Showing posts with label jalan jalan eropa. Show all posts
Showing posts with label jalan jalan eropa. Show all posts
Wednesday, November 16, 2011 3 komentar By: shanti dwita

Berlin

Satu dari kota-kota di Eropa yang ingin sekali saya kunjungi adalah Berlin, selain Paris dan Roma. Rencana itu terwujud Sabtu pagi 12 November , saat saya menginjakkan kaki di ZOB messe nord bersama ketiga teman dari Gent.  Udara dingin menggeliatkan badan saya seolah terkena temperature-shock setelah 12 jam berada di bus yang cukup hangat, jelas hangat karena kaki saya saya jejakkan di heater bus selama perjalanan.  Memenuhi insting untuk menghangatkan diri, kami berempat menuju ruang tunggu terminal yang pagi itu sarat penumpang yang berdatangan dari berbagai kota di Eropa, mayoritas berasal dari Eropa Timur. Di depan saya duduk seorang ibu-ibu tua yang sama sekali tidak ramah, ia duduk di atas heater namun barang-barangnya dijejerkan di dua bangku kosong di sisi saya. Saat seorang teman hendak duduk, ia pun dengan bersungut-sungut  beranjak dari heater dan membereskan barangnya di satu kursi, lalu menduduki kursi lainnya. Walhasil, teman saya batal duduk di sebelah saya.  Perawakannya kecil, rambutnya panjang, hitam kemerahan, berkulit keriput, suara serak. Aihh…

Di sisi kiri, masih di depan saya,ada seorang backpackers dari Kanada yang wajahnya mirip Clark di serial Smallville a.k.a Superman. Dia juga tiduran di atas heater yang panjangnya sekitar 2 meter. Sungguh suhu dingin membuat semua orang ingin mendekat ke heater. Andaikata heater itu bisa dilipat, mungkin saya akan meletakkannya di saku dan membawanya kemanapun saya pergi. Yaa.. ini November, saat dimana suhu daratan Eropa (kecuali Spanyol dan Portugal) berkisar 0 sampai 5 derajat, bahkan bisa sampai minus 5 saat malam. Menarik mengikuti pembicaraan turis kanada dengan seorang pria dari Rumania yang ada di depannya,  juga ketika seorang pria Rumania lainnya membuka pembicaraan dengan ibu-ibu tua di depan saya tadi. Meski saya tidak tahu bahasa Rumania atau Jerman, saya bisa menangkap maksud pembicaraan mereka, karena seperti pemain-pemain bola di Lega Calcio yang sering menggunakan isyarat tangan, si ibu tadi juga banyak menggunakan tangannya untuk bicara. Ia dari Sophia, Bulgaria, dan saat itu sedang dalam misi menawarkan barang dagangannya ke lelaki Rumania yg tinggi besar..  Senang rasanya mendengarkan berbagai bahasa, sebenarnya saya ingin menambah kemampuan berbahasa saya, namun rasanya otak saya akan hang… rasanya cukup bagi saya untuk belajar bahasa jawa Kromo Inggil saja dan menurunkannya ke anak cucu, supaya bahasa daerah tercinta itu tidak punah termakan modernisasi.. Ah.. saatnya mencari orang yang bisa mengajari saya bahasa Jawa halus J

Setelah 2,5 jam berada di halte, kami memutuskan untuk menuju hostel, karena layanan hostel baru dimulai pukul 10 pagi. Di luar jendela, matahari hangat mulai memunculkan sosoknya. Alhamdulillah sekali karena menurut perkiraan cuaca, untuk tiga hari kedepan, matahari akan bersinar cerah, meski suhu dingin mencapai minus tidak mungkin bisa dihindari. Berbalut coat abu2 tua tebal, tanpa sarung tangan, saya berjalan menuju S-bahn station, dengan ransel berisi baju dan makanan untuk survive di Berlin. Dua halte terlewati sejak kami naik dari Messe Nord ICC, menumpang S42 menuju Halensee. Hostel die etage tempat kami akan menginap terletak tiga ratus meter dari stasiun suburban railway Halensee. Sebenarnya banyak hostel dengan rate kepuasan pelanggan diatas 90% yang ditawarkan berbagai website dengan lokasi yang lebih strategis, namun kami memilih hostel ini dengan pertimbangan harga murah, ada female dorm, juga ada dapur. Kejutan lainnya.. ada free towel dan juga free padlock and key untuk loker (Jadi teringat trip ke Stockholm saat saya harus membayar extra untuk bedsheet, padlock dan juga towel L--).

Oke.. urusan hostel selesai, saatnya petualangan Berlin dimulai. Dengan bermodalkan small group ticket seharga 15 euro per 24 jam untuk 5 orang, kami bebas berkeliling Berlin dengan menggunakan semua mode transportasi yang tersedia, mulai dari bis, tram, Underground metro (U-bahn) juga suburban railway (S-bahn).  Untuk itinerary hari pertama, kami berempat memutuskan untuk mengunjungi Postdam, 25 km di barat daya Berlin metropolitan. Sebagai tujuan wisata, Postdam disebut sebagai world heritage site terbesar di Jerman, dengan beberapa bagunan bersejarah berarsitektur rococo yang sempat dijadikan tempat tinggal  German’s royal family (Kerajaan Prussian/Borussia) di abad 18. Definisi tentang Postdam memang tak pernah salah, saya hany bisa berdecak kagum melihat bangunan-bangunan tua yang masih tegak berdiri dengan indahnya. Beberapa yang saya ingat adalah Bandenburger  Tor, gerbang besar yang hamper serupa dengan Brandenburger Tor besar di Berlin kota,  lengkap dengan one pointer clock yang berada di ujung jalan Brandenburger strasse. Saat kami duduk-duduk menghalau dingin sambil menikmati bekal (bekal saya 1 cheese burger, 1chicken burger McD, sebotol air putih juga pisang—langsung habis seketika—bahasa alaynya lapar sangadh), jam besar  berwarna keemasan itu berdenting, menunjukkan jam satu siang. Senagnyaa.. right time, right place!

Brandenburger Tor Postdam
One pointer Clock-- Postdam

Dingin semakin menusuk, entah suhu berapa yang jelas saya merasa menyesal sekali meninggalkan sarung tangan kulit saya di Belgie. Jari-jari serasa membeku dan tak ada pilihan lain selain mampir ke H&M, hunting sarung tangan untuk emergency situation seperti ini. Setelah mengubek2, pilihan jatuh pada sarung tangan rajut seharga 6 euro, nggak murah memang, tapi lumayan, saya suka modelnya yang cuma menutupi separuh jari, jadi jari-jari saya yang setengah beku masih bisa lincah jepret foto sana sini.

Dari H&M, saya dan teman-teman berjalan melewati Dutch quarter, sambil mencari halte bis yang akan membawa kami ke Sanssouci, maskot kota postdam, yang disebut-sebut sebagai Versailles-nya Jerman. Yah.. meski demikian,saya skeptis, Sanssouci  tak akan seindah istana Versaillesnya Louis XIV di Prancis yang serba emas. Kami turun di end terminus halte, yaitu Postdam Universite – New Palace. Di halaman new palace, di bangku panjang, kami berempat menjamak sholat zuhur dan ashar, jangan bayangkan sholat dengan sajadah terbentang, cukup bisa duduk tenang di bangku saja sudah cukup. Ahh.. lagi-lagi, kalau urusan ibadah, Indonesia tetap tempat favorit, kapan saja, dimana saja, mushola tersedia, lengkap dengan mukena, sajadah dan tempat wudhu.  Episode new palace selesai, berlajut dengan episode jalan kaki menuju Orangerie Castle (Orangerie Schloss), Neue Kammern (bangunan dengan kincir angin ala Belanda) hingga akhirnya berhenti di Sanssouci.  Sebenarnya masih banyak objek yang ingin kami kunjungi, namun winter time yang membuat hari lebih pendek memaksa kami mengakhiri traveling di jam 4.30 sore, saat hari mulai gelap, dan dingin makin menggigit… plus kondisi badan yang perlu di recharge karena belum tidur nyenyak dengan badan lurus di atas kasur empuk dan duvet hangat sejak meninggalkan Gent Jumat kemarin. Sebagai penutup perjalanan, kami berempat makan malam di AsianGourmet- Postdam Hauptbahnhof. Saya memesan menu nomor 37c yang berisi tumisan rindfleisch (beef) dengan sayur-sayuran, disajikan dengan noodle seharga 5,5 euro.
Orangerie
Sanssouci

Perjalanan hari kedua dimulai jam 9 pagi. Kami menjelajah Berlin barat mengunjungi Charlottenburg, dengan menumpang S-Bahn ring 41 menuju Westend. Dari stasiun kami berjalan kaki menyusuri Sophie-Charlottenstrasse, menembus jalanan berkabut. Beberapai helai daun kering yang jatuh di trotoar tampak berbalut es. Charlottenburg, hampir sama dengan sanssoucci di Postdam,  merupakan istana dengan style baroque-rococo dengan domonasi warna tembok kuning cerah dan kubah hijau. Dipesan oleh istri raja Borussia Friedrich I, Sophie Charlotte, sebagai tempat tinggal pribadinya dan tentu dari sinilah nama  Charlottenburg berasal. Meninggalkan istananya ratu Charlotte, menuju U-bahn station di Richard Wegner platz, saya sempat memotret Kaiser-Wilhelm-Gedächtniskirche- gereja protestan yang dijadikan salah satu tujuan wisata di Berlin. Saya tidak berjalan lebih dekat, karena menurut saya bangunan tersebut kurang menarik, saya lebih terobsesi untuk segera mencapai Checkpoint Charlie agar bisa ikut free walking tour jam 11.00.


Charlottenborg

.
Checkpoint Charlie bisa diakses melaui U-Bahn line 6 (U6) dengan halte terdekat Kochstrasse. Keluar dari underground tunnel, saat mencapai puncak escalator, saya bisa melihat Checkpoint Charlie museum di sudut jalan antara Friedrich street dengan Koch street. CC menjadi tempat yang popular karena merupakan point perbatasan antara Russia-US saat Berlin masih terbagi dua- Berlin timur dengan Russian army dan berlin barat dengan US army. Ketika tembok Berlin runtuh pada 1988, otomatis, checkpoint Charlie juga dihancurkan.

Checkpoint Charlie


Sebagai meeting point dari berbagai macam tour untuk wisatawan, Charlie tampak sangat crowded Beberapa orang berpakaian tentara US dengan kamp tiruan serta karung-karung pasir siap dijadikan objek untuk foto bersama dengan tariff 2 euro per orang. Foto-foto mengenang sejarah runtuhnya tembok Berlin juga terpasang memanjang ke arah Friedrich street.  Namun dibalik semua itu, sebenarnya sasaran saya saat berkunjung ke Charlie adalah tour guide yang berpakaian merah, seperti yang tertulis di brosur yang diberikan oleh pihak hostel. Beberapa orang dengan kostum merah ada disana, tapi tidak satupun dari mereka yang tampak “menjanjikan” sebagai tour-guide, mayoritas hanyalah lelaki afro yang menawarkan bus city tour. Yah, mungkin hari itu bukan hari keberuntungan kami untuk belajar sejarah secara menyenangkan, karena berdasarkan pengalaman saya ikut walking tour di Barcelona dan Copenhagen, tour guide-nya tampak bersemangat menceritakan detil tiap sudut kota lengkap dengan humor yang membuat saya sedikit tersenyum (humor bule boo, ike ngga paham..hehe).

