Carrefour untuk belanja daging sapi, berjalan kaki pulang pergi 3 km. Benar-benar melelahkan, tapi saya tetap pergi, demi semangkuk bakso yang akan saya santap besok. Ya, daging sapinya akan saya buat jadi bakso... untuk mengobati kerinduan lidah saya pada bakso sapi panas, dengan aroma merica dan taburan seledri..


2 komentar:

rizka said...

suasana belajarnya banyak diskusi ya bu?

-Teaz- said...

hadeh....jd inget jaman kuli di kelas C-C'an..hihihi..semangat Shan!!!

Post a Comment