Tuesday, August 17, 2010 By: shanti dwita

Menelusuri Sungai Musi

Sudah hampir dua tahun saya tinggal di Palembang, sebuah kota sungai yang ada di selatan swarna dwipha. Swarna dwipha adalah salah satu julukan bagi pulau Sumatera yang diambil dari bahasa sanskerta bermakna pulau emas (island of gold). Dua tahun bermukim bukan berarti saya paham betul tentang seluk beluk kota ini, karena kenyataannya saya lebih banyak menjawab tidak tahu jika orang menanyakan nama jalan pada saya. Hingga datang sebuah ide untuk berpura-pura menjadi wisatawan lokal mengamati jembatan ampera dan sungai musi yang menjadi jantung kehidupan sebagian besar warga yang hidup di tepiannya.

Jembatan Ampera dibangun pada era presiden pertama RI, Bung Karno. Menghubungkan daerah 7 ulu yang berada di sebelah timur dan 16 ilir yang berada di sebelah barat, jembatan ini benar-benar menjadi ikon kota Palembang. Bagi wisatawan yang ingin berbelanja souvenir khas Palembang, pasar 16 ilir menjadi  tempat yang wajib untuk dikunjungi. Beraneka macam batik dengan corak jajargenjang khas palembang, perhiasan emas dan juga songket ada di sini. Bicara tentang emas, saya punya anggapan sendiri kalau kaum perempuan di daerah ini gemar dengan perhiasan emas (ataupun bersepuh emas) yang berukuran besar serta penuh detail. Demikian juga halnya dengan tradisi wanita mengenakan songket pada acara-acara adat. Songket yang dipakai bukan hanya sekedar kain khas yang kaya nilai historis, namun juga menjadi simbol prestisius mengingat songket yang terbuat dari tenunan sutra bersulam emas, harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Wah, saya terbayang betapa banyaknya pundi rupiah yang harus dikeluarkan mempelai pria untuk melamar seorang gadis palembang yang doyan cincin emas serta mengoleksi songket.

                                               malam hari di jembatan ampera

Kembali ke cerita plesir saya menyusuri sungai musi. Di areal jembatan Ampera terdapat beberapa bangunan yang katakanlah 'penting' untuk dikunjungi para wisatawan, Selain pasar 16 ilir, ada juga Benteng Kuto Besak, Museum Sultan Mahmud Badaruddin serta Masjid Agung berarsitektur indah yang selalu ramai dengan jamaah yang hendak menunaikan shalat lima waktu.

                                                           benteng kuto besak

Bangunan-bangunan ini keseluruhannya berumur lanjut, namun masih tetap berdiri apik dan kokoh hingga kini. Seolah tidak pernah sepi, hingga larut malam pun kawasan Ampera masih dikunjungi banyak orang yang datang kesana dengan berbagai keperluan. Ada yang hendak mengambil gambar berlatar jembatan Ampera yang tampak megah dengan kilau lampu berwarna-warni, ada juga yang membawa keluarga menikmati aneka kuliner dari yang bertaraf kaki lima hingga bintang lima. Ya, di malam hari, warung makan terapung digelar di beberapa perahu berukuran tidak terlalu besar seolah ingin memberikan tempat bagi warga yang ingin mendapatkan sensasi makan di atas sungai musi namun tidak mampu membayar mahalnya hidangan di Riverside, sebuat tempat makan bonafit dengan konsep restauran terapung.

Pemandangan malam hari yang istimewa juga ada di areal masjid Agung saat air mancur dihidupkan lengkap dengan warna lampu-lampu hias yang didominasi hijau terang. Sayang saya tak sempat mengambil fotonya karena lokasinya jauh dari areal parkir Benteng Kuto Besak.

Saat cuaca cerah di pagi hingga sore hari, perahu-perahu kecil yang lazim disebut getek di sandarkan di depan benteng dan juga di sebelah timur pasar 16 ilir. Perahu kecil ini melayani rute kemanapun sekehendak penumpang yang memintanya. Siang itu saya berencana mengunjungi kembali Pulau Kamaro yang memakan waktu sekitar 30 menit perjalanan menggunakan perahu motor. Tarif yang harus dibayar tergantung pada keahlian tawar menawar dengan pemilik perahu. Saat itu saya membayar Rp.80.000 untuk sewa satu perahu pulang pergi. Jika membeli tiket di loket khusus, harga termurah adalah Rp. 15.000 per orang dengan perahu biasa (kapastitas 15-20 orang) dan jika ingin mencoba kapal wisata Putri Kembang Dadar kocek yang harus dirogoh berkisar Rp. 80.000.  
  
Perjalanan 30 menit itu saya lewatkan dengan mengambil gambar di sisi-sisi perahu, mengamati lalu lintas sungai yang padat dan kehidupan masyarakat tepi sungai yang nyatanya memang menggunakan air kecoklatan dari sungai musi untuk mandi dan mencuci. Selintas memang terbayang beribu hingga berjuta bakteri yang ada di setiap milliliter air sungai yang mereka pakai itu, tapi melihat kenyataan bahwa mereka semua baik-baik saja, saya jadi enggan mempermasalahkannya. Mendekati Pulau Kamaro, saya melihat banyak sekali kapal-kapal besar yang bersandar di sekitar kawasan PT. Pusri, dan dari situ saya bias menyimpulkan bahwa sungai musi ini cukup dalam hingga bisa mengapungkan kapal bertonase besar seperti itu.
                                                               naik perahu

Sampai di Pulau Kamaro saya pun menjejakkan kaki di galangan kapal kecil yang berwarna merah layaknya warna dominan pada arsitektur China. Pulau Kamaro ini memang utamanya berisi kuil yang didalamnya terdapat makam serta sebuah pagoda dengan ketinggian sekitar 30 meter. Membaca di batu yang bertuliskan “LEGENDA PULAU KAMARO” saya jadi mengetahui asal-usul pulau ini. Konon ada saudagar yang membuang guci-guci pemberian orang tuanya ke dalam sungai karena mengira isinya adalah sawi asin dan sontak menceburkan diri ke sungai setelah tahu bahwa guci yang dibuangnya berisi perhiasan emas. Istri sang saudagar yang cemas mendapati suaminya tak muncul-muncul pun seketika ikut melompat ke dalam sungai. Untuk mengenang hal tersebut, dibangunlah kuil persembahyangan di Pulau Kamaro yang pada saat saya datangi, kuil ini sedang dalam tahap renovasi.

                                                          darmaga pulau kamaro

                                                           singa penjaga pagoda
                                                                    pagoda

2 komentar:

shanti said...

gambarnya koq ga masuk ya. Anyone can help?

Nayarini said...

masuk koq foto2nya :-) mungkin kalo koneksinya lambat, donlotnya failed jd ga keliatan hehe...dah telat nih ya kayaknya komennya :-p

Post a Comment