Gagal dengan walking tour, saya dan teman-teman memutuskan untuk menjalani self-guided tour (J) dengan bekal peta wisata. Tujuan pun ditetapkan, mulai dari menapaki Friedrich street menuju ke utara, berbelok ke timur menengok indahnya Gendarmenmarkt (square dengan konzerthaus/concert hall yang diapit dua gereja berkubah bulat) di district Mitte –central Berlin, sejenak melirik babelplatz yang juga berisi bangunan berkubah bulat, lalu kembali mengarah ke barat menyusuri Unter den Linden boulevard (most famous avenue di Berlin city) menuju Brandenburger Tor dan Pariser Platz.

Brandenburger Tor Berlin


Brandenburger BTor sontak menjadi tempat favorit saya, hampir sama tingkat ketakjubannya dengan saat saya melihat menara Eiffel untuk pertama kalinya. Ya, meski tidak ada similaritas antara keduanya, bangunan batu ala yunani dengan ornament dewi Victoria yang mengendarai kereta kuda di satu pihak dengan skyscraper dengan baja kecoklatan di pihak lainnya. Tapi saya suka, seolah membangun mood yang baik saat berdiri di Pariser Platz, dengan ratusan orang yang begantian mengambil foto, diiringi lagu merdu pemusik jalanan, menyaksikan sekelompok aggota klub yoga yang sedang melatih konsentrasi dengan bermeditasi di tengah keramaian..serta menikmati penampilan seorang pementas dengan atraksi busa sabun yang dikerumuni anak-anak kecil dengan coat warna-warni dan senyum sumringah. Saat itu saya merasa Berlin begitu hidup, tidak seperti Belgie yang muram setelah autumn usai.

Bicara tentang wisata Berlin, rasanya tidak akan selesai dalam 10 lembar word document dengan setting A4. Dan sekarang saya sudah di lembar ke empat. Ah..rasanya banyak yang ingin ditulis dan dibagi di blog, tapi saya capek euy. Singkat kata di hari kedua, setelah mengunjungi Barndenburger Tor, saya ke Reichstag/Bundestag, Groβer stern, Berliner Dome, Alexander Platz dengan TV tower dan world clock time, Red house (rathaus), Berlin wall di Muhlenstrasse, Oberbaum bridge, dan Postdamer Platz. Perjalanan hari ketiga di Berlin lebih mengeksplor area Berlin Timur , sebuah district bernama Treptow-Kopenick serta ditutup dengan mengelilingi museum island di pusat kota berlin.


Sunday, January 9, 2011 0 komentar By: shanti dwita

Madrid day 2

Seperti hari-hari sebelumnya dimana saya selalu bangun kepagian, jam setengah 8 saya sudah rapi dengan jaket semi kulit warna ungu serta ransel berisi payung untuk menjelajah Madrid. Prediksi cuaca untuk Minggu, 9 Januari, Madrid akan diguyur hujan dengan peluang presipitasi 80%. Benar-benar kepagian karena suasana masih lengang dan langit masih berwarna abu-abu kemerahan. Beberapa cafe, seperti Dunkin Coffee yang ada di sebelah hostel tempat saya menginap, sedang berbenah dan siap menyambut tamu yang akan mampir untuk segelas kopi hangat dan sepotong kue. Menyusuri San Jeronimo, menuju Sol metro station yang jaraknya hanya 100 meter, seorang pria Afrika menghampiri dan mengajak ngobrol saya meski sudah saya judesi setengah mati. Dia bertanya nama, dan menyebutkan namanya juga, Ï´m Billy¨. Bahasa Inggrisnya tidak lancar, mungkin dia hanya tau ¨what´s your name dan how are you doing¨karena dari tadi ia mengulang pertanyaan yang sama. Teringat kejadian di Sacre couer, Paris, saat seorang Afrika mengajak ngobrol saya dan kemudian saya sadar dompet saya hilang, tentunya saya tak ingin hal ini terjadi lagi. Saya segera menghindar dan masuk ke area metro. Tujuan pertama saya adalah La Latina, tempat flea market yang sangat terkenal di Madrid, El Rastro yang buka setiap minggu dari jam 9 pagi sampai jam 2 siang. Saya melist-nya sebagai tujuan karena  El Rastro tertulis di buku rough guide in Spain yang saya baca di living room hostel. Saat saya tiba disana, beberapa pedagang masih membangun tenda, beberapa sudah siap, beberapa sedang memindahkan barang dagangannya dari mobil van dan menggelarnya di lapak. Suasana belum terlalu ramai, hanya ada beberapa calon pembeli kepagian yang datang kesana, termasuk saya. Beberapa turis dari Asia Timur yang khas dengan kulit putih dan mata sipitnya ada disana juga, mengambil gambar dengan kamera SLR. Hampir sama seperti flea market yang ada di Jatinegara, atau yang digelar di Pasar Cinde Palembang setiap minggu pagi, aneka barang bisa ditemukan disini, meski tidak semuanya bekas. Ada perabotan rumah tangga, barang-barang antik, buku kuno, komik2 dari zaman baheula, novel, bungan, sepatu, alat elektronik, pakaian, serta souvenir. Ada juga lapak pedagang kaos bola dan merchandise Real Madrid yang menjualnya dengan separuh harga. Kostum El Real, adidas asli dengan tag, made in vietnam, ditawarkan seharga 30an euro, tergantung ukuran. Saya jadi teringat teman SMA saya di Indonesia yang pingin sekali dapat oleh-oleh jersey klub sepakbola. Tapi pagi itu saya tidak membeli jersey, sowan saya di El rastro end up di lapak yang menjual souvenir khas Madrid. Seperti setiap kunjungan saya di kota-kota lain, saya selalu menyisihkan uang 7-8 euro untuk membeli piring yang bergambar landmark kota. Entah sudah berapa piring yang saya kumpulkan, dan rasanya saya tidak pernah bosan untuk terus membeli. Sebuah piring dengan lukisan matador plus bantengnya yang berwarna emas dengan latar biru tua serta sebuah banteng kecil warna-warni khas Gaudi saya beli dengan total harga 8euro. Muraaaaaahhh... karena di Barcelona untuk 1 piring serupa, saya membayar 10 euro.

Dari El Rastro, saya  naik metro ke Ventas, tempat arena bullfighting terbesar di Spanyol berada. Karena saya berkunjung di bulan Januari, otomatis tidak ada pertunjukan matador berbaju emas versus banteng. Pertunjukan itu digelar Maret-Oktober, saat spring-summer hingga awal autumn. Agak bimbang awalnya untuk membagi waktu, karena petugas di bagian tiketing bilang bahwa tour de Ventas yang berbahasa Inggris akan diadakan jam 11, sedangkan 10.30 waktu tur untuk wisatawan berbahasa Perancis. Akhirnya saya merelakan untuk tidak mengikuti walking tour mengelilingi pusat2 turisme Madrid yang diadakan di jam yang sama, di Plaza Mayor, landmark utama kota Madrid. Michel, nama guide yang akan membawa kami ber-9, memperkenalkan dirinya di awal tour. Sebenarnya hanya saya diantara  9 peserta tour yang berbahasa Inggris, namun karena judulnya tur ini ditujukan untuk wisatawan berbahasa Inggris, ia pun bersedia bekerja 2x, menerangkan dengan dwi bahasa, Spanyol dan Inggris.

Saturday, January 8, 2011 0 komentar By: shanti dwita

Madrid day 1

Dua bulan lalu saya tergiur promo Ryanair untuk penerbangan dari Porto-Madrid seharga 22euro return. Tanpa pikir panjang, saya pun minta tolong Johnny, teman EM dari Taiwan yang punya VISA card untuk membooking, meski belum tahu dengan siapa nantinya saya akan berangkat. Waktu berlalu, dan hari ini 8 Januari, saya harus terbang ke Madrid agar uang saya tidak melayang sia-sia seperti saat saya meng-cancel trip ke Milan saat winter holiday Desember kemarin. 

Hujan deras di Porto sejak seminggu belakangan awalnya menyurutkan niat saya untuk berangkat, tapi beberapa saat kemudian saya kemasi juga sepotong pakaian ganti, handuk juga peralatan mandi. Tiket juga bukti booking hostel sudah saya print Jumat sore di kampus, tidak ada alasan untuk tetap tinggal di kamar. Jam 1.30 siang waktu Porto, saya berangkat menuju Madrid. Diawali dengan menaiki metro dari Marques ke Trindade, lau berganti line ungu yang akan membawa saya ke airport. Hawa dingin dari hujan yang tak kunjung henti melelapkan saya sejenak diatas metro sebelum akhirnya saya memaksa membuka mata karena destinasi terakhir segera sampai. Setelah check-in, saya menunggu boarding di gate 14 sambil mengobrol dengan seorang gadis dari Korea yang berangkat ke Madrid berdua dengan temannya. Mendengar logat mereka berdua saat  bicara, saya ingat serial Korea terakhir yang saya tonton dan juga sangat saya gemari : ¨my fair lady¨. Aah, saya kangen nonton serial Korea lagi. Ingin rasanya segera pulang ke Belgia karena jatah internet per hari saya disana 1GB perhari, cukup untuk nonton serial Korea di mysoju.com sampai puas.

Tepat jam 15.55 ryanair mulai bergerak, tak butuh waktu lama, boeing 737-800 segera mengangkasa. Sedikit getaran saya rasakan saat pesawat menembus kumpulan awan tebal yang membuat Porto hujan seharian penuh. Semakin tinggi, semakin samar gumpalan awan putih seperti kapas yang tadinya saya lihat. Kembali, saya melanjutkan tidur yang terputus saat di metro tadi. Lima puluh lima menit waktu tempuh Porto-Madrid, seperti yang dikatakan pramugara Paolo, terlampaui. Pukul 6 local time saya tiba di Madrid-Barajas Airport, bandara utama di Madrid. Begitu besarnya hingga butuh waktu 15 menit untuk menemukan jalan keluar yang menghubungkan airport dengan metro station. Tiba di metro atau yang lazim disebut subway di Spanyol, saya membeli tiket untuk 10trips-10 viajes seharga 9,3euro plus 2 euro airport charge. Rencana saya untuk hari pertama di Madrid adalah mengikuti "end of season SALE" di pusat perbelanjaan di Fuencarral, Gran Via. Mengambil line berwarna pink menuju Nuevos Ministerios, berganti line biru tua ke Tribunal, dilanjutkan dengan line biru muda, saya pun berhenti di Gran Via.

Mengawali kegiatan hunting barang sale, saya menuju counter Bershka, membeli knitting wear warna biru seharga 8euro, lebih murah dibanding counter Bershka di Porto yang membandrol knitting sejenis dengan harga 13euro. Toko lain seperti Mango dan Zara juga saya singgahi. Counter Zara yang saya dengar memang berpusat di Madrid, terdiri dari 4 lantai plus basement. Counter sebesar itu pun tampak kurang besar saking banyaknya pengunjung yang sibuk berburu sale. Datang kesana di malam hari hanya mendatangkan keruwetan, karena semua barang sudah tidak berada di tempatnya. Di counter Mango, semua masih tertata rapi karena pelayan toko sigap merapikan. Ada beberapa items yang menbuat saya tertarik, terutama dompet seharga 20euro, yang sayang hanya tinggal satu-satunya dan dengan kondisi kurang prima. Sejak saya kecopetan di Sacre Coeur, Paris, saya belum sempat membeli dompet baru lagi, dan saat sale seperti inilah waktu yang tepat untuk mendapatkan ¨sarang¨ bagi receh2an saya. 

