Showing posts with label belgia. Show all posts
Showing posts with label belgia. Show all posts
Sunday, November 27, 2011 6 komentar By: shanti dwita

Weekend : mencicipi waterzooi - Belgian gastronomic series

Tinggal sendirian di Mechelen membuat saya semakin autis, miskin interaksi social juga jarang komunikasi dengan orang.  Meski saya sering menyapa  pegawai-pegawai laboratorium tempat saya magang, tentu tak banyak kata yang saya umbar, sebatas “Hi, Hello, Good morning, Smaakelijk, Bye, See you tomorrow, Have a nice weekend!” Cenderung repetitive seperti itu, karena semua sibuk, terlebih saat makan siang bersama di dining room, mereka akan memakai bahasa Belanda. Sejauh ini teman baru yang ramah adalah Tina, Belgian petite girl dengan rambut blonde yang bicara bahasa Belanda,  Pruno, petite size Belgian man (kira-kira 172cm ideal), PhD student yang bicara bahasa Perancis karena dia dari Brussels, dan juga Myriam, Belgian girl dengan badan tinggi dan rambut coklat pendek yang baru pulang dari Ethiopia. Beberapa yang saya anggap lebih autis dari saya adalah cewek Polandia yang sama sekali tidak pernah menyapa, biarpun bertemu berhadap-hadapan di depan freezer minus 80 derajat di basement, juga saat berada satu ruang di autoclave lantai 1, di jalan, di tempat parkir, di stasiun, atau dimanapun. Hah, mungkin dia picky dalam berteman, buktinya dia bisa sangat talk-active saat ngobrol dengan bule2 lain di lab.

Oke, lupakan tentang rutinitas lab yang menjemukan, dan kembali ke masalah saya dan autism saya. Weekend pertengahan November lalu sudah saya habiskan dengan nonton drama Jepang dan Korea, tanpa beringsut sedikitpun dari lantai 4 student house tempat saya tinggal. Pergerakan hanya sebatas toilet, dapur dan shower room. Weekend minggu ini saya ingin membuat sedikit kemajuan, setelah menyadari betapa menyedihkannya mengurung diri di kamar, menangis dan tertawa sendirian saat emosi diaduk-aduk oleh hal sesepele film Korea . Tapi tetap…… tiga judul film berhasil saya khatamkan dalam waktu 12 jam: Humming, A millionaire’s first love dan juga The Classic. Judul-judul itu saya dapat setelah berkosultasi dengan kaskus dan juga prof. google. Tak lebih dari tiga, karena saya telah menyusun agenda yang cukup menjanjikan, berwisata kuliner di Brussels, window shopping di Nieuwstraat, dan ditutup dengan pengajian KPMI Belgia plus makan malam bersama di KBRI.

Sabtu siang ba’da Zuhur saya berjalan kaki menuju Mechelen Nekkerspoel, sejenak memberi cuti pada sepeda lipat super mini, membiarkan ia beristirahat di parkiran gedung housing bersama puluhan sepeda besar lainnya. Jadwal kereta yang tercantum di website SNCB (B-Rail) menjanjikan kereta IR akan datang di spoor 4 jam 13.31 dan tiba di Central Station Brussels 23 menit kemudian. Saya sengaja tidak makan siang, menyisakan ruang perut yang sudah saya kapling-kapling untuk typical Belgian dish semacam steam mussels dengan fries.
Dari stasiun, tujuan saya adalah Galeries Royal Hubert di rue de marche aux herbes  yang didaulat sebagai the most beautiful covered galleries in Europe. Terletak  tak sampai 200 meter dari stasiun, hanya butuh waktu 5 menit bagi orang dengan langkah kaki pendek-pendek seperti saya untuk mencapainya. Dibangun di 1847, Royal Hubert masih tampak mempesona, terlebih seperti saat saya lihat siang tadi, dengan hiasan bola-bola ala lampu disko berwarna emas dan ratusan lampu-lampu kecil benderang yang menghidupkan nuansa natal. Ya, di akhir November semua kota di Eropa sedang bersukaria menyambut natal, ditandai dengan berdirinya booth-booth yang menjual dekorasi natal di pusat kota. Brussels sendiri memusatkan Christmas marketnya di area Grotemarkt, hanya 1 blok dari Royal Hubert.  

