Sunday, February 27, 2011 0 komentar By: shanti dwita

mengenang Bapak


Tempat pertama yang saya datangi begitu menginjakkan kaki di Bandar Lampung  adalah makam Bapak. Saya tidak pulang ke rumah, masih dengan sepatu kets juga jaket tebal yang akhirnya saya tanggalkan, saya menuju kesana. Melihat makam merah dengan bunga-bunga bertebaran dan pasak kayu yang bertuliskan nama Bapak, saya merasa begitu terlambat. Saya tidak pernah lagi melihat Bapak setelah 31 Agustus jam 2 siang saat saya meninggalkan Cempaka Putih menuju Cengkareng dan kemudian terbang ke Belgia. Saat itu Bapak tidak ikut mengantar, karena baru pulang dari kemoterapi yang kesekian kalinya di RSCM. Saya masih ingat kaos yang dipakai Bapak hari itu, polo shirt putih dengan stripes abu-abu dan tidak pernah menyangka bahwa itu kali terakhir saya mencium tangan Bapak. Ada perasaan yang tak tergambar saat melihat kayu dengan nama Bapak yang terpahat disana, seolah memaksa saya untuk sadar bahwa bapak telah pergi, pindah ke alam lain yang lebih abadi. Meski hingga sekarang saya merasa Bapak masih ada, karena saya memamng tidak pernah meliat Beliau koma di rumah sakit, tidak melihat bagaimana beliau wafat, dan tidak mengantarkan saat beliau diberangkatkan ke tempat peraduannya yang terakhir. Saya hanya mendengar dari ibu mertua saya kalau wajah Bapak bersih saat berpulang, dan saya tidak bisa membayangkan bagaimana wajah bersih itu, karena di angan saya, hanya ada wajah Bapak semasa Beliau hidup. 


Mengenang beliau seperti nostalgia. 22 Februari 2011 semestinya menjadi hari ulang tahun beliau yang ke 62. Saya tidak pernah melakukan apa-apa di 22 Februari, hanya ingat, ketika 22 Februari 2006 saya diwisuda di IPB dan didaulat untuk memperikan kata sambutan mewakili wisudawan di auditorium FPIK, saya bilang, kelulusan saya saya persembahkan untuk Bapak saya yang hari ini sedang berulang tahun. Mungkin itu hal manis yang sempat saya utarakan, diikuti tepuk tangan dari teman-teman yang ada disana. Harusnya, lebih banyak lagi hal baik yang saya lakukan untuk membanggakan hati Bapak, karena saya tau, dibalik diamnya, Bapak sangat memperhatikan anak-anaknya. Meski tidak pernah ada kata pujian untuk setiap keberhasilan kecil yang saya buat di bangku sekolah, tapi saya tau Bapak senang. Ingat saat saya mendapat hadiah di SD dulu karena nilai matematika di NEM saya mencapai batas atas, 10.00, Bapak dipanggil maju ke depan, bersama beberapa orang tua lain yang anaknya juga mendapat nilai 10.00, orang tua lain langsung mencium anaknya, tapi tidak dengan Bapak saya. Beliau santai saja, tapi saya yakin, beliau pasti bangga. 


Bapak saya, saat muda, suka makan enak. Dan entah kenapa, saya yang paling sering diajak saat makan diluar. Mulai dari makanan Padang hingga gulai dan tongseng, semua Beliau suka. Hobby makan ini juga yang akhirnya menurun ke saya, karena sejak kecil, saya selalu bersaing makan banyak dengan Bapak, dengan porsi yang sebesar porsi beliau. Hingga sekarang, semua teman yang kenal dekat dengan saya pasti tau kalau saya pemakan segala. Pernah saya dijuluki Recycle Bin sewaktu kuliah, karena daya tampung perut saya seolah unlimited untuk menampung kelebihan porsi di piring teman-teman saya. Ya, mungki sulit dipercaya, karena badan saya tidak besar untuk ukuran orang yang doyan makan. Namun sejak mendalami makanan di bangku kuliah, saya menjadi lebih selektif (kadang-kadang). Bertahun-tahun saya berusaha mengurangi gula, karena mbah putri saya (alm) menderita diabetes, dan konon, diabetes diturunkan ke generasi lanjut, meski hingga sekarang setiap saya memeriksa gula darah, hasilnya selalu normal, sekitar 80-90. Bapak saya juga, setahun terakhir dinyatakan mengidap diabetes, namun itu lebih sebagai efek samping dari rusaknya pancreas Bapak yang digerogoti kanker. Mbah putri saya pun akhirnya meninggal karena kanker nasofaring. Berdasarkan riwayat keluarga yang seperti itu, ibu saya meminta saya untuk berhati-hati memilih makanan. Namun saya tak takut, kalupun nantinya saya sakit, ya, itu sudah karena takdir, meskipun saya tetap menjaga agar saya tidak sakit. 