Dari Gran Via, sebenarnya saya cukup berjalan kaki 15 menit untuk sampai di Hostel One Sol, tempat saya akan menginap. Menyusuri Gran Via hingga Calhao, tempat counter swarovski berdiri di sudut jalan, mengambil jalan ke kiri, dan voila, saya tiba di Puerta del Sol. Jaringan supermarket El Corte Ingles, kalau di Indonesia mungkin seperti Metro Dept. Store, terbangun tegak dengan 7 lantai di sana. Mulai dari lantai satu, tempat aneka tas branded seperti Longchamp dan Burberry, make up serta parfum, hingga lantai 7 yang menggelar aneka produk olahraga dan beberapa kostum klub liga spanyol. Kostum  Adidas El Real made in Vietnam dengan tag aseli mrchandise Real madrid FC dijual seharga 71euro.

Cukup puas sightseeing, saya menuju hostel yang terletak di sebelah Dunkin coffee. Untuk sebuah kamar dorm dengan 8 roommates, saya membayar 33 euro untuk dua malam.
Wednesday, January 5, 2011 0 komentar By: shanti dwita

Wisata kuliner di Porto

Setelah sempat mencicipi Pasteis de Belem di Lisbon, saya pun merasa ketagihan dan berniat mencari duplikatnya di Porto. Juga demikian halnya dengan duplikat castanha bakar yang saya beli di sekitar Jeronimos Monastery, Belem. Castanha ini dengan chestnut, rasanya manis seperti ubi bakar cilembu. Oya, ngomong2 soal ubi, saya pernah satu kali mendapati tukang ubi bakar di Sevilla, Spanyol, lengkap dengan gerobak dan arang kayunya. Pedagang castanha bakar ini juga memakai gerobak dorong, meski tidak berkeliling dengan bunyi2an, mereka umumnya mangkal di jalanan yang ramai. Dengan uang 1 euro, di Belem saya bisa mendapatkan 6 butir chestnut bakar yang hangat.
Senin, 3 Januari 2011 menjadi hari pertama saya di Porto. Setelah mendapat paket peta serta buku panduan tentang Porto dari Isabel, relation officer di kampus UCP, saya dan teman saya Janani dari India pun menghabiskan sore dengan berjalan kaki mengelilingi Porto. Bukan hal yang menyenangkan, karena hampir sama dengan pengembaraan mencari kastil Mouros, perjalanan dengan Janani ini memakan waktu 5 jam. Gosh! Jam 3 sore kami berangkat, saya berencana menemaninya mencari sekolah bahasa yang menyelenggarakan kursus bahasa Portugis gratis untuk mahasiswa asing yang stay di Porto, dengan biaya dari departemen pendidikan Portugal. Sebelum berangkat dia bilang bahwa kira2 waktu tempuh dengan berjalan kaki adalah 55 menit "Is that okay for you, shanti?".. Yup, saya pun akhirnya berangkat. dengan dia Satu jam berlalu, belum juga ada tanda-tanda kami akan sampai, justru jalanan menyusuri Rua de Boavista  dilanjutkan dengan Avenue da Boavista terasa semakin panjang. Saya sempat berhenti sejenak di dekat Casa de Musica untuk membeli castanha bakar dan mulai menikmati lagi perjalanan. Sayang, castanha yang saya makan sama sekali tidak enak, beda jauh rasanya dengan yang saya beli di Belem. Harganya memang lebih murah, 1 euro 8 butir, tapi..uuuuuuhh.. ngga manis dan agak alot. 

castanha bakar

Selesai mengantar Janani dengan misinya, saya menyempatkan diri mampir di LIDL, membeli setengah kilo caldeirada bacalao, sekilo cumi besar (lulas limpas), juga Pollack fish stick. Selain sayur maniak, saya juga seafood addict, dan saya rasa di Portugal menemukan produk2 seafood bukan perkara sulit. Oya, bacalao yang saya beli tadi adalah ikan cod asin khas  Portugal. Sebagian bilang makanan ini khas Spanyol, bersama-sama dengan tapas, namun bagi saya sama saja. Intinya saya akan kembali belajar masak makanan Eropa selain pasta dan lasagna yang rasanya sudah saya kuasai di luar kepala.

Dari sekitar Boavista, kami menuju city center dengan menumpang bus dan berhenti di Bolhao. Rasa letih menggoda kami untuk mampir di Confeitaria do Bolhao, sebuah cafe dan restaurant  bernuansa hijau yang menyajikan aneka dessert khas Portugis. Saya tak memesan pasteis, karena hari itu saya sudah mencicipi pasteis de nata di sebuah cafe dekat Marques station tempat saya biasa menunggu metro. Rasanya juga tidak terlalu lezat, mungkin karena saya sudah mencicipi biangnya Pasteis di Belem. Di Confeitaria do Bolhao, saya memesan bola carne medium dan secangkir kopi susu. Bola carne ini semacam pastry tebal yang didalamnya berisi serpihan ikan pollack dan keju, rasanya tasty meskipun agak asin untuk lidah saya. Janani memilih Brazileiros plus secangkir cokelat putih panas yang sangat kental. Mencicipi sesendok Brazileiros milik Janani sudah cukup untuk saya memahami kelezatannya. Betapa tidak, cake ini dilapisi dengan peach jam dan dibalut coklat leleh yang membeku di luar. Rasa manisnya seolah memporak-porandakan diet gula yang dulu pernah saya angan-angankan. Entah mengapa sejak saya tinggal di Belgia, dan kini di Portugal, saya menjadi suka makanan manis yang full sukrosa, juga roti yang glikemik indeksnya cukup tinggi. 


Hari kedua di Porto, saya, Janani dan satu peserta culinary hunting lainnya, Rui dari China, kembali berjalan menyusuri pusat kota Porto dan berhenti di the Majestic cafe. Untuk sebuah cafe, Majestik termasuk yang punya nama. Terletak di Rua de Santa Catarina, cafe sekaligus restaurant ini menyuguhkan suasana yang begitu nyaman, dengan nuansa gold juga dentingan piano yang mengiramakan nada-nada romantis. Untuk makan malam disana dengan menu lengkap, mungkin uang yang harus kami keluarkan adalah 30e per orang karena untuk menu afternoon tea-nya saja harga yang tertulis di buku menu sekitar 17-18euro. Jadilah, kami memesan minuman serta cake saja. Cafe affegato with vanilla ice cream menjadi pilihan saya. Saat disajikan, penampilannya cukup unik karena diatas cangkir yang berisi separuh kopi affegato pahit, diletakkan satu scoop bulat ice cream vanila yang ditusuk seperti sate. Uap panas kopi akan melelehkan ice cream, dan meneteskannya ke dalam cangkir. Kopi affegatonya terasa sangat pahit, seperti halnya espresso, sedangkan vanilla ice cream-nya sempurna. Adalah ide bagus untuk segera mencelupkan es krim kedalam Affegato, mengaduknya jadi satu dan menenggaknya sekali habis. Dan itu benar-benar saya lakukan!!!

Selesai dengan Majestic cafe yang classy, saya menuju Centro Comercial Via catarina, pusat perbelanjaan yang disesaki brand ternama. Awal tahu bari seperti ini adalah saat yang tepat untuk belanja karena semua toko menggelar end of season- sale. Di Portogal, istilah sale dikenal dengan "SALDOS", dan saya pun mendapati bahwa di depan Massimo Duti, Zara, Mango, Esprit, H&M, Pull and Bear, the Body Shop dan seabrek toko lainnya, tulisan saldos 60% terpajang dengan warna merah menyala. Haaaah.. Sangat menggoda gairah belanja. Namun, bayangan tentang checked baggage untuk penerbangan  Ryanair Porto-Brussels yang tidak saya punya segera menyadarkan saya untuk tidak tergiur sale. 

So, kembali ke masalah makanan. Saya akhirnya memutuskan untuk makan di Surbias yang ada di lantai 4 mall. Memesan satu porsi Filetes Pescada, hampir-hampir sama dengan yang saya makan di Lisbon saat malam tahun baru. Bukan berarti saya setia setelah jatuh hati pada suatu hal, tapi terlebih pada masalah kehalalan. Lebih aman untuk memesan menu ikan2an bukan? Dalam piring saji ada kentang, nasi yang menyerupai nasi ketan bulat yang cukup oily, filet ikan berbalut telur yang di stir dengan minyak, salad, jeruk lemon serta buah zaitun. Lezat dan mengenyangkan :)
Tuesday, January 4, 2011 0 komentar By: shanti dwita

Lisbon day 3

Minggu 2 Januari 2011 menjadi hari terakhir saya di Lisbon. Saat saya membuka jendela kamar di pagi hari, kota para pengarung samudera begitu berkabut. Saya berguman bahwa hari itu suhu udara akan lebih dingin dari hari sebelumnya. Agak malas rasanya mengemasi barang karena saya rasa saya telah begitu klik dengan Lisbon, residence, juga teman-teman baru saya. Tapi tentu, saya harus pergi ke Porto karena Seninnya saya akan memulai kuliah di Catolica untuk modul fats and oils. Itinerary untuk hari itu adalah mengunjungi Belem, 6 kilometer dari pusat kota Lisbon, tempat bersejarah dimana banyak pelayar2 kenamaan menarik jangkarnya dan berangkat menemukan "dunia baru". Salah satunya adalah Vasco da Gama yang bertolak menuju India di 1497 melewati Tanjung Harapan di selatan Afrika.

Jam 11 pagi, lewat 1 jam dari jadwal yang telah disusun, kami berangkat dari residence di Quinta das Conchas menuju Cais do Sodre dengan metro dan berganti dengan tram yang akan membawa kami ke Belem.  Kabut terasa makin tebal dan jarak pandang mungkin hanya berkisar 100 meter saat kami tiba disana. Antrian di depan Mosteiro dos Jerónimos yang cukup panjang kemudian menarik minat kami untuk ikut bergabung di dalamnya. Khusus untuk hari Minggu/Dimanche, kawasan monastery itu dibuka secara gratis untuk wisatawan. Setelah antri selama kurang lebih 10-15 menit, saya dan teman-teman langsung masuk ke area hall dengan arsitektur gothik berwarna coklat muda keemasan yang saya akui cukup indah.  Konon, bangunan ini dibuat pada tahun 1502 dan memakan waktu 50 tahun untuk menyelesaikannya, relatif cepat dibandingkan pembangunan Pantheon di Paris. Waktu 50 tahun cukup untuk menuangkan banyak aliran seni pada Jeronimos, hingga bukan hanya Manueline style (sebutan untuk gothik Portugis  style), yang mengilhami  desainnya,  tapi juga Renaissance dan Classical style.  Ukiran-ukiran yang tertoreh di dinding kapur Jeronimos mengingatkan saya pada detil serupa yang saya jumpai di Placa Espanha, Sevilla. Portugis dan Spanyol, sebagai negara tetangga, memang berbagi banyak kesamaan, mulai dari tipikal bangunan hingga makanan. Pohon jeruk berbuah lebat yang merupakan ciri khas Sevilla bisa saya  jumpai di beberapa sudut jalan di Lisbon.

Jeronimos Monastery inside
Jeronimos dari luar dengan backround kabut pekat

Di kawasan monastery, terdapat juga gereja  Santa Maria yang pembangunannya dinakhodai oleh João de Castilho, seorang arsitek Spanyol. Vasco da Gama diyakini sempat berdoa di kawasan monastery dan juga gereja ini sebelum pelayarannya menuju India. Saya sempat masuk ke dalam Santa Maria seusai misa minggu pagi itu, dan saya melihat ada patung Vasco da Gama dalam posisi rest in peace di atas peti mati. Begitu lekatnya image Vasco juga para pelayar Portugis dengan area monastery menjadikan kawasan ini sebagai simbol "Age  of  Discovery" bersama dengan Belem tower (Torre de Belem).