Royal Hubert Galleries terdiri dari 3 bagian, Galeries de la Reine (the Queen's Gallery), Galerie du Roi (the King's Gallery) dan Galerie des Princes (the Princes' Gallery). Di sepanjang galeri, terdapat banyak toko, diantaranya toko tas Delvaux dan Longchamp, beberapa café, juga toko coklat yang cukup sering disinggahi turis mancanegara. Mohon saya jangan dihitung sebagai turis, karena saya immigrant legal temporal.
Tujuan saya ke Royal Hubert bukan untuk belanja, bukan juga untuk hunting foto, tapi lebih spesifik untuk makan. Sudah beberapa kali sebenarnya saya melewati deretan rumah makan di dekat King’s gallery, terakhir melangkahkan kaki di Rue des bouchers, nama jalanan itu, adalah saat saya dan teman-teman berburu patung Jeanneke Pis sepulang sholat Idul Adha (idenya seperti manneken Pis— patung anak laki-laki kecil yang sedang pipis--  tapi yang ini berjenis kelamin perempuan).  Saat itu saya sempat melirik papan menu yang di jajarkan di depan rumah makan, yang juga di tunjuk-tunjuk oleh pelayan rumah makan yang siaga berdiri di pinggir jalan untuk menggiring tamu masuk dan membeli hidangan yang mereka tawarkan. Ada paket menu Belgian dish seharga mulai dari 12 euro. Papan-papan menu itulah yang menyeret kaki saya, juga menstimulasi otak saya untuk sekedar mencicip hidangan khas Belgique, di jalanan yang sama, 20 hari kemudian.

Ada banyak sekali rumah makan di Rue des bouchers (French) alias Beenhouwersstraat (Dutch). Hampir semuanya menyediakan beberapa meja di teras untuk pelanggan yang ingin menikmati makanan sambil menikmati lalu-lalang orang yang melintas di jalanan yang tidak terlalu lebar. Menu yang disajikan beragam, mulai dari Belgian dishes dengan mussels sebagai menu andalan, Spanish dengan seafood paella-nya, hingga Italian dengan pasta-nya. Meja-meja di luar tampak tertata rapi, dengan serbet yang terlipat serta piring saji dan ornament bunga. Saya suka suasananya yang terletak di pusat kota, dengan terrace roof warna merah-hijau dan bohlam-bohlam kuning  memancarkan warna tungsten yang berkesan hangat. Saya belum pernah makan di fine dining restaurant, dan saya rasa apa yang ditawarkan di Rue des Bouchers masih sangat jauh dari kategori fine dinning, cukup dibilang casual dining dengan predikat “decent atau fair” saja. Setidaknya setelah membaca beberapa review di trip advisor, saya tau bahwa banyak turis yang merasa tidak puas dengan berbagai alasan, mulai dari harga yang mahal, pelayan rumah makan yang bertampang seperti mafioso, hingga layanan rumah makan yang kurang memuaskan. Membaca komentar salah seorang trip advisor user tentang mafioso ini membuat saya membayangkan squidward di kartun favorit saya –spongebob squarepants. Berhidung besar dan bergaris wajah keras, meski sudah tersenyum ramah seramah-ramahnya untuk menggaet tamu, aura seram-nya masih terasa.

Seorang pelayan rumah makan menyapa saya siang itu “Assalamualaikum.. Would you like to eat, we have seat inside for you..” Ya, selalu begitu. Setiap kali saya (perempuan asia pendek, kulit coklat dan berkerudung) lewat sana, pelayan-pelayan pasti menyapa dengan Assalamualaikum, sebuah trik jitu untuk menarik minat wisatawan dari Malay-Indonesia, atau Turki, dan Timur Tengah. Ucapan salam itu juga keluar dari mulut pelayan yang berwajah arab, dengan rambut hitam klimis, sehingga saya pun tak ragu menjawab “Waalaikumsalam”. Setelah menolak tawaran dari beberapa rumah makan, saya akhirnya menerima pinangan dari Le beouf qui rit, tak jauh dari ujung jalan yang bersentuhan dengan Reine Koninginne (king) gallery.  Tertulis di teras mereka bahwa ada menu seharga 12euro yang bisa saya coba.

