Wednesday, September 22, 2010 By: shanti dwita

bertiga bersama

Sontak keriuhan itu hilang di telan malam, dan disinilah aku sendiri membunuh waktu tatkala kantuk belum juga mau mengusikku. Sunyi ini membuatku berfikir bahwa aku sendirian. Tapi benarkah itu, karena jiwaku merasa aku tak sendiri. Ada perasaan yang menenangkan saat kuyakin seeseorang yang berada di belahan bumi lain selalu menyenandungkan kasih dan kerinduan untukku. Tidakkah itu semua cukup menenangkan. Andai jarak dan waktu adalah maya, dan tak pernah nyata. Andai dengan mengejapkan mata ku bisa berada disisinya, disisi mereka. Mereka rumahku, seperti halnya saat ia berkata aku adalah rumahnya, tempat dimana ia akan pulang saat senja menjelang, tempat dimana ia akan bernaung kala awan mendung menggulung. Entah siapa yang romantis diantara kami, mungkin aku, mungkin juga dia, mungkin juga kami berdua, hingga kata-kata "ajaib" seperti itu sering muncul dan seolah menjadi biasa. Dan rasanya kami tak akan pernah menjadi dewasa jika parameternya adalah panggilan formal seperti "papa mama". Kami saling memanggil sesuka hati, asal saja, entah itu "Cint", "yang", "neng", "bos", "juragan", "ente" "ane" atau nama-nama jelek kami waktu di kampus dulu seperti "aki" dan "bogel". Dan mungkin yang akan protes jika mendengar hal ini adalah junior kami " Ibu, itu bukan ayang, itu ayaaaahhh."-- "oke, oke, ibu salah, itu ayaaahh". 

Banyak hal remeh temeh yang tak bisa kujabarkan satu-persatu  dan saat ini ingin kulakukan. Aku ingin melihatnya menangkap ikan dan aku yang memfiletnya. Aku ingin mendengar adisku (dan juga dia) merajuk minta dibuatkan donat, atau bolu atau cake apapun. Aku juga mendadak rindu kebiasaanya menguntitku saat belaja sayur di pasar becek. Konyol memang, sama sekali tidak ada bapak-bapak di dunia ini yang ikut masuk kepasar dan menunggu istrinya memilih-milih bawang, menawar ikan dan juga hilir mudik mencari dimana si penjual kluwek berada. Tapi ia melakukannya. Aku juga senang mengenang saat kami sedikit bersitegang tentang hal-hal konyol, dan biasanya  aku  tak pernah bisa marah untuk waktu yang lebih lama dari satu jam., karena dia pasti mengacaukan semuanya. Aku ingin menonton berkeping-keping DVD serial korea hingga tengah malam terlewat. dan melihatnya ikut ketagihan.  Aku juga senang dan puas sekali melihatnya menangis haru melihat film yang menyayat hati, dan hanya aku yang tau ekspresi wajahnya saat menangis. :P

Menuliskan semua hal diatas membuatku sejenak bahagia, karena ternyata ada harta yang kupunya. yang mungkin tak dipunyai orang lain, atau mungkin orang lain memilikinya, tapi tentu tidak akan  persis sama dengan apa yang kugenggam saat ini. Dan juga seorang lelaki kecil yang dengan mengingat sedikit tentangnya membuatku dengan mudah berkaca-kaca. Ah cinta, mengapa rasa itu ditakdirkan ada di jiwa manusia, hingga sulit rasanya berada jauh darinya. Andai aku pun mati rasa, masih layakkah aku disebut manusia. Aku bersyukur menjadi manusia dengan segala konflik yang sedikit demi sedikit mendidikku menjadi dewasa. Meski sungguh aku tidak tahu kemana arus hidup akan membawaku di tahun-tahun  mendatang. Terbayang betapa sempurnanya hidup bertiga tanpa harus memikirkan tentang apapun. Seolah saat bertiga membuatku memiliki segalanya ditengah segala ketidakidealan ataupun ketidaksempurnaan. Bertiga membuatku merasa timpang saat satu dari kami menghilang, seperti halnya segitiga yang tak pantas disebut segitiga tanpa sudut runcing disisinya.

Hampir 5 tahun menjalani hidup bersama, dan mungkin aku dan dia akan melewati fase 1. Lima tahun pertama perkawinan adalah penyesuaian karakter. Aku dan dia dan keluarga kecil yang kami bangun memang tidak sempurna. Tapi aku masih muda, begitu juga dia, mudah-mudahan kami punya banyak waktu hingga senja menjelang untuk mengumpulkan batu yang akan memperkuat pondasi rumah kami hingga anak-anak kami kelak merasa nyaman berada di dalamnya. Kalaupun saat ini apa yang ada masih terasa samar, aku berharap kami bisa melaluinya bersama, dan selalu bersama. 

Aku ingin meresapkan kata "BERTIGA, BERSAMA" jauh ke dalam relung hatiku. Hingga setiap sel dalam tubuhku tahu apa yang akan kulakukan. Hingga hatiku tau apa yang semestinya kupikirkan. Aku tak ingin larut dalam fikiran buruk tentang segala yang negatif, sungguh aku ingin berfikir positif. Aku ingin tidak selalu melihat langit, tapi ku ingin selalu melihat kerikil terdekat yang mungkin akan membuatku jatuh. Aku ingin menghindarinya, dan kalaupun aku terpaksa jatuh, aku percaya akan ada tangan yang menggenggamku erat dan mengajakku bangkit. 

Sungguh aku manusia yang hanya menuruti perputaran nasib, dan tentu aku tak tahu kemana angin dunia meniupku dan menghembusnya. Tapi kupercaya, jalan akan selalu ada selama aku tak berputus asa. Aku juga yakin tentang kata hati yang teruap secara spontan, teriring di setiap detakan nadi, dan itu adalah sebenar-benarnya pengharapan yang jujur.. "bersama"

4 komentar:

rizka said...

kereennn bu... jadi pengen cepet-cepet nih

shanti dwita said...

hahaha... jadi cuman mau ngomong ginian dowang tohh..

Sungguh engkau teman sejatiku cintaa

rizka said...

emberan cyyiiintt..

shanti dwita said...

jemuran deterjen sabun colek deh yeeeiii

Post a Comment