Vasco da Gama di dalam st. Maria

Tak jauh dari Jeronimos, kami menyeberangi underpass menuju Discoveries Monument, sebuah bangunan yang didirikan untuk mengenang 500 tahun pelayaran para pelaut Portugis. Digambarkan di bangunan itu, sebuah kapal besar dengan beberapa 'punggawa'nya, dimulai dari Raja Manuel I, Prince Henry serta pelaut kenamaan seperti Vasco da Gama, Magellan dan Cabral.

Discovery monument

Lima ratus meter berjalan menapaki tepi utara Sungai Tagus, membawa kami berlima ke Torre de Belem, sebuah kastil yang pernah dipakai sebagai benteng saat pasukan Portugis berperang melawan Spanyol yang berniat menduduki Belem. Fungsi tower itu kemudian berubah sebagai mercusuar bagi kapal-kapal yang akan berlabuh di pantai Lisbon. Sama dengan Jeronimos, kastil 4 lantai ini dibangun ala Manueline style di muara Sungai Tagus. Tepat di muara sungai Tagus yang sekarang menjadi bagian dari Pantai Lisbon ini,  ratusan tahun yang lalu  kapal-kapal pelayar Portugis berangkat mengitari bumi.

Torre de Belem- cloudy foggy afternoon

Setelah merasa cukup mengambil beberapa snapshots di kawasan Belem tower, kami bergegas mencari tempat untuk makan siang. Pilihan pun jatuh pada Mc.Donalds dengan paket BigMac berisi burger sapi, kentang serta ice lemon tea  medium seharga 5euro. Saat menikmati burger di kursi luar McD, matahari mulai muncul, gosh! Jam 3 siang. Benar-benar hari berkabut yang sungguh terlalu. Diiringi musik ala indian yang dimainkan oleh "pengamen" berkostum indian lengkap dengan aksesoris tulang dan bulu-bulu, menjadikan makan siang itu cukup menyenangkan. Selesai dengan Mc.D, persinggahan berikutnya adalah Antiga Confeitaria de Belem, sebuah kafetaria di Rua de Belem yang berdiri sejak 1837. Kafe ini menyediakan hidangan khas yang disebut Pasteis de Belem, sebuah tart dengan isi custard manis dan lembut, ditaburi cinnamon bubuk serta gula pasir yang menciptakan aroma yang sangat istimewa. Mencoba sepotong Pasteis membuat saya sangat ketagihan, entah resep kuno macam apakah yang digunakan hingga banyak sekali orang yang mengantri di luar kafe demi mendapatkan sepotong Pasteis.

pasteis bekas gigitan saya :D

Selesai makan pasteis dan berpamitan dengan sahabat-sahabat baru saya di Lisbon, saya kemudian menaiki bus 28 yang akan membawa saya ke stasiun Oriente. Tiga hari di Lisbon yang menyenangkan pun berakhir. Jam 5 lewat tiga menit, kereta Alfa Pendular datang dan saya pun kembali berada di atas kereta yang akan membawa saya kembali ke Porto. Beda dengan intercidade yang saya naiki pada saat berangkat, kereta alfa pendular lebih mewah dengan kecepatan maksimum 220 km/jam, juga dengan gerbong resturant dan tempat duduk yang lebih nyaman. Menonton Legends of the Fall-nya Brad Pitt dari netbook hingga usai membuat perjalanan ke Porto tidak terlalu terasa, karena beberapa saat setelah film usai, saya sudah berada di Villa Nova de Gaia, 1 stasiun dari Porto Campanha, tempat saya akan turun dan menuju Marques.

Lisbon day 2

Kali pertama saya makan di Chinese restaurant adalah di Sintra, perbukitan indah di barat laut Lisbon. Itu pun bukan karena kesengajaan, namun lebih sebagai pelarian setelah lebih 1 jam menunggu bus 434 yang seharusnya membawa saya dan teman-teman EM ke Moorish Castle (Castelo dos Mouros) dan Pena Palace. Terletak tepat di depan Sintra tourism office, 100 meter berjalan kaki dari stasiun, Chinese resto  dengan bangunan merah berdetail khas negeri tirai bambu ini tampak begitu menggoda saat dingin terasa menusuk. Kami berenam, saya, mbak Dian, Elias, Avit, Bayes dan Sherdrov pun masuk dan memesan menu lengkap untuk 6 orang. Tak ada yang spesial dari menu hari itu karena hampir semua sudah pernah saya coba di Indonesia. Tak perlu menunggu lama, seorang pelayan bermata sipit yang mungkin direkrut untuk benar2 menambah aura China datang ke meja kami. Diawali dengan chicken soup panas sebagai appetizer, serta aneka hidangan lain seperti nasi goreng, mie goreng, Peking duck, ayam masak almond, udang asam manis, udang cah jamur, dan hotplate ayam saus bawang putih, kami berenam makan dengan bersemangat. Bagi saya, the best part was chicken with garlic sauce, benar-benar tasty! Untuk dessert, mereka menyuguhkan buah leci dengan sirup. Untuk keseluruhan menu yang benar2 bikin nampol itu, kami berenam membayar 52 euro.

Dari Chinese resto, meskipun tertutup kabut tipis, kami bisa melihat Castelo dos Mouros yang berada di atas bukit. Bangunan batu yang berdiri kokoh itu seolah merayu kami untuk segera mendatanginya. Tapi sayang, hari itu, 1 Januari, bus 434, satu-satunya bus yang bisa membawa para wisatawan lagsung ke Mouros tidak beroperasi. Kami pun sepakat untuk berjalan kaki tanpa tau pasti jarak yang harus kami tempuh. Dan dimulailah "pengembaraan" dengan tema "Castle hunting" dengan jumlah peserta di garis start 6 orang. Dua puluh menit pertama terasa sangat menyenangkan karena di kiri kanan ada banyak scene indah yang bisa difoto. Pun saat memasuki kawasan souvenir shop, yang membuat saya teringat pada kios-kios di dalam kawasan wisata Tangkuban Perahu, semua begitu menakjubkan mata. Tipikal jalanan yang berbatu, berbentuk kotak-kotak kecil dan disusun menyerupai puzzle seolah melengkapai nuansa Sintra yang juga disebut sebagai UNESCO's World Heritage Site. Tipe jalanan seperti ini  hampir sama seperti yang ada di Belgia, namun ukuran batu yang digunakan lebih kecil dan permukaannya lebih rata.

jalanan di Sintra

Lepas dari Sintra kota, kami mulai mendapati jalanan sunyi, beraspal halus yang lazim dilalui bus menuju kastil. Di tepi kanan dan kiri adalah hutan dengan lembah yang melandai serta beberapa bangunan tua yang berjarak sekitar 100m satu sama lain. Semakin kami mendaki ke atas, semakin jarang bangunan yang kami temui. Hal yang cukup menenangkan adalah bahwa bukan hanya kami wisatawan kesorean yang nekat berjalan kaki, ada beberapa wisatawan lain yang juga jalan kaki, meski mereka berjalanan ke arah yang berlawanan, dengan kata lain, kembali ke kota. Beberapa dari mereka bilang bahwa gerbang kastil ditutup, sehingga mereka tidak punya pilihan lain selain kembali. Hm... beberapa dari kami pun mulai goyah, dan berniat balik badan. Namun, Elias, teman dari Ethiopia bilang, "Plis, don't waste it, kita sudah jalan kaki 1 jam lebih, saya ngga mau balik sebelum nemuin kastil!" Yaa, alasannya masuk akal juga, mungkin dalam beberapa saat lagi kami akan sampai. Namun, plang-plang di tepi jalan yang menunjukkan angka 9,2 agak menggoyahkan hati kami. Dua ratus meter berjalan, angka itu berubah menjadi 9. Apakah itu berarti kami masih harus berjalan 9 km lagi menuju gerbang Mouros? Tidaaaaakkk.... Andaikata kontur jalannya rata, tidak menanjak, tidak dingin, tidak gerimis juga tidak menjelang senja, mungkin kami berenam akan bersama-sama sampai di puncak. Kenyataannya? Dua dari kami, Bayes dan Sherdrov mengundurkan diri dan memilih pulang ke Lisbon.  Tersisalah 4 orang penuh determinasi yang bertekad bulat menemukan pintu gerbang kastil, hanya pintu gerbangnya saja karena diyakini 100% bahwa kastil Mouros ditutup 1 Januari. Singkat kata, kami berempat, four musketeers, sampai di pintu masuk. Seekor kucing hitam tua menyambut kami, ya, hanya kucing, bukan penjaga loket yang siap menerima 14 euro dari tiap wisatawan yang hendak menikmati indahnya pemandangan Lisbon dari puncak Mouros. Tak ingin merasa sedih, kami pun membuat foto-foto konyol dan tertawa terbahak-bahak hingga lelah seolah sirna.

Castelo dos Mouros, gambar diambil dengan extra zoom 
setelah menempuh 1/3 perjalanan (intinya : masih jauuh)


Di dalam kereta yang akan membawa kami pulang ke Lisbon, kami semua tertidur. Tampaknya 4 jam berjalan kaki cukup membuat kami merasa "sedikit" lelah meskipun belum berhasil membuat kami berencana menyudahi perjalanan. Tiba di Rossio, stasiun dalam kota Lisbon, kami kemudian berencana untuk makan malam di Bangla Restaurant, rumah makan dengan menu khas Asia Selatan. Mbak Dian bilang, kari ayam dan roti chapatinya benar-benar enak. Bangla resto ini berada di kawasan Martim Moniz, tempat yang diyakini "rawan bahaya" karena banyaknya penduduk migran yang berdiam disini. Memasuki kawasan Martim Moniz, kesan yang tampak adalah gelap, kotor dan tidak terawat. Di kanan-kiri jalan banyak migran yang berdiri mengobrol, umumnya mereka berasal dari China, India dan sekitarnya serta Afrika. Di jalanan ini pula, grocery shop yang menjual bumbu-bumbu Asia berada. Teman saya Avit membeli bumbu Briyani, dan bilang di pertengahan Januari dia akan memasak masakan Bangladesh dan mengundang kami semua. Sayang, tanggal itu saya sudah berada di Porto. Ajakan makan malam bersama juga datang dari teman2 EM, untuk Minggu malam, 2 Januari di rumah makan khas Nepal. namun kembali saya sesalkan, karena minggu malam saya pasti sedang di atas kereta menuju Porto. *sigh

Rumah makan khas Bangladesh yang kami datangi menyajikan menu-menu khas Asia Selatan yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Yang familiar bagi saya hanya Chapati, Pharata, Curry juga Nasi Biryani karena keempat makanan itu bisa didapat di Indonesia. Tak mau berspekulasi, akhirnya makanan itu juga yang saya pesan disana karena di buku menu tidak ada definisi setiap dishes dan sang pelayan juga tidak bisa bahasa Inggris. Satu piece roti chapati hangat plus kari kambing full spices pun segera saya nikamati. Rasanya tak beda jauh dengan yang pernah saya buat di Gent saat sedang getol-getolnya bereksperimen masakan. Itu tandanya, saya bisa disetarakan dengan koki rumah makan ini kan? Agak menyesal juga memesan kari kambing, meskipun saya akui rasanya lezat walau tidak sepedas yang saya angan-angankan. Mustinya saya memesan makanan lain yang benar-benar khas Bengali. Mudah2an ada lain waktu untuk mengunjungi Bangla resto dimanapun, bahkan jika memungkinkan saya ingin mencicipinya di tempat asalnya, Bangladesh. Oya, untuk 1 pc chapati juga semangkuk kecil lamb curry, saya membayar hampir 9 euro. Hiks.. mahaaaall.
 