Nostalgia lain, ada, tentang catur, bulutangkis dan juga karate. Sejak kecil sudah tampak bahwa saya berbakat untuk tomboy. Suka memanjat pohon dan main di sawah dengan teman-teman kakak saya. Karenanya saat saya bertanya tentang ekskul apa yang akan saya pilih di SMP, Bapak bilang, saya ikut karate saja. Saya langsung diajak ke toko Sabang di Raden Intan, dibelikan baju karate. Saat teman-teman dekat saya yang ikut ekskul tari bersiap pulang ke rumah, saya sibuk disuruh lari keliling lapangan sepulang sekolah jam 4 sore untuk pemanasan sebelum latihan. Ah, tak ada teman dekat yang mau ikut karate, tapi, saya jalani juga ekskul itu selama setahun sebelum akhirnya saya bosan dan pindah ke ekskul lain. Saat ujian kenaikan tingkat di GOR wayhalim yang membuat kulit saya mengelupas karna terbakar matahari dari pagi hingga sore, bapak juga menunggui saya, meski tidak sepanjang hari. Setelah ujian itulah, saya menyatakan berhenti dari karate, saatnya belajar karena di kelas 2 SMP saya ditawari untuk ikut aktifitas yang lebih ilmiah dan nerdy.  Untuk catur dan bulutangkis, sejak SD bapak mengajari saya 2 olahraga ini. Saya sering tanding melawan Bapak dan menang, meski saya tau, Bapak pasti pura-pura kalah, tapi seringnya saya yang kalah dalam 2-3 langkah dan dipaksa memutar otak agar tidak kalah dan tidak salah dalam menggerakkan bidak catur. Saya suka dua olahraga ini, dan hingga sekarang, rasanya saya masih punya partner untuk berlatih, yaitu dengan suami saya. 


 Suami juga anak saya, sedikit-sedikit membawa perubahan di rumah Bapak yang sempat senyap, karena anak-anak Bapak tidak ada yang tinggal di Bandar Lampung. Dia suka mengobrol, Bapak juga suka mengobrol, meskipun dengan saya Beliau tidak membicarakan masalah politik, olahraga, bengkel, mobil, ikan dan hal-hal yang saya tidak paham. Dengan suami saya, Beliau mengobrol banyak, dan saya senang melihat Bapak tidak kesepian karena punya teman bicara. Anak saya Adis, sangat lengket dengan Bapak, selalu ingin pergi dengan Bapak, tidur dengan Bapak. Semuanya. Ke bengkel, ke bank, ke sekolah, bahkan saat bapak belum pensiun, Adis sering diajak Bapak ke tempat kerjanya. Hingga akhirnya penghujung 2009, bapak sakit dan lebih sering berada di Jakarta untuk berobat. Adis mulai terbiasa dengan ketiadaan yang kung-nya. Hal menyedihkan yang saya dengar adalah, saat Bapak wafat, dan Adis mulai tahu apa artinya meninggal, Adis berkata “Ayah, kenapa dokter di Jakarta jahat, Yang kung meninggal, nggak kaya dokter di Lampung yang baik”. Mungkin si kecil itu berfikir, selama Bapak keluar masuk RS di Lampung, Bapak selalu pulang, namun saat di rawat di Jakarta, Bapak tidak pulang lagi. Adis kecil ikut berjalan kaki mengantarkan jasad bapak ke pemakaman. Sepulang dari pemakaman, menurut cerita ibu mertua saya, Adis menatap kamar bapak, dan bilang kalau ia mau tidur disana. Ada dialog yang saya lupa namun seingat saya, ibu bilang, perkataan Adis sepulang dari pemakaman membuat orang yang mendengarnya terenyuh. 


Di ruang sholat, saya masih melihat koper Bapak yang baru di pakai saat menunaikan ibadah haji di penghujung 2010. Ada baju putih yang sengaja di beli seragam dengan Adis sebagai oleh-oleh dari tanah suci. Rencananya, baju yang kembar itu akan mereka pakai saat pergi Jumatan, karena Adis memang sering diajak Bapak ke Masjid setiap Jumat. Namun rencana tinggallah rencana, baju puti milik Bapak tidak pernah terpakai karena sepulang haji, kondisi Bapak drop setelah melewatkan rangkaian kemoterapi selama beberapa bulan. Melaksanakan ibadah haji untuk seorang dengan kanker stadium 4 adalah berkah dari Allah, dan selama beberapa bulan, Bapak lebih merelakan kemoterapinya terputus daripada membuang kesempatan untuk menunda berhaji tahun lalu. Dan keputusan itu memang benar adanya, karena umur Beliau memang tidak pernah sampai untuk musim haji 2011.
Saturday, February 26, 2011 5 komentar By: shanti dwita

6 Februari 2011


Perjalanan panjang Brussels-Jakarta 6-7 februari belum lagi selesai. Saya duduk di kursi besi bandara soekarno hatta, menunggu pagi tiba, saat pesawat yang akan membawa saya ke Bandar Lampung dijadwalkan terbang. Cemas pasti saya rasakan, ini kali pertama saya tidur di bandara di Indonesia, sebelumnya saya tidur di Charleroi, Belgia dan aman, karena memang bandara itu hidup 24 jam. Terpikir betapa was-wasnya tidur di sini, tapi saya tak punya pilihan lain. Pesawat SQ966 yang membawa saya dari Changi, Singapura, baru landing jam 8 malam. Saya cek di counter Garuda, pesawat ke Bandar Lampung terakhir terbang jam 5 sore. Sambil menunggu pagi, saya membuka laptop dan mulai mengingat apa yang saya alami hingga saya kembali pulang menghirup udara di tanah air.