Masuk ke dalamnya, saya bertemu dengan sekelompok turis manula asal jerman, sekitar 8 orang, juga 4 pria yang saya tidak tahu asalnya, tapi saya yakin mereka pasti turis juga. Si pelayan berkemeja biru, celana hitam dengan tinggi sekitar 178 cm membawakan list menu untuk saya, masing-masing dengan harga 12 euro dan 18 euro. Ada berbagai pilihan appetizer, main course dan dessert yang bisa saya pilih. Tak lupa, ia pun mengarahkan saya untuk memilih menu yang halal, karena ia juga seorang muslim. Dia tidak merekomendasikan Belgian beef stew yang dimasak dengan beer, juga tidak dengan menu lain yang dimasak dengan wine. Menelusuri setiap nama masaka, saya sama sekali tidak tertarik dengan apa yang tertulis di daftar 12euro, karena untuk main course, hidangan yang ditawarkan adalah jenis pasta dan daging. Melirik menu 18euro, saya akhirnya memilih Mussels gratin untuk appetizer, Waterzooi untuk main course, juga dessert yang akan dipilihkan oleh pihak rumah makan. Menu yang saya inginkan sebenarnya, steam mussels atau mosselsoep dengan fries tidak ada di daftar, either di 12e ataupun di 18e, mungkin ada di daftar menu yang lebih mahal, dengan harga 26-50an euro.

Hidangan pertama datang, beberapa kerang hijau dengan satu cangkang, mungkin sekitar 12 ekor, disusun satu persatu diatas tray, disiram saus tomat yang sudah di simmer dengan basil, ditaburi keju parut dan kemudian dipanggang dengan oven. Saya tidak tau resep aslinya, tapi mungkin itu cara yang akan saya gunakan untuk membuat resep serupa, berdasarkan petunjuk dari indra pengecap saya. Saat mencoba makanan (seringnya masakan Indonesia), biasanya saya langung bisa menebak komposisi yang digunakan, meskipun tidak selalu 100% akurat. Oke, karena ini rumah makan, saya pun akan makan dengan pisau dan garpu, lupakan makan dengan cara “muluk”, meskipun pasti itu yang akan saya lkukan jika saya ada dirumah, menganalogikan mussels gratin dengan balado kerang pedas yang dimakan dengan nasi hangaaatt.. kyaaaaa… Pisau di tangan kanan saya arahkan untuk menyayat roti padat bulat dengan gandum putih di tangan kiri, letakkan roti sejenak di keranjang, colek butter dengan pisau, oleskan ditengah sayatan roti, letakkan pisau, dan segera lumat roti dengan kedua tangan. Ahh.. harusnya saya cuek saja, meski saat itu beberapa pengunjung lain mulai berdatangan dan rumah makan mulai penuh. Dua perempuan di sisi kiri saya dan pasangan Perancis (setidaknya si perempuan ramah menyapa saya dengan berkata bonjour) di sebelah kanan saya. Ya, tak perlu menghiraukan mata mereka yang mungkin diam-diam memperhatikan anehnya cara makan saya.



Selesai dengan mussles gratin, tak perlu menunggu lama, pelayan yang saka kira berasal dari Maroko  tadi segera membereskan meja dan mengisinya dengan piring, sendok dan garpu yang baru, tak ada pisau kali ini, karena main course yang akan tiba adalah waterzooi yang full kuah. Waterzooi adalah makanan khas dari Gent, awalnya dbuat dengan menggunakan bahan dasar ikan, namun saat ini waterzooi dengan ayam menjadi lebih popular, seperti apa yang sedang saya nikmati. Kuah panas berwarna putih kekuningan segera saya seruput dengan menggunakan sendok, untuk mencicipi bagaimana sensasi rasa yang pertama kali disampaikan reseptor lidah untuk disimpan di memori otak saya. Full kaldu ayam, seperti mencicip rebusan daging ayam dengan volume 1:1, satu ekor ayam dengan 1 liter air, gurih, creamy dan pas asinnya, saya sukaa.  Di suapan kedua, saya ikut menyertakan irisan dada ayam yang super empuk, namun tidak hancur dengan serat-serat daging masih melekat sempurna. Di suapan berikutnya, saya tidak ingat lagi yang keberapa, yang jelas puluhan suap hingga kuah, daging ayam, wortel, leeks (seperti daun bawang tapi ekstra jumbo), kentang bulat kecil yang tidak dikupas, brokoli dan juga presley hampir habis. Di akhir perjuangan saya menghabiskan semangkok waterzooi, saya pun menyerah, dan menyisakan sepotong ayam yang tak sanggup lagi saya habiskan, secara… saya nggak terlalu suka ayam. Actually, fish will be better, sayang tidak dicantumkan dalam menu 18euro, hanya ditawarkan di prime list dengan harga 30euro per porsi.