Monday, January 3, 2011 0 komentar By: shanti dwita

Lisbon day 1


Jam 10 pagi bel rumah saya di Gent berbunyi, 100% saya bisa menduga kalau yang datang adalah Johan Menhout, si pemilik rumah. Dia datang menepati janji untuk membantu saya memindahkan barang-barang ke basement. Sehari-harinya ruang bawah tanah itu terkunci, hingga suatu saat saya melihat Johan mengelas sesuatu disana. Kemudian datang  ide untuk menitipkan barang-barang saya disana selama saya pergi mengikuti satu mata kuliah di Porto, Portugal. Johankemudian menunjukkan tempat rahasia dimana saya bisa menemukan kunci untuk membuka basement, kelak saat saya kembali karena ia akan pergi berkeliling Asia selama lima minggu di awal Februari. Pekerjaan memindahkan barang pun usai sampai disini. 

Karena lupa memesan bagasi untuk penerbangan ke Porto, saya harus mengatur strategi untuk membawa 3 stel pakaian, peralatan mandi, handuk, buku dan alat tulis, laptop serta setrika ke dalam tas airwalk hitam saya yang tidak terlalu besar. Dengan kata lain, saya akan ber-backpacker ria menuju Porto.  Bakda maghrib saya menuju Gent Sint Pieters, menumpang kereta IC di platform 9 menuju Brussels Zuid. Waktu menunjukkan pukul 19.35 saat saya membaca jadwal  dan mengetahui bahwa kereta menuju Charleroi akan berangkat dari platform 21 stasiun Brussels Zuid pada 19.35. Itu tandanya saya harus berlari jika ingin sampai lebih awal di Charleroi, dan syukurlah, beberapa detik setelah saya masuk ke dalam kereta, pintu tertutup dan kereta mulai bergerak cepat. Total 3 jam harus saya lalui dari Gasmeterlaan menuju Charleroi airport, dengan menumpang tram, 2 kereta IC serta satu bus TEC. Hal inilah yang membuat saya “terpaksa” menginap di airport, sebab jadwal terbang saya bersama Ryanair dari Brussels-Charleroi  ke Porto adalah Jumat, 31 Desember jam 7 pagi. Berusaha menikmati malam dingin di airport dengan suhu -4 derajat celcius, saya memutar Bounty Hunter-nya Jennifer Aniston yang membuat saya tertawa cekikikan di kursi besi yang sama sekali tidak nyaman. 

Jam 6.30, boarding telah ditutup dan saya sudah berada di kursi boeing 737-800, bersiap untuk tidur nyaman. Sekitar 2 jam perjalanan saya lalui dan saat tiba di Aeroporto Francisco Sa Carneira, Porto, saya harus memutar mundur  arloji saya satu jam kebelakang karena satu garis bujur telah terlewati. Dari Porto, kota terbesar kedua di Portugal, saya bergerak ke selatan, menuju Lisbon. Dimulai dengan menumpang tram E dengan line mark berwarna ungu menuju stasiun Porto Campanha. Dari stasiun ini saya membeli tiket intercidade, kereta nasional Portugal yang menghubungkan Stasiun Santa Apolonia di Lisbon dan Guimares. Tarif yang saya bayar untuk kelas 2 intercidade adalah 20 euro. Kursinya cukup nyaman meski tidak terlalu empuk dan ruang untuk kaki tidak juga lebar. Saya tidak sempat menikmati pemandangan diluar karena kantuk yang datang sejenak setelah saya menutup netbook. Yang saya tahu, Portugal indah, seperti apa yang dikatakan Johan sebelum saya berangkat, “Portugal is really beautiful, you will like it!”. Berdasarkan jadwal, saya akan tiba di stasiun Oriente, stasiun terbesar di Lisbon, sekitar jam dua kurang 8 menit. Beruntung, karena saat saya bangun, dan bertanya pada wanita di sebelah saya dimana saya sekarang, ia menjawab, saya ada di Santarem, 2 stasiun sebelum Oriente. Wanita yang saya taksir umurnya 50tahun tersebut sangat ramah, meski ia tak bisa berbahasa Inggris, ia tetap berusaha memulai percakapan dengan bahasa Portugis. Sama halnya dengan saya, ia pun akan turun di Oriente.

Stasiun Oriente begitu megah, dengan cat putih dan arsitektur yang sulit saya definisikan. Di depan stasiun, pusat perbelanjaan Vasco da Gama berdiri, dengan sederet took dengan brand-brand ternama. Saya pun masuk ke Vasco, sesuai dengan janji yang saya buat dengan Mbak Dian, Erasmus Mundus student dari INA yang stay di Lisbon. Saya memesan paket 1 paha, 1 dada ayam, kentang dan juga fanta orange seharga 5,7 euro di KFC , tempat janjian yang ditetapkan. Dari Vasco da Gama, dengan metro kami menuju Quinta das Conchas, tempat dimana mbak Dian tinggal. Tempat tinggalnya adalah flat milik kampus, disebut juga dengan istilah residence, yang dijaga ketat oleh satpam sehingga sulit untuk menginap dengan free disana. Saya membayar 20 euro per malam untuk sebuah kamar double yang terletak  di lantai 6. 

Hari itu adalah 31 Desember, saat dimana semua orang akan merayakan pergantian tahun. Di kota Lisbon sendiri, perayaan tahun baru dipusatkan di Praca do Comercio yang terletak di tepian pantai. Sebelum menuju ke sana, kami berdua menyempatkan makan malam di restaurant khas Potugis  di Rua des Correeiros . Menu yang saya pesan adalah Filete Pescada, spicy white fish yang disajikan dengan semacam nasi kuning. Cukup lezat untuk ukuran hidangan termurah di rumah makan itu, 8 euro. Dari Rua des Correeiros kami bergabung dengan ribuan orang yang berbondong-bondong menuju  Praca do Comercio  melewati Rua Augusta.
Thursday, December 30, 2010 0 komentar By: shanti dwita

Paris day 2


Hari kedua saya di Paris. Pagi itu nuansa mendung plus gerimis belum juga beranjak,  masih sama seperti hari sebelumnya. Bangun jam 6 pagi menyiapkan sarapan alakadarnya untuk kami bertiga, kebetulan pagi itu si empunya kamar berencana berangkat subuh untuk mengikuti acara pemilihan ketua PPI Perancis di kedutaan. Jam 9an, saya dan Rush meninggalkan Cachan dan bertolak ke pusat Paris, menaiki RER B dari Arcueil Cachan, turun di station Luxembourg dan berjalan kaki menuju Pantheon. Berdiri di Rue de Soufflot yang menghubungkan Jardin de Luxembourg dan Pantheon, saya bisa menyaksikan keindahan detil  ala Quartier Latin di gedung  yang dulunya adalah gereja itu.  Saat Louis XV menderita sakit yang cukup serius di tahun 1744, dia pun bernazar akan membangun sebuah gereja jika nantinya ia sembuh.  Atas andil Jacques- Germain Soufflot, sang arsitek, gereja yang didedikasikan untuk Sainte-Geneviève ini pun selesai di tahun 1791, di saat yang sama ketika Paris sedang bergejolak dengan revolusi Perancis. Setelah revolusi, fungsi gereja pun dialihkan menjadi public building yang terbuka untuk umum. 

Kawasan Quarter Latin di selatan Paris (Left Bank of the Seine River) ini merupakan kawasan pelajar, dimana banyak perguruan tinggi berdiri. Setelah sejenak mengusir dingin dengan minum secangkir espresso mini serta sepotong raisin croissant di salah satu sudut Rue de Soufflet, kami kemudian menuju Sorbonne University (Universite de Paris), universitas ternama yang beridir sejak abad 12. Di universitas inilah  pasangan Marie dan Pierre Currie, pemenang nobel Fisika-Kimia, pernah belajar. Sejumlah nama seperti Victor Hugo, penulis novel Notredame, Desiderius Erasmus, humanis Belanda yang namanya dipakai dalam program “Erasmus Mundus” oleh Uni Eropa, serta Antoine Lavoisier, sang Bapak Kimia Moderen,  juga merupakan alumni Sorbonne University. Begitu terkenalnya hingga tokoh Aisha dalam novel Ayat-Ayat Cinta-nya Habiburrahman El Shirazy pun dikisahkan pernah belajar di universitas ini.
Dari sana, kami menuju Jardine de Luxembourg, sebuah taman ber-landscape campuran Italian-French. Mengapa ada nama Luxembourg di dalam kota Paris? Hmm.. karena dulunya area tersebut merupakan milik Duke of Luxembourg yang kemudian dibeli oleh Marie de Medici, ibu Louis XIII yang seorang keturunan Italian. Pertanyaan mengapa ber-landscape Italy pun sekaligus terjawab bukan? Sayang, mengunjungi taman ini di kala autumn membuat saya  kurang bisa menikmati keindahannya, meskipun tetap ada berumpun aster warna-warni di sejumlah sudutnya.  Merasa terkejar waktu plus banyaknya tempat yang ingin disinggahi, kami segera bergegas kembali ke Luxembourg subway/metro station menuju St Michel untuk berganti line ke arah Chateau de Versailles. 

Metro yang kami naiki pun melaju menuju Versailles. Dalam waktu 40 menit diperkirakan kami akan sampai disana. Namun, entah mengapa, tiba-tiba metro berhenti di Invalides disertai announcement dalam bahasa Perancis yang intinya “ini adalah pemberhentian terakhir”. Akhirnya kami mengambil metro di arah berlawanan, yang juga menuju ke Versailles, namun dengan rute yang lebih panjang, sekitar 75 menit. Setelah berjalan kaki 15 menit dari stasiun, kami pun sampai, disambut oleh patung Louis XIV yang dengan gagahnya menunggang kuda.  Suasana Chateau (dalam bahasa Inggris disebut Palace) di hari Sabtu itu begitu ramai. Ratusan orang menyemut di pintu loket untuk masuk ke dalam taman juga istana yang merupakan simbol absolutisme Lois XIV di tanah Eropa.
Monday, December 27, 2010 0 komentar By: shanti dwita

Paris day 1

Berada di jantung Eropa Barat  membuat angan-angan saya mengelilingi sejumlah negara kenamaan seperti Jerman, Inggris dan Perancis menjadi semakin mudah untuk diwujudkan.  Waktu tempuh dengan pesawat dari Brussels ke negara-negara tetangga rata-rata hanya 1 jam. Berbagai maskapai penerbangan  menawarkan ratusan rute yang menghubungkan seluruh kota di Eropa dengan harga yang sangat kompetitif dan tak jarang lebih murah dibanding bus maupun kereta api. Namun kali ini, dengan alasan kepraktisan, saya tidak memilih pesawat untuk sowan ke Paris, ibukota Perancis yang berada tepat di sebelah barat Belgia. Ada dua cara mudah untuk menuju Paris dari Gent (kota tempat saya tinggal), yaitu dengan bus ataupun juga kereta api. Untuk kereta api, opsi yang bisa diambil ada dua, dengan kereta eksekutif Thalys yang akan membawa penumpang langsung ke Paris tanpa transit, atau dengan menumpang kereta IC dari Gent ke Lille dan melanjutkan perjalanan dengan TGV dari Lille menuju Paris. Harga yang harus dibayar untuk layanan kedua kereta api itu kira-kira 80 euro one way (untuk opsi TGV, bisa lebih murah). Atas dasar pertimbangan harga dan waktu tempuh yang tidak terlalu berbeda jauh, saya pun memilih pergi ke Paris dengan Eurolines, bus service yang melayani trip hampir ke seluruh negara di Eropa. Satu bulan sebelum keberangkatan, saya mengunjungi kantor Euroline di Koningin Elizabethlaan, tak jauh dari stasiun Gent St. Pieters. Saya memesan dua tiket, satu tiket one way untuk teman saya Rush yang akan datang dari Norway, serta satu tiket return untuk saya. Satu tiket one way saya beli seharga 29 euro, sedangkan untuk tiket return, saya membayar 31 euro. Cuma beda tipis! Seringnya membeli return ticket memang lebih menguntungkan dari segi harga, namun kurang flexible untuk multiple trip, contohnya jika setelah dari Paris akan lanjut ke Milan, lalu dari Milan, baru pulang ke Brussels. Untuk kasus seperti itu, teman saya Marija bilang, Eurolines juga menyediakan Eurolines Pass yang bisa dipakai traveling ke seluruh Eropa dalam jangka waktu 15-30 hari. Untuk youth (under 26), harga 15 days pass sekitar 100 sekian euro, saya lupa persisnya.