Minggu 6 februari cuaca gent lumayan hangat, 10 derajat, bukan -4 seperti hari-hari sebelumnya. Saya terbangun jam 5 pagi, saat alarm berbunyi menyuruh saya bangun. Agak blank karena saya baru tidur jam 3, hanya 2 jam, itu pun bukan karena saya mengantuk, namun lebih untuk menjaga kondisi agar tidak tumbang, karena saya tahu, saya harus terus terjaga sepanjang hari untuk menyelesaikan paper juga presentasi, sekaligus belajar untuk ujian dadakan di hari Senin, sesuai rencana saya. Saya memang berniat pulang Selasa pagi, setelah berhari-hari menangis sendirian di kamar membayangkan Bapak yang kondisinya semakin memburuk di Cipto.

Kepanikan itu dimulai Jumat siang CET (central Europe time), sepulang kuliah. Seperti biasa saya menelfon suami, anak, ibu dan bapak saya untuk menanyakan kabar. Tapi sore itu, ponsel ibu juga bapak tidak bisa dihubungi, akhirnya saya hanya mendengar berita dari suami, kalau siang tadi dengan nada panik ibu saya menelfon bu nuning, ibu mertua saya, minta ditemani karena nafas Bapak tersendat. Saya yang sudah seumur hidup menjadi anak ibu tentu tahu kalau ibu saya yang tenang dan tegar, tak akan pernah tergetar suaranya, jika tidak dalam kondisi benar-benar takut. Entah kenapa saya benar-benar merasa sakit dan tak henti menangis saat mendengar ibu saya cemas. Ini pasti sesuatu yang besar, ini bukan hal biasa yang bisa saya kesampingkan. Saya shock, karena paginya (tengah malam CET), saya masih bicara dengan Bapak, meskipun di setiap pembicaraan suara saya selalu bergetar dan mata saya selalu basah, berkata bahwa Bapak pasti akan sembuh dan berkumpul lagi dengan saya di rumah, seselesainya saya dari kuliah di Eropa. Jumat itu rasanya air mata saya hampir habis, hingga saya tidur dan bangun dengan mata bengkak di Sabtu dini hari. Saya sadar bahwa saya harus pulang. Untuk bisa pulang, tentunya saya harus segera mengerjakan semua tugas yang deadlinenya masih 9 hari kedepan, menghubungi Prof. Paelinck agar saya bisa ujian di hari Senin, bukan di hari Kamis seperti yang telah dijadwalkan, juga menyelesaikan presentasi  tentang meat tenderization.

Sabtu dini hari CET, pagi waktu Indonesia, Bapak sedang sarapan, tidak mau bicara dengan saya, masuk akal, karena mungkin Beliau tidak mau mendengar saya menangis sesenggukan di telfon, ah, saya menyesal menjadi anak yang begitu cengeng. Tapi saya cukup tenang karena ibu bilang, pagi itu Bapak terlihat lebih baik dari kemarin. Saya pun tenang mengerjakan tugas dan mendoktrin otak saya dengan kata-kata “HARUS SELESAI”. Saya tidak tidur, masih di depan netbook, hingga malam, sambil terus berkontak dengan keluarga, juga sambil membaca jurnal, mengetik paper, menyunting, mengedit..aaahh…otak saya panas, namun, ya… HARUS SELESAI. Sekitar Isya CET, Mas Aji, kakak saya mengirimkan pesan lewat sms, minta saya berdoa karena Bapak demam tinggi dan tidak sadarkan diri, harus segera dipindahkan ke ICU. Saya benar-benar panik dan minta suami saya untuk segera berangkat ke Jakarta dini hari itu juga. Disaat yang sama, saya juga segera menghubungi Prof. Paelinck via email, berkata bahwa saya ingin ujian Senin pagi, hingga Selasa-nya saya bisa pulang ke Indonesia untuk menengok Bapak. Saya begadang malam itu, teman-teman di flat yang tahu kondisi saya ikut menemani juga menenangkan, mereka berkata, Bapak akan baik-baik saja. Jam 1 pagi CET, 7 pagi di Indonesia, saya bicara dengan Ibu saya, suaranya tenang, menyarankan saya sholat, berdoa dan membaca Yasin.. tangis saya pun berhenti mendengar suara Ibu yang tenang, saya percaya Bapak akan membaik lagi pagi ini, saya bilang pada Ibu saya, Bapak harus tunggu saya, saya akan pulang hari Selasa dan menengok Bapak. Saya kemudian kembali mengerjakan tugas hingga jam 3 pagi CET (9 pagi WIB), saat saya sadar, saya belum tidur seketika-pun selama 22 jam terakhir.. Saya pun berusaha menutup mata sebentar, hingga beberapa menit kemudian saya benar-benar terlelap..