Kekenyangan dengan waterzooi, saya butuh rehat sejenak dengan memainkan game dari ponsel sebelum memakan dessert yang  berupa wafel dengan siraman gula palm. Maklum, saya satu-satunya tamu yang datang sorangan untuk makan disana, lainnya berdua, berempat atau berenam. Tapi saya enjoy saja, toh memang niatnya adalah untuk memanjakan perut dan membuat weekend lebih produktif, setidaknya setelah makan disana saya jadi punya materi untuk ditulis di blog. :D Makan-makan selesai, bill datang setelah saya minta, dan untuk ketiga makanan itu plus segelas orange juice, saya membayar 21euro. Cukup mahal untuk mahasiswa yang datang dengan beasiswa seperti saya, namun untuk pengalaman, saya lebih setuju dengan quote yang pernah saya baca di web, seorang traveler bilang “save memories, not money!” Benar-benar wow, tapi ya, kalau bisa saya ingin sedikit mengubahnya menjadi “save memories and money!” setidaknya itu benar-benar  “saya banget”. Ingin mengumpulkan uang untuk menjelajah dunia maha luas yang telah diciptakan Allah dengan sempurnanya, melihat midnight sun di lintang tinggi mendekati kutub, menginjakkan kaki di bulir-bulir pasir gurin di Timur tengah, tapi juga ingin membesarkan anak-anak saya dengan fasilitas yang cukup agar mereka lebih berbahagia dari saya. InsyaAllah!

Friday, November 18, 2011 0 komentar By: shanti dwita

Durbuy : The smallest town in the world

Hari Jumat di akhir Oktober saya chatting dengan beberapa teman di Gent lewat Facebook inbox. Yah, sejak tinggal di Mechelen, saya selalu komunikasi dengan teman-teman pelajar Indonesia di Gent lewat Fb, mailing list atau sms. Akan terasa menyenangkan jika di Mechelen ada mahasiswa Indonesia juga, tapi rasanya saya hanya sendiri di kota ini, satu-satunya warga Indonesia yang pernah saya temui adalah Bu Aik. Pertemuan dengan beliau juga terjadi secara kebetulan saat kami sama-sama menunggu bus di halte Veemarkt. Pagi itu saya hendak menuju tempat magang saya di Sint-Katelijne Waver, 6km dari Mechelen. Bu Aik menuliskan alamat dan nomor telefonnya di tissue dengan terburu-buru karena bis nomor 7 yang ditunggunya datang. Sejak itu kami belum pernah bertemu lagi, mungkin saya harus segera menyusun agenda weekend saya untuk menyempatkan main ke rumah bu Aik. Selama ini setiap weekend saya selalu plesir, seringnya ke Gent dan Brussels, jarang sekali berada di Mechelen.

Ngomong-ngomong soal plesir, dalam chat saya dengan teman di Gent, saya akhirnya memutuskan untuk nimbrung dengan group mahasiswa Food Tech – VLIR di Universiteit Gent yang berencana mengunjungi Durbuy. Sebenarnya ada rencana juga untuk main ke Lille, Prancis esok Sabtunya, tapi saya batalkan karena saya rasa trip ke Durbuy tampak lebih promising. Saya sama sekali tidak pernah dengar tentang Durbuy sebelumnya, hingga teman saya bilang bahwa Durbuy adalah the world’s smallest city. Setelah Googling, dan melihat gambar sudut-sudut kota Durbuy di internet, saya tertarik juga, dan langsung memutuskan untuk ikut.