Akhirnya saat long weekend, minggu pertama di bulan November, saya dan Rush bersiap berangkat untuk  mengunjungi kota yang tersohor dengan Eiffel Tower tersebut. Berbekal print-out email dari Dedy, yang kurang lebih berisi arah-arahan metro, RER juga bus plus jenis tiket yang harus kami beli untuk menuju ke studionya, kami melenggang menembus dinginnya pagi di musim gugur. Ini pertama kalinya saya naik Eurolines.  Menurut petugas ticketing yang saya temui sebelumnya, saya harus berada di Gent Dampoort, setengah jam sebelum jadwal keberangkatan, which means jam 9 pagi . Saat itu bus dalam kondisi penuh, tidak ada seat number jadi penumpang bebas memilih untuk duduk di mana saja. Saya kebagian kursi paling belakang, di sisi saya seorang perempuan Afro setengah baya yang sibuk dengan laptopnya. Bus melaju  melewati tol E17 menuju Kortrijk-Lille dan berganti ke A1 arah Paris. Dari tulisan "SANEF" yang saya baca di setiiap gerbang tol, saya pun menduga kalau nama itu mengacu pada grup pengelola highway di Perancis, seperi halnya Jasamarga di Indonesia. Pukul 11.50 nuansa Paris metropolitan mulai  terasa saat bus melaju di bawah terowongan Charles de Gaulle Airport, dengan sejumlah burung besi yang terbang sangat landai. Dari airport inilah di bulan Juni nanti saya akan pulang ke Indonesia (can't wait for that!). Pemberhentian terakhir Eurolines di Paris adalah Gallieni, salah satu metro station yang namanya diambil dari nama  jenderal  yang berandil besar dalam The Battle of Marne, di perang dunia I, Joseph Gallieni. Disana saya membeli 3 tiket, 2 mobilis zona 1-3 serta 1 mobilis zona 1-4 yang akan saya pakai untuk berkeliling Paris selama 3 hari. Tiket Mobilis ini merupakan tiket harian untuk penumpang berusia 26+ dan saya membelinya seharga 8,2 euro (untuk zona 1-3), sedangkan untuk zona 1-4 uang yang harus saya rogoh adalah 10,5 euro. Pusat kota Paris sendiri sebenarnya berada di zona 1 dan 2, tempat dimana hampir semua objek yang lekat image-nya dengan kota Paris , seperti Eiffel Tower, Musee de Louvre, dan Champs Elysees berada. Jadi jika hanya punya 1-2 hari di Paris, rasanya membeli tiket untuk zona 1-2 sudah cukup. Tapi berhubung saya  dan Rush akan menginap di tempat Dedy di Cachan, mau tak mau kami harus membeli tiket zona 3 itu. Oya, Dedy ini mahasiswa dari Indonesia, lulusan ITS. Sama halnya dengan saya dan Rush, dia juga awardee  Erasmus Mundus 2010. Hingga Januari 2011 dia akan stay di Paris, mengambil Nano dan Biophotonics di École Normale Supérieure de Cachan. Sedangkan Rush, lulusan Sastra Inggris UNJ yang stay di  Oslo untuk belajar Early Childhood Education. Yah, hitung-hitung reuni EM awardee di tanah Eropa!

Dari Gallieni, sesui instruksi Dedy dalam suratnya, kami naik metro 3 menuju Republique dan melanjutkan dengan metro 5 menuju Bastille, berharap akan menemukan penjara Bastille yang kuat imagenya dengan revolusi Perancis di 1790-an. Yang kami temui disana bukan lagi kastil tua, karena memang penjara tersohor yang mulanya adalah gerbang (Bastion de Saint-Antoine) dan dialihfungsi menjadi benteng sekaligus penjara oleh Louis XIII itu telah dihacurkan. Puing-puing Bastille yang pernah berdidi kokoh, kini termanifestasi dalam interior Bastille metro station dengan dinding dan lorong khas kastil tua di abad 13. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami berdua makan siang di Mc. Donalds, dengan menu : Spaghetti tuna buatan saya. Ya, sebelum berangkat saya memang menyempatkan untuk memasak bekal untuk kami berdua, just in case kami kelaparan di tengah jalan.

Setelah perut terisi, acara sightseeing Paris berlanjut dipandu oleh guide yang cukup punya nama, yaitu "Lonely Planet edisi Paris"! Dari Bastille, saya dan Rush menuju kawasan Hotel de Ville dengan dinaungi awan mendung dan ditetesi gerimis,  tepat seperti apa yang saya baca di Paris weather forecast beberapa hari sebelumnya. Hotel de Ville ini bukan hotel yang sebenarnya, karena dalam bahasa Inggris, frase ini lazim ditranslasikan sebagai "City Hall" atau kantor pusat administrasi.  Dari sana kami pun menyeberangi sungai Seine, sungai terpanjang kedua di Perancis setelah The Loire yang bermuara di Teluk Biscay. Biarpun bukan sungai terpanjang, namun nama Seine terdengar begitu populer, lekat dengan image Eiffel, Louvre, Notredame dan suasana romantis.  Bicara tentang Seine, tentu juga akan bersentuhan dengan istilah right banks (Rive Droite) dan juga left banks (Rive Gauche). Right banks merujuk pada daerah di utara Seine, sedangkan left banks digunakan untuk mendefinisikan area di sebelah selatannya. The banks of the Seine ini terdaftar dalam list UNESCO " World Heritage Sites" karena keindahannya. Setelah berbelanja di beberapa souvenir shops di tepian Rive Droite,  langkah kaki pun seperti sudah bermagnet untuk menuju Notredame.

 

Luxembourg


Oktober  2010. Perjalanan saya ke Luxembourg dimulai sebelum subuh dengan 3 rute, yaitu Gent-Brussels, Brussels-Arlon  (keduanya menggunakan kereta IC) dan Arlon-Luxembourg dengan TEC (bus). Itu berarti, saya harus siap-siap PD untuk menjalankan sholat subuh di kereta dengan dilihat banyak orang. Awalnya takut dan sungkan, tapi akhirnya saya pakai juga mukena itu dan mulai sholat searah dengan arah kereta melaju. Dan benar saja, selesai sholat, penumpang di kursi sebelah yang sedang membaca koran, melirik kearah saya yang sedang melipat mukena. Yah, forget it!

Saat matahari mulai terbit, saya bisa melihat nuansa “hilly” di bagian selatan Belgia dari jendela kereta., berbeda sekali  dengan kawasan Vlanderen di utara yang flat. Stasiun Arlon yang kami tuju saat itu sebenarnya juga masih bagian dari Belgia dan tepat berbatasan dengan Luxembourg. Butuh sekitar 40 menit untuk mencapai pusat kota Luxembourg dengan tariff 3 euro.  Bus TEC 80/1 berhenti di kawasan Royal sekitar pukul 10 pagi, dan seperti biasa disetiap perjalanan, tempat pertama yang dituju adalah tourism office demi mendapat map gratis. Tapi sayang, bagunan bertuliskan Tourism Office atau “office de tourisme” dalam bahasa Perancis itu tidak juga berhasil kami temukan. Sebagai solusinya, saya pun membeli buku panduan wisata Luxembourg yang dilengkapi peta di sekitar townsquare (Place d’Armes). Ngomong-ngomong soal bahasa, hampir sama dengan Belgia, warga Luxembourg pun punya 3 bahasa, yaitu Jerman, Perancis dan juga Luxembourgish. Mungkin demikianlah nasib negara ber-teritori kecil yang diapit negara besar dengan pengaruh linguistic yang kuat.
Thursday, November 4, 2010 2 komentar By: shanti dwita

Amsterdam


Awal bulan Oktober saya sempat jalan-jalan ke Amsterdam bersama beberapa teman dari kelas bahasa Belanda. Janjian jam 7.15 pagi di depan kampus bukan hal yang sulit bagi saya karena sehari-harinya saya memang bangun subuh, tapi mungkin sulit buat yang lainnya. Teman satu rumah saya Steve yang cukup kebo, kembali tidur saat saya ketuk kamarnya jam setengah 7 untuk siap-siap. Walhasil, kami pun harus menunggu kereta berikutnya karena Steve baru tiba di Stasiun Gent Sint Pieters jam 8 lewat.  Dari Gent, kami menuju ke Antwerp dan berganti kereta disana. Perbatasan Belgia dan Belanda sebenarnya berada di Essen, sebuah distrik kecil yang didominasi grazing land untuk hewan-hewan ternak. Hampir semua teman saya punya GoPASS, jadi mereka menggunakan kartu itu untuk menuju Essen (GoPAss bisa dipakai kemanapun di seluruh penjuru Belgia, tak perduli jarak jauh ataupun dekat) dan mereka melanjutkan dengan membeli tiket dari Essen menuju Amsterdam. Jatuhnya tentu lebih murah, mereka hanya membayar sekitar 30 euro untuk weekend tiket Essen-Amsterdam pulang pergi. Sedangkan saya? Aduh, jangan ditanya. Negara kecil ini tak bersahabat pada orang berusia >26 tahun.  Segala sesuatunya berbeda, bahkan untuk rekening tabungan pun saya harus membayar sekian euro tiap bulannya karena saya >26, tidak peduli bahwa disini saya seorang pelajar perantauan yang masih disubsidi. Tiket ke Amsterdam untuk 26+ memang lebih mahal, 52 euro return (beda banyak.. Hiks).  Tiket yang saya beli adalah open ticket, jadi saya bisa berangkat dan pulang kapan saja terhitung mulai Sabtu jam 00.01 dinihari hingga Minggu malam jam 23.59, sama sekali tidak ada ikatan waktu. 

Tiba di Antwerp, karena kami berangkat terlambat, kami pun harus menunggu sekitar 40 menit untuk kereta berikutnya yang akan menuju ke Amsterdam. Jam 10 kurang 10, kereta ICE (inter city express) dijadwalkan tiba di platform 22, kami semua pun bersiap menunggu disana. Hari itu kereta penuh sesak ditambah lagi itu adalah kereta internasional hingga banyak penumpang yang membawa koper-koper besar. Saya sendiri hanya membawa satu tas ransel ukuran sedang berisi satu set pakaian ganti dan peralatan mandi, tanpa makanan sedikitpun. Saya pun mulai menyesal mengapa tidak membawa makanan ketika melihat Roland, teman saya dari Hungary, mengeluarkan 1 liter susu dan mengkonsumsinya seorang diri bersama sandwich yang ia bawa. Huaa… andai saya bawa makanan. Tapi taka apa, saya sudah sarapan dengan opor ayam meski tak puas karena terburu-buru. Oya, mayoritas orang di Eropa suka sekali dengan susu, beda dengan orang Indonesia seperti saya. Mungkin ini masalah personal, karena saya dasarnya memang hanya suka air putih.