RS. Cipto Mangunkusumo, cerita ibu dan ibu nuning
Sebenarnya sejak hari Kamis, Bapak sudah minta pulang ke Lampung. Tidak ingin pindah ke RSUP. Sardjito di Jogja yang hampir selengkap RSCM  dan dikelilingi keluarga dekat, hanya ingin pulang ke Lampung, karena disanalah rumah Bapak. Ibu, suami saya, dan mas saya bilang, Iya, Bapak boleh pulang ke Lampung kalau sudah bisa duduk. Mata saya berkaca-kaca saat ibu nuning bilang, melihat Bapak berjuang keras di tempat tidurnya untuk bisa duduk, demi bisa pulang ke Lampung. Ahh, sebegitu besarnya keinginan untuk pulang, hingga suami saya selalu menenangkan saya saat saya cemas dan takut “Bapak pasti sembuh yang, kamu ngga usah takut, keinginan sembuh Bapak itu masih besar”, katanya. Dan suami saya  memang benar-benar meresapi kalimatnya sendiri, dia begitu optimistis, seoptimis saat dia menyetir Lampung-Jakarta mengantarkan Bapak untuk dirawat di Cipto pertengahan Januari saat beliau mengeluhkan pinggang dan lehernya yang sakit. Dia fikir, Bapak pasti akan pulang, seperti kunjungan rawat inap sebelum-sebelumnya. Begitu optimis, sehingga ia selalu bilang ke ibu saya, ia akan datang, menjemput Bapak dan pulang ke  Lampung.

Sabtu pagi, selesai sarapan, suami saya menelfon Bapak (setelah sebelumnya saya menelfon dari Belgia tapi bapak tidak bicara). Ibu nuning bilang, suara Bapak lantang saat bicara dengan Adis, sama sekali tidak terdengar lemah. Adis bertanya “Eyang kung udah makan? Makan yang banyak ya yang kung..”“Sudah, Tatam (panggilan Bapak untuk Adis) juga makan yang banyak ya, biar sehat..” kata Bapak.. Makin lama suara Bapak makin lemah, dan ponsel itu pun diletakkan begitu saja di meja, mungkin semua tenaga beliau sudah dipakai untuk bicara dengan Adis di telefon.. Sejak itu, Bapak tidak bicara banyak. Adis orang terakhir yang diajak bicara dengan jelas sama Bapak.

Sabtu malam, Bapak panas tinggi dan nafasnya tersendat. Kanker pancreas yang diderita bapak telah menyebar ke tulang, hingga beliau tidak bisa duduk di tempat tidur selama seminggu terakhir, dan sejak Jumat, paru-paru Bapak sudah mulai terinfeksi dan dipenuhi cairan. Ibu dengan sabar mengompres Bapak yang malam itu demam tinggi. Dokter menyarankan Bapak dipindah ke ICU, namun ICU di Cipto penuh, hingga harus mencari opsi ke rumah sakit lain di Jakarta. Sementara, semua peralatan yang diperlukan dipindahkan ke ruangan Bapak di kelas 1, namun tidak ada ventilator. Untuk membantu pernafasan, digunakan bulb yang saya sendiri tidak tau bagaimana bentuknya. Sepanjang malam, Ibu dan Mas saya bergantian mengoperasikan bulb untuk membantu nafas Bapak. Bapak tidak juga sadarkan diri hingga pagi, dan dokter pun memanggil Ibu dan Mas Aji, sememntara bu nuning menggantikan memompa nafas Bapak. Dokter berkata, semua keputusan ada di tangan keluarga, apakah Bapak akan terus “dipaksa” bertahan dengan bantuan alat, atau diikhlaskan sesuai kemampuan fisik Bapak, karena memang sudah tidak ada peluang untuk membaik. Bu nuning yang tengah memompa nafas Bapak melihat Ibu dan Mas Aji menangis setelah bicara dengan dokter, tanpa tahu apa-apa. Ia terus memompa hingga dokter mendekat dan mulai melepaskan semua alat yang menempel di tubuh Bapak. Dan saat itulah, Minggu jam 9 pagi WIB, 3 dini hari CET, Bapak berulang ke Rahmatullah, benar-benar di saat yang sama ketika saya menutup mata untuk tidur sejenak di kamar kost saya di Gasmeterlaan.

Jam 5 pagi saya bangun dengan sejumlah pesan muncul di layar netbook saya yang masih menyala, dari suami saya yang intinya, saya harus segera pulang. Belum sempat membaca semua pesan, ia pun menelfon, hati saya menduga-duga sepanjang pembicaraan, hingga akhirnya tangisnya pecah dan berkata bahwa Bapak sudah nggak ada. Hati saya pilu, lalu berubah seperti mati rasa dengan otak yang kosong. Ia dalam perjalanan pulang kembali ke Lampung untuk menyiapkan pemakaman Bapak, berdua dengan Adis. Mobil yang ia bawa dengan niat menjemput Bapak yang memang ingin pulang ke Lampung, akhirnya pulang tanpa membawa apa-apa. Keoptimisannya buyar, angan-angannya sebatas khayalan, Bapak tidak pernah pulang kembali ke rumah.
Saya menelfon ibu saya, menangis, ibu saya suaranya tetap tenang. Tidak meminta saya pulang sama sekali, hanya minta saya untuk berdoa dan mengatakan kalau Bapak sudah ada di tempat yang terbaik di sana. Seperti inikah harusnya menjadi sosok ibu, berusaha tegar dan menenangkan tangis anak-anaknya? Saya tak yakin kalau saya mampu begitu. Kelamaan, saya merasa ibu saya tak tahan mendengarkan saya menangis, lalu ia berkata, “mau ngomong sama bu nuning?” tapi saya dengar ibu nuning juga nggak mau bicara dengan saya. Akhirnya pembicaraan terputus. Benar kata suami saya, sekuat dan setegar-tegarnya ibu saya, jika didengarkan pada tangis anaknya, ia akan kembali rapuh. Maka ia minta saya untuk tak lagi menangis di depan ibu saya, kelak ketika saya tiba di Indonesia.

