Sunday, August 22, 2010 By: shanti dwita

berburu beasiswa ke luar negeri

Hampir semua orang mungkin pernah bercita-cita untuk melanjutkan studi ke luar negeri dengan berbagai pertimbangan. Ingin berinteraksi dengan manusia lain yang berbeda kultur mungkin, merasakan dingin dan putihnya salju yang memang hanya ada di daerah berlintang tinggi, menjajaki jalanan padat bersama orang-orang asing dan bersendau gurau bersama mereka, hingga yang memang benar-benar ingin mendapatkan kualitas pendidikan dan dukungan prasarana kelas satu yang saat ini ditawarkan oleh peringkat-peringkat universitas terbaik di dunia seperti Harvard, Oxford dan Cambridge.

Saya mengalami sendiri keinginan itu dan walau sedikit terlambat saya pun mulai rajin mendatangi situs-situs resmi universitas ternama di berbagai negara dan mulai menelaah kriteria macam apa yang diminta universitas tersebut untuk seorang mahasiswa internasional. Mengapa saya katakan terlambat? Saya terperangah ketika mengetahui sebagian besar penerima beasiswa Erasmus Mundus adalah anak-anak muda yang benar-benar baru menyelesaikan studi S1-nya, bahkan ada yang belum diwisuda. Hey, kemanakah saya selama di bangku sarjana dulu? kenapa tak pernah terpikirkan tentang hal itu?

Well, ada dua point dari paragraf diatas yang perlu saya garis bawahi. Pertama, setelah keinginan itu ada, mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai program yang diinginkan adalah yang utama. Point kedua, menguatkan tekad dan membisiki pikiran kita dengan keyakinan "saya pasti bisa" akan membuat kita lebih bersemangat. Bukankan dalam setiap keyakinan itu ada doa yang tersirat?

Setiap universitas yang sudah saya kunjungi situsnya mayoritas mensyaratkan kemampuan berbahasa asing sesuai dengan pengantar yang digunakan dalam program. Untuk program dengan pengantar berbahasa Inggris, dokumen yang diperlukan untuk menunjukkan profisisensi adalah TOEFL IBT (Internet Based TOEFL) dengan nilai diatas 85, IELTS dengan skor minimum 6,5 atau dengan TOEFL tertulis dengan skor sekitar 550.Untuk mendapatkan sertifikat internasional TOEFL/IELTS, biaya yang dikeluarkan untuk ujian berkisar $150 hingga $180. Sedangkan untuk sertifikat institusional biaya yang dikeluarkan sekitar Rp.350.000. Namun perlu diingat, tidak semua universitas menerima sertifikat institusional ini.


Jika ditanya, lebih mudah mana soal-soal IELTS atau TOEFL IBT, saya akan jawab IELTS. Ujian ini memang menyentuh semua aspek kebahasaan, mulai dari menulis, mendengar, berbicara dan juga membaca. Semua jawaban soal ditulis dengan tangan layaknya ujian di sekolah. Oleh karena itu, perlu dipastikan spelling setiap huruf dalam satu kata tidak boleh salah, karena salah tulisan, salah juga jawabannya. Nah! Dalam ujian kemampuan bicara (speaking), seorang native speaker akan dikerahkan untuk mengajak kita bicara tentang 3 topik selama paling tidak 15 menit. Dua hal itu yang menurut saya berbeda dengan TOEFL IBT.

Konsep TOEFL IBT pada dasarnya sama dengan TOEFL terdahulu, namun diperbarui dengan adanya sesi speaking serta writing yang cukup kompleks. Jika di IELTS kita dihadapkan dengan seorang native speker, di TOEFL IBT kita wajib berbicara saat komputer memerintahkan kita bicara setelah nada "beep". Jika setelah nada "beep" berbunyi dan kita masih bingung dengan apa yang akan kita katakan, maka yang terekam dalam komputer adalah suara hening, dan suara itu juga yang akan dikirimkan ke pusat TOEFL di New Jersey Amerika sebagai jawaban kita atas soal tersebut. Dalam ujian writing di TOEFL IBT, di salah satu sesi peserta ujian akan diperdengarkan suara percakapan panjang dalam kurun waktu tertentu. Setelah rekaman percakapan dimatikan, peserta diminta untuk menuliskan kembali apa yang ia dengar dengan parafrase yang berbeda.

Jika merasa belum yakin dengan kemampuan bahasa asing yang kita miliki, jangan khawatir. Banyak institusi pendidikan yang menyediakan jasa tersebut. Saya pribadi, berdasarkan saran dari senior saya di kampus  yang telah terlebih dahulu terbang ke Belanda, akhirnya memilih IALF (Indonesia Australia Language Foundation) sebagai tempat untuk menyegarkan kembali ingatan saya tentang bahasa Inggris. Saya merasa bahasa Inggris saya tidak terlalu baik karena memang sangat amat jarang digunakan dan terakhir kali saya belajar adalah saat saya duduk di bangku SMA. Biaya yang mesti dikeluarkan memang sesuai dengan fasilitas yang diberikan. Untuk 50 jam belajar saya mengeluarkan Rp. 3.500.000 . Fasilitas apa yang didapatkan? Ruang belajar yang nyaman, guru native speaker, resource center (perpustakaan) yang buka senin-sabtu dan berisi semua hal yang bisa menunjang kemampuan siswanya dalam berbahasa Inggris seperti TV kabel, internet, audio CD, buku-buku, kamus, soal-soal IELTS dan masih banyak lagi sarana belajar lainnya yang lupa saya sebutkan. Oya, selain menyediakan IELTS Preparation Course, IALF juga menjadi tempat 'diklat' bagi penerima beasiswa ADS (Australian Development Scholarships) yang akan diberangkatkan ke Australia di tahun ajaran berikutnya dan juga menjadi tempat penyelenggara ujian resmi IELTS di Indonesia selain IDP.
Saat itu guru yang mengajar di kelas saya adalah David Cosslett (sorry David if I misspell your name here) seorang expat dari Wales yang mungkin telah 20 tahun lebih tinggal di Indonesia. Pertama mendengarnya berbicara saya dan semua teman agak bingung dengan logatnya, namun kemudian kami semua terbiasa dengan hal itu. Bicara tentang logat dalam bahasa Inggris, tentu logat Amerika yang paling nyaman untuk didengar dan dipahami, sedangkan untuk Australia, New Zealand dan juga Inggris sendiri saya mengakui kalau hal itu agak sulit. Mungkin hal itu juga merupakan pengaruh dari  seringnya saya menonton film dan serial TV made in America dibanding negara-negara berbahasa Inggris lainnya.

Sedikit tips bagi yang hendak mengikuti ujian IELTS. Meminjam istilah dosen statistika saya saat di bangku sarjana dulu, "BANYAK dan SERING". Banyak berlatih soal dan sering mengulangi! Good luck!

2 komentar:

nurul silva said...

Shan, biaya di IALF tuh udah termasuk biaya ujiannya ya? bisa milih ga, ambil TOEFL atau IELTS? 50 jam itu biasanya berapa bulan? Hasilnya terjamin bisa dapet skor IELTS 6.5?

He... maap, nanyanya banyak ya gw :)

Anis said...

jadi semangat baca tulisan ini..

Post a Comment