Kereta berjalan cepat, dari Antwerp, kami pun melewati Heide, Kijkilt, Wildert dan akhirnya Essen, sang perbatasan. Saya menulis semua stasiun kecil yang dilewati meski sangat sulit karena kereta hanya menghembuskan angin di stasiun itu tanpa mau berhenti. Setelah Essen, stasiun berikutnya adalah Roosendal dan tentu ini adalah teritori milik Belanda. Kereta berhenti sekitar 5 menit di stasiun ini. Setelah Roosendal perjalanan pun berlanjut, saya tak lagi konsentrasi mencatat karena asyik mengobrol dengan teman-teman. Mereka mengomentari catatan perjalanan yang saya buat dan mulai mencoret-coret notes berlogo Uni Eropa dengan bintang 12 milik saya dan menggambarinya dengan peta Spanyol (kebetulan saya duduk bersama 3 orang Spanyol ; David, Steve dan Marta). Mereka berpromosi tentang tempat-tempat indah di Spanyol dan juga daerah asal mereka. David mempromosikan Cadiz di selatan spanyol (daerah asalnya) sebagai tempat dengan pantai terindah. Mereka juga memberi tanda di peta alakadarnya itu letak Granada, Sevilla, Santiago de Compostella, Barcelona, Madrid, san Sebastian, Toledo dan Salamanca. Semuanya ada dalam kategori ‘must visited’. Saya pun mengiyakan, sambil berharap mudah-mudahan saya bisa magang di Instituto del Frio, Madrid di trimester akhir 2011 nanti. Sebelumnya saya berfikir akan melakukan internship di USA sesuai program dari Erasmus Mundus–SEFO, tapi kok rasanya kejauhan. Spesialisasi yang ditawarkan di Tuft University Amerika adalah Food Nutrition, sesuai dengan yang dibutuhkan jurusan tempat saya bekerja. Ya, mungkin Amerika bukan jodoh saya, saya bisa melakukan riset lain tentang perikanan di Madrid. Seorang professor yang jurnalnya saya jadikan acuan untuk penelitian gelatin ikan di S1 dulu ternyata bekerja di institusi itu,  dan mungkin langkah selanjutnya yang harus saya ambil adalah PDKT ke supervisor agar saya diizinkan ke Madrid. Agak sulit karena institusi di Madrid itu bukan partner dari program EM SEFO, tapi saya tidak pesimis, itu sama sekali bukan hal yang tidak mungkin dengan probabilitas 0%.

Sekitar jam 11an kami melewati Rotterdam, saya merasa surprised karena melihat masjid dengan arsitektur indah berdiri tegak tak jauh dari stasiun Rotterdam. Melihat saya begitu excited, Steve bilang kalau di Spanyol, terutama Andalusia, banyak masjid-masjid indah macam itu. Ya, Islam pernah menemui kejayaannya disana, tapi saya tak yakin jika bangunan indah yang tersisa kini masih berfungsi sebagai masjid atau hanya sebagai tempat berfoto bagi turis-turis dari berbagai penjuru dunia. Rasanya, saya harus banyak membaca tentang sejarah Islam di Eropa, terutama Spanyol sebelum mengunjunginya, mungkin di 2011.

Jam 12.00 kami tiba di Central Station Amsterdam. Stasiunnya besar, tapi sama sekali tidak mewah. Masih lebih bagus Amsterdam Schippol yang kami lewati sebelumnya. Sebagai turis, tentu tempat pertama yang kami cari adalah tourism office, berharap untuk mendapat peta gratis disana. Tapi ternyata tidak ada yang gratis, silahkan masukkan koin 2 euro dan peta pun akan keluar dari mesin secara otomatis! Teman-teman saya tentu butuh peta untuk mencari hostel yang telah mereka pesan beberapa hari sebelumnya lewat internet, mereka akan menginap semalam disana. Sebelumnya saya berniat untuk ikut menginap disana dan membayar 25 euro per malam, tapi setelah, berfikir ini dan itu, saya pun memilih tinggal semalam di rumah Henin, mahasiswa double degree dari UI yang saya kenal saat akan ujian IELTS di Jakarta. Kebetulan, di tahunnya yang ketiga dan keempat dia berada di Amsterdam. Setelah mengontaknya lewat FB, saya pun dapat alamat juga nomor telefon serta manual singkat “how to get there”. Setelah makan siang bersama di Burger King dengan menu seharga 3 euro kurang 5 sen, saya pun memisahkan diri dari rombongan dan menuju Apartment Henin di Zuiderzeeweg. Oya, ada hal lucu saat memesan burger ini, karena tak tahu nama paket murah yang kami lihat di luar burger king, kami hanya bilang "2,95 menu please!" dan sang pelayan pun memberi setangkup burger sapi ukuran kecil-sedang, segelas coke dan seporsi kecil fries. No sauce, pay extra if you want. Disini semua serba dihitung, makan kebab pakai saus harganya tentu beda dengan nggak pakai saus. Sebenarnya, apalah harga sesendok saus tomat hingga pelanggan musti membayar extra 50 sen sampai satu euro untuk tiap saus yang mereka pesan. Padahal, harga 560g saus tomat di ALDI (jaringan supermarket murah di Belgia) cuma 60 sen!


Saat berjalan kaki dari Burger King menuju ke Central station saya menemukan banyak sekali sex shop. Mungkin GPS alami saya yang menuntun saya melewati jalan itu. Amsterdam memang terkenal dengan marijuana cake dan juga Red Light district-nya dimana banyak wanita dengan pakaian minim dan gaya erotis dipajang disana. Teman-teman saya berencana mengunjungi red light saat malam menjelang, dan itu berarti saya tidak bisa ikut serta, karena apartemen Henin jauh dari pusat kota. Berdasarkan informasi, red light terletak tidak jauh dari central station, sekitar 10 menit berjalan kaki. Dan mungkin, tempat saya berjalan dan menemukan banyak sekali sex shop yang memajang benda-benda vulgar dan manekin dengan lingerie set, adalah bagian dari red light district. Karena saya berjalan di siang hari, tak ada rona merah disana juga wanita-wanita sexy yang ada di etalase kaca. Saya pun cukup mendengar cerita dari teman-teman saya sepulang dari Amsterdam, bahwa di malam hari saat saya tak ada, mereka mampir ke bar dan makan beberapa potong marijuana cake dan melihat-lihat redlight district. Sayang sekali, mengambil gambar para gadis adalah hal yang dilarang sehingga saya tak bisa melihat gambaran malam di redlight melalui foto-foto mereka. Tapi mayoritas teman saya yang laki-laki berkata, hanya sebagian kecil dari gadis etalase itu yang benar-benar hot dan cantik, lainnya biasa saja, dan yang pasti tidak semuanya bule dengan blond hair, ada yang dari Asia, Amerika, India dan Afrika dengan tariff yang beragam, mulai dari 50 euro.

sex shop
Menaiki tram 26 dari central station, saya menuju Zuiderzeeweg dengan ongkos single trip 2,6 euro (mahal..). Di Brussels, single trip untuk tram/metro adalah 1,7e sedangkan di Gent hanya 0,8e. Jika di Flanders (gent), armada yang menaungi adalah De Lijn (The Line), maka di Amsterdam, armadanya adalah GVB. Lain de lijn, lain GVB. GVB lebih ketat dalam mengawasi penumpangnya, sama sekali tidak ada kemungkinan untuk naik tram secara gratis karena di setiap pintu ada scanner tiket plus penjaganya. Hanya dua pintu yang terbuka, pintu di dekat sang supir dan juga pintu belakang yang dijaga sang penjual tiket. Di Gent, semua pintu tram terbuka saat tram berhenti, penumpang pun bebas masuk dan tak ada paksaan untuk memasukkan tiket (de lijn card) ke dalam mesin. Ini sebabnya sebagian teman-teman saya cuek saja naik tram walau tak ada tiket, saya pun begitu jika hanya menempuh jarak pendek (ngirit dan melanggar hukum).
GVB tram di depan Central Station

Setelah melewati terowongan bawah air (saya tidak yakin apakah itu laut) yang disebut Piet Hein Tunnel, saya pun sampai di Zuiderzeeweg. Tidak sulit mencari apartemen Henin karena dia telah menunggu di dekat tram station. Menginap semalam di kamar Henin membuat saya mendapat banyak inspirasi untuk menjelajah Amsterdam di hari kedua karena Henin membebaskan saya untuk memakai laptopnya. Saya pun mencari tempat-tempat wisata indah di Amsterdam yang akan saya kunjungi esok hari berdasarkan booklet “visitors guide Amsterdam 2010” milik Henin. dan memastikan rute yang harus saya ambil lewat Google map. Di halaman akhir booklet terdapat info mengenai  Amsterdam region seperti Volendam and Marken (historic fishing village), Alkamaar (cheese market and wooden house), Edam (daerah asal keju edam yang berbentuk bundar), Haarlem (tempat rumah-rumah tradisional Belanda) dan juga De Zaanstreek (The Zaan Area, tempat kincir angin dan sungai Zaan). Saya pun memutuskan untuk menuju Zaandam, yang termasuk ke dalam De Zaanstreek setelah tergiur dengan gambar sungai biru gelap dan kincir angin yang ada di booklet, typically Dutch!

Paginya, saya pun membulatkan tekad untuk berpetualang sendirian mencari Zaandam juga Zaanse Schans tempat dimana puluhan kincir angin itu berdiri indah. Tak ingin merepotkan, saya pun tak memaksa Henin untuk menemani, toh saya juga sudah biasa nge-bolang, jadi sama sekali tidak ragu apalagi takut. Atas saran henin, saya pun membeli tiket GVB untuk 24 jam, dengan 7,5 euro saya bisa memakai tram kemana saja di dalam kota Amsterdam. Yah, mungkin akan berguna nantinya untuk keliling Amsterdam sepulang dari Zaandam, karena menurut mbah Google, di dalam kota Amsterdam sendiri ternyata ada kincir angin yang bisa dikunjungi, seperti De Gooyer yang bisa dicapai dengan tram 7 atau De Bloem di Haarlemmerweg dengan menumpang tram nomor 10.

Sampai di central station, saya pun membeli tiket kereta api menuju Zaandam dengan cara yang sangat amatir. Saya tunjukkan tulisan “Zaandam” yang ada di buku dan iapun memberi saya return ticket dengan harga 5 euro dan mengatakan bahwa kereta akan datang dalam 10 menit. Saya pun segera menuju ke platform yang dimaksud. Suasana pagi itu tidak terlalu dingin,, mungkin  sekitar 10 derajat, dan juga masih sepi karena jarum jam belum genap di angka 9. Kereta datang dari arah Alkamar, Noord Holland (North Holland) dan berjalan kembali menuju kesana. Alkamar juga merupakan desa wisata yang akan saya kunjungi jika saya punya kesempatan lagi, karena  seperti yang saya katakan tadi, disana ada traditional cheese market yang menjual gouda cheese khas Belanda yang bulat, besar dan berwarna kuning/orange cerah. Sayang, Alkamar cheese market hanya digelar dari bulan April-September, karena itu saya pun berniat untuk datang lagi dan lagi dan lagi ke Amsterdam sekaligus untuk melihat tulip-tulip yang bermekaran di Keukenhouf saat spring tiba. 