Hari minggu itu, saya kembali ke Indonesia. Saya diantar oleh Sajid dan Dwi hingga ke Brussels airport, hingga saya tak punya waktu untuk menangis di jalan, meskipun di kereta air mata saya beberapa kali menetes meski sudah saya tahan sebisa mungkin. Perjalanan panjang yang menguras airmata, saya tak peduli dengan teman sebangku yang melihat saya menangis menghadap keluar jendela Lufthansa yang membawa saya terbang dari Brussels menuju Frankfurt. Juga tidak peduli keramaian saat mata saya kembali basah di Terminal 2 Changi airport. Saya hanya merasa terlalu sedih, karena tidak akan pernah lagi melihat Bapak. Bapak sudah dimakamkan Senin pagi, di saat yang sama saya berada ribuan meter diatas langit Turki. hati saya miris saat melihat layar navigasi di SQ yang menunjukkan peta Asia Tenggara dengan warna terang sedangkan belahan bumi Eropa dengan warna gelap. Sudah pagi di Indonesia, Bapak pasti sudah diberangkatkan. Saya sadar, saya tidak perlu ditunggu untuk apapun. Bapak tidak perlu menunggu untuk dimakamkan, Malaikat tidak perlu menunggu saya hingga hari Rabu atau Kamis untuk memanggil Bapak kembali pada Allah, juga tidak perlu menunggu hingga saya pulang membawa gelar MSc. Ini adalah moment terbaik, karena Bapak telah terlepas dari sakitnya, yang telah Beliau lalui bertahun-tahun dengan rasa sabar tanpa pernah merasa lelah, apalagi berkeluh kesah. Selamat jalan Bapak, saya tetap anak kesayangan Bapak dan akan tetap jadi anak kesayangan. Mohon maafkan semua kesalahan, saya yakin Bapak akan melihat dan mendengar saya dari alam sana.
Sunday, January 9, 2011 0 komentar By: shanti dwita

Madrid day 2

Seperti hari-hari sebelumnya dimana saya selalu bangun kepagian, jam setengah 8 saya sudah rapi dengan jaket semi kulit warna ungu serta ransel berisi payung untuk menjelajah Madrid. Prediksi cuaca untuk Minggu, 9 Januari, Madrid akan diguyur hujan dengan peluang presipitasi 80%. Benar-benar kepagian karena suasana masih lengang dan langit masih berwarna abu-abu kemerahan. Beberapa cafe, seperti Dunkin Coffee yang ada di sebelah hostel tempat saya menginap, sedang berbenah dan siap menyambut tamu yang akan mampir untuk segelas kopi hangat dan sepotong kue. Menyusuri San Jeronimo, menuju Sol metro station yang jaraknya hanya 100 meter, seorang pria Afrika menghampiri dan mengajak ngobrol saya meski sudah saya judesi setengah mati. Dia bertanya nama, dan menyebutkan namanya juga, Ï´m Billy¨. Bahasa Inggrisnya tidak lancar, mungkin dia hanya tau ¨what´s your name dan how are you doing¨karena dari tadi ia mengulang pertanyaan yang sama. Teringat kejadian di Sacre couer, Paris, saat seorang Afrika mengajak ngobrol saya dan kemudian saya sadar dompet saya hilang, tentunya saya tak ingin hal ini terjadi lagi. Saya segera menghindar dan masuk ke area metro. Tujuan pertama saya adalah La Latina, tempat flea market yang sangat terkenal di Madrid, El Rastro yang buka setiap minggu dari jam 9 pagi sampai jam 2 siang. Saya melist-nya sebagai tujuan karena  El Rastro tertulis di buku rough guide in Spain yang saya baca di living room hostel. Saat saya tiba disana, beberapa pedagang masih membangun tenda, beberapa sudah siap, beberapa sedang memindahkan barang dagangannya dari mobil van dan menggelarnya di lapak. Suasana belum terlalu ramai, hanya ada beberapa calon pembeli kepagian yang datang kesana, termasuk saya. Beberapa turis dari Asia Timur yang khas dengan kulit putih dan mata sipitnya ada disana juga, mengambil gambar dengan kamera SLR. Hampir sama seperti flea market yang ada di Jatinegara, atau yang digelar di Pasar Cinde Palembang setiap minggu pagi, aneka barang bisa ditemukan disini, meski tidak semuanya bekas. Ada perabotan rumah tangga, barang-barang antik, buku kuno, komik2 dari zaman baheula, novel, bungan, sepatu, alat elektronik, pakaian, serta souvenir. Ada juga lapak pedagang kaos bola dan merchandise Real Madrid yang menjualnya dengan separuh harga. Kostum El Real, adidas asli dengan tag, made in vietnam, ditawarkan seharga 30an euro, tergantung ukuran. Saya jadi teringat teman SMA saya di Indonesia yang pingin sekali dapat oleh-oleh jersey klub sepakbola. Tapi pagi itu saya tidak membeli jersey, sowan saya di El rastro end up di lapak yang menjual souvenir khas Madrid. Seperti setiap kunjungan saya di kota-kota lain, saya selalu menyisihkan uang 7-8 euro untuk membeli piring yang bergambar landmark kota. Entah sudah berapa piring yang saya kumpulkan, dan rasanya saya tidak pernah bosan untuk terus membeli. Sebuah piring dengan lukisan matador plus bantengnya yang berwarna emas dengan latar biru tua serta sebuah banteng kecil warna-warni khas Gaudi saya beli dengan total harga 8euro. Muraaaaaahhh... karena di Barcelona untuk 1 piring serupa, saya membayar 10 euro.