Sabtu siang jam 10 saya tiba di Sint Pieters, mampir sebentar ke tempat tinggal lama saya di Gent untuk mengambil surat, karena alamat residence card juga bank account saya masih menggunakan alamat lama. Jam 11.00 saya kembali ke Sint Pieters, bertemu dengan dua teman Indonesia dan satu teman program VLIR dari Filipina. Kami menumpang kereta IC jurusan Eupen dan berhenti di Liege sambil menunggu kereta lain yang akan membawa kami ke Barvaux, stasiun SNCB terdekat dari Durbuy.  Mungkin hari itu kami kurang beruntung. Kereta yang menuju Barvaux hanya lewat dua jam sekali dan yang terakhir baru saja lewat. Waktu yang cukup panjang untuk menunggu kereta yang baru akan datang pukul 2.15 saya habiskan dengan duduk di kedai kebab yang ada di seberang stasiun Liege. Sebenarnya saya tidak lapar, tapi saya ingin numpang sholat disana, karena paling tidak, penjualnya kan orang Turki, dia pasti akan maklum jika melihat perempuan muslim seperti saya sholat di salah satu bangku di kedainya. Selesai memesan durum kebab (saya nggak suka kebab dengan roti), saya ke toilet untuk wudhu dan segera duduk di pojok kedai agar tak mencuri perhatian pengunjung lain. Saat saya sedang sholat, pelayan kedai datang ke meja saya mengantarkan durum pesanan saya dan kemudian meletakkannya di meja. Selesai sholat, dia bilang pada saya dengan bahasa Perancis plus bahasa isyarat bahwa saya salah menghadap kiblat. “Yaa.. saya sholat menghadap kemana saja, mas, nggak punya kompas soalnya, but anyway, makasih ya..” ujar saya.

Duduk-duduk di depan stasiun Liege yang berdiri megah dengan warna putih dan pilar sirkular di sekelilingnya, cuaca cerah, kami pun tergoda untuk membatalkan rencana ke Durbuy, dan berfikir untuk keliling Liege saja. Saya bilang pada mereka bahwa di Liege ada outlet Mango yang menjual produk-produk Mango dengan harga super miring. Namanya perempuan, begitu mendengar produk branded harga miring, mereka semua langsung bersemangat. Mereka bilang lain kali mereka akan datang lebih pagi untuk wisata belaja di Liege, tapi kali ini baiknya kami tetap pada tujuan utama, Durbuy.

Finally… kami tiba juga di Barvaux, stasiun kecil, bahkan lebih kecil dari stasiun kereta di Untung Surpati, Labuhan Ratu dekat rumah saya di Bandar Lampung. Tidak ada loket yang menjual tiket, jadi penumpang yang naik dari Barvaux bisa membeli tiket langsung ke kondektur-nya. Dari Barvaux menuju Durbuy, kami naik TEC service, yang kalau di daerah Flanders (Belgia utara), layanan transportasi macam ini dijalankan oleh DeLijn. TEC yang kami naiki tidak berwujud bus seperti yang ada di kota-kota Wallonia lain semisal Charleroi atau Aarlon. Mungkin karena Durbuy kota kecil, TEC nya juga hanya berupa minibus dengan kapasitas penumpang maksimal 20 orang. Sepanjang perjalanan yang berliku, dengan pemandangan padang rumput juga sapi-sapi gemuk, bapak supir yang sudah sepuh memutarkan lagu-lagu romantic macam How Deep is Your Love-nya Take That. Suasana kota kecil yang memang hanya cocok untuk refreshing mulai terasa. Beberapa tempat wisata yang menyuguhkan wisata adventure seperti kayaking, horse riding, ataupun cycling. Saya juga sempat melihat arena Go-kart, patut di coba untuk yang suka duduk di belakang kemudi.

Turun di halte TEC, saya langsung bisa menikmati suasana autumn khas provinsi Luxembourg di Wallonia, dengan daun warna-warni, merah, kuning, coklat, hijau dan oranye.. langit biru serta hamparan rumput yang masih hijau. Berbeda dengan kontur Flanders yang rata, di Wallonia mata saya cukup tersegarkan dengan pemandangan bukit-bukit dengan pepohonan di hutan Ardennes yang mulai meranggas. Tepat di gerbang kota  jembatan kayu dengan railing berwarna putih yang membentang di atas Ourthe river seolah mengucapkan selamat datang dan member jalan pagi para turis untuk melihat lebih jauh ke setiap sudut kota Durbuy. Di tepian Ourthe river, berdiri tegak bangunan yang menjadi landmark kota Durbuy – Castle of the Counts of Ursel, dibangun oleh keluarga Ursel di abad 11.