Satu stasiun sebelum Alkamar adalah Koog Zaandijk dan stasiun itulah yang menjadi tujuan perjalanan saya pagi itu (bukan Zaandam seperti apa yang saya katakan pada penjual tiket). Saya merubah tujuan setelah tau bahwa turun di Koog Zaandijk akan membawa saya lebih dekat pada si kincir angin. Benar saja, saat turun di Koog Zaandijk dan keluar dari stasiun, saya langsung menemukan plang yang menunjukkan arah-arah yang harus saya ambil jika ingin menuju ke kincir angin. Sebenarnya ada banyak jalan yang bisa saya pilih untuk menjelajahi the village of zaandijk ini, tentunya, saya mengambil jalan yang ada banyak gambar kincir anginnya.

Zaandijk Map

 Sepuluh menit jalan kaki mempertemukan saya dengan kincir angin yang pertama. Saya begitu excited, ini dia aura Belanda, “hei, saya di Belanda!” mungkin itu yang saya katakan dalam hati. Ternyata kincir angin hijau itu belumlah apa-apa, ketika saya berjalan kaki 50 meter lagi mendekati sungai/ River Zaan, saya pun dibuat lebih terkesima. Mungkin saya berada di lain dunia karena tempat itu begitu indah. Sederetan kincir angin dan rumah-rumah kayu khas Belanda dengan atap yang mengkrucut dengan detail ukiran seolah pas sekali bersanding di sepanjang aliran sungai zaan. Mungkin berkata-kata tidak cukup untuk menggambarkan tempat itu, picture says thousand words, better check the pictures below!

Zaanse Schans
 
Di Zaanse Schans juga ada peternakan kambing, mungkin susu kambing ini yang dipakai untuk membuat keju. Saya pun masuk ke Catharina Hoeve, sebuah cheese shop yang didalamnya juga terdapat alat-alat serta gambaran proses yang dilakukan untuk   membuat sebuah gouda cheese bulat yang lezat. Ya, berhubung jalan-jalan seorang diri, tentu hari itu saya banyak merepotkan orang untuk mengambil foto saya. seperti halnya yang saya lakukan di Catharina Hoeve, mengobrol sejenak dengan turus asal Korea, dan ujung-ujungnya "can you help me taking my picture with this cheese?"
Mungkin karena saya orang asing dan sendirian, banyak orang yang membantu saya memuaskan hasrat narsis di depan kamera. :P

kambing/domba di zaanse schans

Gouda Cheese 14 euro per piece
shanti the explorer
Jam 10.15 saya sudah kembali berada di stasiun Koog Zaandijk, berencana untuk bergabung kembali dengan team dan bertemu mereka jam 10.30 di Central Station. SMS dari  Ramon bahwa mereka mungkin baru akan tiba di Central Station jam 11.30 membuat saya mencari rencana untuk mengisi waktu. Setelah melirik kembali buku panduan Amsterdan milik Henin (yang ikut kebawa sama pulpen-pulpennya), saya pun tertarik untuk membeli tiket Holland International Canal Cruises dengan tiket seharga 13 euro untuk mengelilingi kanal-kanal di Amsterdam selama kurang lebih 1 jam. Paket yang saya pilih adalah 100 highlight cruise. Karena mayoritas orang yang memilih tour ini adalah pasangan/grup, mereka memilih kapal selanjutnya agar bisa lebih leluasa. Saya pun disarankan untuk segera naik ke kapal yang ada di darmaga karena sebentar lagi kapal itu akan berangkat. Aha.. semua kursi di dekat jendela penuh.. Tidaaakk.. saya mau turun dan mengambil kapal berikutnya, namun telat karena yang nakhoda yang berambut putih dan berjanggut dengan seragam biru telah bersiap dan mengambil ancang-ancang untuk segera berangkat. 

Canal Cruises
Perjalanan Canal Cruises ini dimulai dengan berhenti sejenak di NEMO. Sebuah bangunan berwujud kapal besar berwarna hijau tua yang konon, menurut suara electonic voice guide di kapal,  sengaja dibuat untuk menyerap tenaga kerja dan mengurangi jumlah pengangguran. Terbayang berapa banyak pekerja yang direkrut untuk menyelesaikan kapal  raksasa ini. Saat ini NEMO merupakan pusat  belajar sains yang menyenangkan di Belanda. Mungkin suatu saat saya juga harus mengunjungi si hijau ini, melihat sendiri bagaimana sains menjadi obek wisata yang menarik tanpa harus dibuat bosan dan pening.


NEMO-Amsterdam


Dari NEMO, kapal berbelok memasuki kota Amsterdam, melalui beberapa kanal. Dari suara electronic guide yang diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa berbeda, seperti Inggris, Belanda, Italia/Spanyol dan Jerman/Perancis (kalau saya tidak salah dengar), saya pun menuliskan nama-nama kanal yang dilalui, mulai dari Amsteel River, Princess Canal, Emperor Canal dengan lebar 28m dan merupakan kanal terlebar, hingga gentleman canal yang sudah ada sejak abad ke 17. Kanal-kanal di Amsterdam sangat bersih, tidak jauh beda dengan kanal di Brugge atau di Gent, namun belum bisa saya bandingkan dengan kanal di Genoa ataupun Venesia, karena saya memang belum pernah kesana. Di beberapa kanal yang cukup lebar, berbaris rumah-rumah kapal yang lagi-lagi menurut si virtual guide, mencapai 2500 buah! Jumlah yang sangat banyak dan mungkin ini salah satu akibat dari sempitnya tanah di Belanda. Perjalanan mengelilingi kanal di Amsterdam meski tidak terlalu menyenangkan karena hanya melihat air dan bangunan, cukup membuat wawasan saya tentang Amsterdam sedikit bertambah, dan tentunya juga, saya mendapat banyak gambar-gambar indah seperti yang ada di bawah ini.


isn't it gorgeous?
canal Amsterdam, very romantic!



boat houses yang jumlahnya mencapai 2500 buah
Amsterdam


Selesai mengikuti boat trip dengan Holland International Canal Cruise, saya pun berfikir untuk memanfaatan tiket tram 24 jam yang sudah saya beli pagi tadi. Lumayan daripada jalan kaki. Niat pertama saya saat bertandang ke Amsterdam adalah mengunjungi museum Madame Tussauds dan saya menulisnya sebagai must visited place in Amsterdam. Jika tertarik, ada puluhan museum yang ditawarkan di kota kanal ini, seperti Sex Museum Amsterdam Venustempel, Tulip Museum, Amsterdam Historisch Museum, Anne Frank House dan masih banyak lagi. Madame tussauds menjadi pilihan saya. Ingat sekali waktu pertama kali membaca artikel tentang Madame Tussauds London di majalah intisari milik orangtua saya waktu SMP dulu. Penulisnya menggambarkan Madame Tussauds dengan sangat detil sehingga saya selalu terkenang hingga sekarang. Di Eropa, Madame Tussauds bisa ditemukan di London, Amsterdam, Berlin dan juga Wina. Koleksi di setiap negara  mungkin sekali tidak sama, mungkin koleksi patung lilin di London, Los Angeles atau Hollywood lebih lengkap daripada yang ada di Eropa daratan. London adalah tempat pertama kalinya Madame Tussauds didirikan di tahun 1884, dan di tempat inilah patung-patung lilin buatan Marie Tussaud dipajang. 


Marie Tussaud


Setelah mengantri cukup panjang, karena hari itu adalah hari minggu, saya pun membeli walk out ticket seharga 21 euro. Saya disambut dengan patung Barrack Obama yang tersenyum dengan backgroud gedung putih. Seorang petugas Madame Tussauds menawarkan untuk berfoto bersama Obama, saya sih senang-senang saja, dan segera mengambil pose di sisi kiri Mr. President. Tampaknya patung Obama itu termasuk koleksi baru di Amsterdam karena pengunjung tidak diperkenankan mengambil gambar Obama dengan kamera mereka sendiri. Selepas berfoto dengan Obama, saya pun menuju lift yang akan membawa saya ke lantai atas. Sebelum masuk ke zona 12 (kalau memori saya tidak corrupt), pengunjung diingatkan untuk tidak menggunakan kameranya. Benar saja, ada maksud tersembunyi dibalik larangan itu ketika saya dengan cueknya memimpin rombongan memasuki lorong gelap. Di belakang saya menguntit sekitar 7-8 orang dan kami bersama-sama melalui lorong sempit, miring, berkelok, gelap tanpa cahaya sedikitpun. Teror pun dimulai ketika dalam suasana gelap, wajah-wajah seram muncul dan menakut-nakuti kami, walhasil kami semua berteriak ketakutan. Gadis di belakang saya sampai menarik-narik tas saya saking shock-nya. Ya, kira-kira yang ada di dalam sana seperti rumah hantu di Dufan (nggak yakin apa wahana itu masih ada), tapi di Madame Tussauds ini hantunya bukan patung, melainkan orang beneran yang muncul mendadak dan membuat jantungan.


Foto seharga 10 Euro


Lepas dari teror, sampai juga akhirnya saya di lantai atas, pusat dari Madame Tussauds, tempat tiruan  orang-orang terkenal dari seluruh penjuru dunia dipajang. Patung lilinnya dibuat sangat mirip, sungguh sebuah pekerjaan yang memerlukan detil ketelitian tingkat tinggi. Mungkin para pembuatnya mengukur tiap milimeter garis senyum yang dibuat oleh para pesohor ini, panjang alis, panjang rambut, diameter tubuh.. semuanya! Koleksi di Amsterdam ini tampaknya kurang update, karena saya tidak bisa menemukan pujaan hati saya sang "Wolverine" Hugh Jackman juga Edward Cullen si drakula. Sebagian koleksi yang bisa saya sebutkan diantaranya Stalin, Clinton, Bush, Gandhi, Nelson Mandela, Pangeran Charles, lady Di, MJ, Oprah, dan banyak lagi aktor/aktris Hollywood juga selebritas dari dunia olahraga seperti Beckham, Ronaldinho dan Neil Amstrong. Agak repot memang jika naluri ingin foto-foto meninggi namun tak punya partner, tapi saya sungguh beruntung karena banyak orang yang mau membantu saya mengambil gambar, bahkan ada yang menawarkan dirinya untuk mengambil foto saya bersama spiderman di dinding museum. Really lucky that day! Namun.. keberuntungan saya di Madame Tussauds nampaknya hanya sebatas itu, karena saat menuju pintu keluar, seseorang menunjukkan hasil cetakan foto saya bersama Obama dan berkata kalau saya bisa mendapat foto itu dengan membayar 10 euro..."Aaaaahhh.. kirain gratis!" saya sempat mikir-mikir dulu beberapa saat, karena 10 euro bisa dipakai untuk belanja 1 kilo daging sapi di Gent plus 500g buncis,  juga 1 kilo kentang.. haha.."Well. Ok, I'll take that photo" kata saya pada  si gadis.


Tak perlu berlama-lama di Madame Tussaud, saya kemudian memilih untuk memanfaatkan kartu GVB saya dan berkeliling amsterdam dengan tram, meski tak tahu persis tempat mana yang akan saya kunjungi. Berada di tram dan melihat-lihat kota Amsterdam , turun sejenak untuk menyusuri flower market yang menjual beraneka macam bunga dan juga tulip bulb menjadi penutup perjalanan solo saya di hari itu. 


 
Flower market
Tulip yang masih kuncup