Dari El Rastro, saya  naik metro ke Ventas, tempat arena bullfighting terbesar di Spanyol berada. Karena saya berkunjung di bulan Januari, otomatis tidak ada pertunjukan matador berbaju emas versus banteng. Pertunjukan itu digelar Maret-Oktober, saat spring-summer hingga awal autumn. Agak bimbang awalnya untuk membagi waktu, karena petugas di bagian tiketing bilang bahwa tour de Ventas yang berbahasa Inggris akan diadakan jam 11, sedangkan 10.30 waktu tur untuk wisatawan berbahasa Perancis. Akhirnya saya merelakan untuk tidak mengikuti walking tour mengelilingi pusat2 turisme Madrid yang diadakan di jam yang sama, di Plaza Mayor, landmark utama kota Madrid. Michel, nama guide yang akan membawa kami ber-9, memperkenalkan dirinya di awal tour. Sebenarnya hanya saya diantara  9 peserta tour yang berbahasa Inggris, namun karena judulnya tur ini ditujukan untuk wisatawan berbahasa Inggris, ia pun bersedia bekerja 2x, menerangkan dengan dwi bahasa, Spanyol dan Inggris.

Saturday, January 8, 2011 0 komentar By: shanti dwita

Madrid day 1

Dua bulan lalu saya tergiur promo Ryanair untuk penerbangan dari Porto-Madrid seharga 22euro return. Tanpa pikir panjang, saya pun minta tolong Johnny, teman EM dari Taiwan yang punya VISA card untuk membooking, meski belum tahu dengan siapa nantinya saya akan berangkat. Waktu berlalu, dan hari ini 8 Januari, saya harus terbang ke Madrid agar uang saya tidak melayang sia-sia seperti saat saya meng-cancel trip ke Milan saat winter holiday Desember kemarin. 

Hujan deras di Porto sejak seminggu belakangan awalnya menyurutkan niat saya untuk berangkat, tapi beberapa saat kemudian saya kemasi juga sepotong pakaian ganti, handuk juga peralatan mandi. Tiket juga bukti booking hostel sudah saya print Jumat sore di kampus, tidak ada alasan untuk tetap tinggal di kamar. Jam 1.30 siang waktu Porto, saya berangkat menuju Madrid. Diawali dengan menaiki metro dari Marques ke Trindade, lau berganti line ungu yang akan membawa saya ke airport. Hawa dingin dari hujan yang tak kunjung henti melelapkan saya sejenak diatas metro sebelum akhirnya saya memaksa membuka mata karena destinasi terakhir segera sampai. Setelah check-in, saya menunggu boarding di gate 14 sambil mengobrol dengan seorang gadis dari Korea yang berangkat ke Madrid berdua dengan temannya. Mendengar logat mereka berdua saat  bicara, saya ingat serial Korea terakhir yang saya tonton dan juga sangat saya gemari : ¨my fair lady¨. Aah, saya kangen nonton serial Korea lagi. Ingin rasanya segera pulang ke Belgia karena jatah internet per hari saya disana 1GB perhari, cukup untuk nonton serial Korea di mysoju.com sampai puas.

Tepat jam 15.55 ryanair mulai bergerak, tak butuh waktu lama, boeing 737-800 segera mengangkasa. Sedikit getaran saya rasakan saat pesawat menembus kumpulan awan tebal yang membuat Porto hujan seharian penuh. Semakin tinggi, semakin samar gumpalan awan putih seperti kapas yang tadinya saya lihat. Kembali, saya melanjutkan tidur yang terputus saat di metro tadi. Lima puluh lima menit waktu tempuh Porto-Madrid, seperti yang dikatakan pramugara Paolo, terlampaui. Pukul 6 local time saya tiba di Madrid-Barajas Airport, bandara utama di Madrid. Begitu besarnya hingga butuh waktu 15 menit untuk menemukan jalan keluar yang menghubungkan airport dengan metro station. Tiba di metro atau yang lazim disebut subway di Spanyol, saya membeli tiket untuk 10trips-10 viajes seharga 9,3euro plus 2 euro airport charge. Rencana saya untuk hari pertama di Madrid adalah mengikuti "end of season SALE" di pusat perbelanjaan di Fuencarral, Gran Via. Mengambil line berwarna pink menuju Nuevos Ministerios, berganti line biru tua ke Tribunal, dilanjutkan dengan line biru muda, saya pun berhenti di Gran Via.

Mengawali kegiatan hunting barang sale, saya menuju counter Bershka, membeli knitting wear warna biru seharga 8euro, lebih murah dibanding counter Bershka di Porto yang membandrol knitting sejenis dengan harga 13euro. Toko lain seperti Mango dan Zara juga saya singgahi. Counter Zara yang saya dengar memang berpusat di Madrid, terdiri dari 4 lantai plus basement. Counter sebesar itu pun tampak kurang besar saking banyaknya pengunjung yang sibuk berburu sale. Datang kesana di malam hari hanya mendatangkan keruwetan, karena semua barang sudah tidak berada di tempatnya. Di counter Mango, semua masih tertata rapi karena pelayan toko sigap merapikan. Ada beberapa items yang menbuat saya tertarik, terutama dompet seharga 20euro, yang sayang hanya tinggal satu-satunya dan dengan kondisi kurang prima. Sejak saya kecopetan di Sacre Coeur, Paris, saya belum sempat membeli dompet baru lagi, dan saat sale seperti inilah waktu yang tepat untuk mendapatkan ¨sarang¨ bagi receh2an saya. 

Dari Gran Via, sebenarnya saya cukup berjalan kaki 15 menit untuk sampai di Hostel One Sol, tempat saya akan menginap. Menyusuri Gran Via hingga Calhao, tempat counter swarovski berdiri di sudut jalan, mengambil jalan ke kiri, dan voila, saya tiba di Puerta del Sol. Jaringan supermarket El Corte Ingles, kalau di Indonesia mungkin seperti Metro Dept. Store, terbangun tegak dengan 7 lantai di sana. Mulai dari lantai satu, tempat aneka tas branded seperti Longchamp dan Burberry, make up serta parfum, hingga lantai 7 yang menggelar aneka produk olahraga dan beberapa kostum klub liga spanyol. Kostum  Adidas El Real made in Vietnam dengan tag aseli mrchandise Real madrid FC dijual seharga 71euro.

Cukup puas sightseeing, saya menuju hostel yang terletak di sebelah Dunkin coffee. Untuk sebuah kamar dorm dengan 8 roommates, saya membayar 33 euro untuk dua malam.
Wednesday, January 5, 2011 0 komentar By: shanti dwita

Wisata kuliner di Porto

Setelah sempat mencicipi Pasteis de Belem di Lisbon, saya pun merasa ketagihan dan berniat mencari duplikatnya di Porto. Juga demikian halnya dengan duplikat castanha bakar yang saya beli di sekitar Jeronimos Monastery, Belem. Castanha ini dengan chestnut, rasanya manis seperti ubi bakar cilembu. Oya, ngomong2 soal ubi, saya pernah satu kali mendapati tukang ubi bakar di Sevilla, Spanyol, lengkap dengan gerobak dan arang kayunya. Pedagang castanha bakar ini juga memakai gerobak dorong, meski tidak berkeliling dengan bunyi2an, mereka umumnya mangkal di jalanan yang ramai. Dengan uang 1 euro, di Belem saya bisa mendapatkan 6 butir chestnut bakar yang hangat.
Senin, 3 Januari 2011 menjadi hari pertama saya di Porto. Setelah mendapat paket peta serta buku panduan tentang Porto dari Isabel, relation officer di kampus UCP, saya dan teman saya Janani dari India pun menghabiskan sore dengan berjalan kaki mengelilingi Porto. Bukan hal yang menyenangkan, karena hampir sama dengan pengembaraan mencari kastil Mouros, perjalanan dengan Janani ini memakan waktu 5 jam. Gosh! Jam 3 sore kami berangkat, saya berencana menemaninya mencari sekolah bahasa yang menyelenggarakan kursus bahasa Portugis gratis untuk mahasiswa asing yang stay di Porto, dengan biaya dari departemen pendidikan Portugal. Sebelum berangkat dia bilang bahwa kira2 waktu tempuh dengan berjalan kaki adalah 55 menit "Is that okay for you, shanti?".. Yup, saya pun akhirnya berangkat. dengan dia Satu jam berlalu, belum juga ada tanda-tanda kami akan sampai, justru jalanan menyusuri Rua de Boavista  dilanjutkan dengan Avenue da Boavista terasa semakin panjang. Saya sempat berhenti sejenak di dekat Casa de Musica untuk membeli castanha bakar dan mulai menikmati lagi perjalanan. Sayang, castanha yang saya makan sama sekali tidak enak, beda jauh rasanya dengan yang saya beli di Belem. Harganya memang lebih murah, 1 euro 8 butir, tapi..uuuuuuhh.. ngga manis dan agak alot. 

castanha bakar

Selesai mengantar Janani dengan misinya, saya menyempatkan diri mampir di LIDL, membeli setengah kilo caldeirada bacalao, sekilo cumi besar (lulas limpas), juga Pollack fish stick. Selain sayur maniak, saya juga seafood addict, dan saya rasa di Portugal menemukan produk2 seafood bukan perkara sulit. Oya, bacalao yang saya beli tadi adalah ikan cod asin khas  Portugal. Sebagian bilang makanan ini khas Spanyol, bersama-sama dengan tapas, namun bagi saya sama saja. Intinya saya akan kembali belajar masak makanan Eropa selain pasta dan lasagna yang rasanya sudah saya kuasai di luar kepala.

Dari sekitar Boavista, kami menuju city center dengan menumpang bus dan berhenti di Bolhao. Rasa letih menggoda kami untuk mampir di Confeitaria do Bolhao, sebuah cafe dan restaurant  bernuansa hijau yang menyajikan aneka dessert khas Portugis. Saya tak memesan pasteis, karena hari itu saya sudah mencicipi pasteis de nata di sebuah cafe dekat Marques station tempat saya biasa menunggu metro. Rasanya juga tidak terlalu lezat, mungkin karena saya sudah mencicipi biangnya Pasteis di Belem. Di Confeitaria do Bolhao, saya memesan bola carne medium dan secangkir kopi susu. Bola carne ini semacam pastry tebal yang didalamnya berisi serpihan ikan pollack dan keju, rasanya tasty meskipun agak asin untuk lidah saya. Janani memilih Brazileiros plus secangkir cokelat putih panas yang sangat kental. Mencicipi sesendok Brazileiros milik Janani sudah cukup untuk saya memahami kelezatannya. Betapa tidak, cake ini dilapisi dengan peach jam dan dibalut coklat leleh yang membeku di luar. Rasa manisnya seolah memporak-porandakan diet gula yang dulu pernah saya angan-angankan. Entah mengapa sejak saya tinggal di Belgia, dan kini di Portugal, saya menjadi suka makanan manis yang full sukrosa, juga roti yang glikemik indeksnya cukup tinggi. 


Hari kedua di Porto, saya, Janani dan satu peserta culinary hunting lainnya, Rui dari China, kembali berjalan menyusuri pusat kota Porto dan berhenti di the Majestic cafe. Untuk sebuah cafe, Majestik termasuk yang punya nama. Terletak di Rua de Santa Catarina, cafe sekaligus restaurant ini menyuguhkan suasana yang begitu nyaman, dengan nuansa gold juga dentingan piano yang mengiramakan nada-nada romantis. Untuk makan malam disana dengan menu lengkap, mungkin uang yang harus kami keluarkan adalah 30e per orang karena untuk menu afternoon tea-nya saja harga yang tertulis di buku menu sekitar 17-18euro. Jadilah, kami memesan minuman serta cake saja. Cafe affegato with vanilla ice cream menjadi pilihan saya. Saat disajikan, penampilannya cukup unik karena diatas cangkir yang berisi separuh kopi affegato pahit, diletakkan satu scoop bulat ice cream vanila yang ditusuk seperti sate. Uap panas kopi akan melelehkan ice cream, dan meneteskannya ke dalam cangkir. Kopi affegatonya terasa sangat pahit, seperti halnya espresso, sedangkan vanilla ice cream-nya sempurna. Adalah ide bagus untuk segera mencelupkan es krim kedalam Affegato, mengaduknya jadi satu dan menenggaknya sekali habis. Dan itu benar-benar saya lakukan!!!

Selesai dengan Majestic cafe yang classy, saya menuju Centro Comercial Via catarina, pusat perbelanjaan yang disesaki brand ternama. Awal tahu bari seperti ini adalah saat yang tepat untuk belanja karena semua toko menggelar end of season- sale. Di Portogal, istilah sale dikenal dengan "SALDOS", dan saya pun mendapati bahwa di depan Massimo Duti, Zara, Mango, Esprit, H&M, Pull and Bear, the Body Shop dan seabrek toko lainnya, tulisan saldos 60% terpajang dengan warna merah menyala. Haaaah.. Sangat menggoda gairah belanja. Namun, bayangan tentang checked baggage untuk penerbangan  Ryanair Porto-Brussels yang tidak saya punya segera menyadarkan saya untuk tidak tergiur sale. 

So, kembali ke masalah makanan. Saya akhirnya memutuskan untuk makan di Surbias yang ada di lantai 4 mall. Memesan satu porsi Filetes Pescada, hampir-hampir sama dengan yang saya makan di Lisbon saat malam tahun baru. Bukan berarti saya setia setelah jatuh hati pada suatu hal, tapi terlebih pada masalah kehalalan. Lebih aman untuk memesan menu ikan2an bukan? Dalam piring saji ada kentang, nasi yang menyerupai nasi ketan bulat yang cukup oily, filet ikan berbalut telur yang di stir dengan minyak, salad, jeruk lemon serta buah zaitun. Lezat dan mengenyangkan :)