Ourthe river dengan Ursel Castle-nya

Di seberang kastil, berdekatan dengan Church of Durbuy, ada La Falize, seberti bukit yang terbelah dengan guratan-guratan sirkular menyerupai annual ring di sisik ikan teleostei. Ha… entah mengapa saya menganalogikan La Falize dengan sisik ikan, bukan dengan pola cambium di pohon berkayu keras yang juga sama-sama membentuk pola tahunan, mungkin karena saya mantan anak ikan di IPB dulu.

Durbuy memang mendapat predikat kota terkecil di dunia, dan mereka masih menggunakan slogan itu untuk menarik minat para wisatawan. Menilik kembali sejarahnya, Durbuy mulai disebut sebagai kota terkecil sejak tahun 1331. Namun saya tak yakin bahwa julukan itu masih valid hingga sekarang, mengingat di tahun 1977, Durbuy mengalami pelebaran wilayah dengan menggaet beberapa village di sekitarnya untuk masuk ke dalam wilayah administratif kota Durbuy. Well, meski tidak terbukti sebagai kota terkecil, saya tetap tidak masalah jika Durbuy tetap berbangga hati menyebut dirinya kota terkecil di dunia.

sudut kota Durbuy

Menyusuri jalanan Durbuy tidak akan membutuhkan waktu lama. Satu hingga satu setengah jam mungkin akan cukup untuk mengeksplor seluruh kota. Sebagai kota medieval- abad pertengahan-, bangunan-bangunan tua di Durbuy di dominasi oleh warna abu-abu batu alam ala Ardennes. Di sepanjang jalan utama (yang meski disebut jalan utama namun ukurannya tidak terlalu lebar, hanya cukup untuk dua mobil kecil saja), banyak terdapat café dan restaurant yang layak di coba. Atmosfir yang terbentuk secara keseluruhan setelah berjalan ke sudut-sudut kota Durbuy adalah relaxing, bukan tipikal kota yang cocok untuk para workaholic, karena semuanya serba santai dan slow moving.

Wednesday, November 16, 2011 0 komentar By: shanti dwita

Tiba di Mechelen

Hari ini akhir minggu kedelapan saya berada di Mechelen, kota di Provinsi Antwerp yang membentang strategis diantara 3 kota besar, Antwerpen, Brussels serta Leuven, dengan jarak tempuh masing-masing sekitar 20 kilometer saja (salah satu sebab setiap weekend saya sering main ke Brussels J). 

Masih lekat dalam ingatan, hari pertama saya menginjakkan kaki disini. Membawa satu koper besar berisi pakaian, laptop dan survival stuffs untuk hidup di Mechelen at least selama seminggu pertama. Kereta IR jurusan Kortrijk-Mechelen yang saya naiki dari Gent saat itu berhenti di platform 1. Dengan susah payah saya menurunkan koper berat dari kereta, lalu melongok kesekeliling berharap menemukan lift atau paling tidak tangga berjalan. Hyaa..seperti angan-angan semu karena stasiun Mechelen tidak lebih besar dari St. Pieters, mungkin hanya sekaliber Gent Dampoort. Apa boleh buat, saya pun dengan Bismillah mulai menuruni 40an anak tangga sambil membawa koper, prinsip saya saat itu benar-benar alon-alon asal kelakon, dengan misi sederhana, sampai di lantai bawah dengan koper mulus tanpa cela.

Tiba di lantai dasar, saya buka lagi arah2an menuju ke Varkenstraat 6 tempat saya akan tinggal, yang saya dapat dari NMBS web. Tertulis “naik bis nomer 5 jurusan Tivoli turun di Biest”. Ah, see! Kind of easy. Setelah tanya sana sini, ketemu juga platform 2 tempat pemberhentian Delijn bus service. Dari kejauhan, bis nomor 5 tampak, saya bersiap untuk menyetop, dengan sedikit berlari. Tapi entah mengapa bis situ tak berhenti tepat di tempat saya menunggu. Ahh… ini pasti karena satu bis “geen dienst –no service” yang seenaknya ngetem tepat di bus stop, sementara supirnya sedang asyik bercengkrama dengan perempuan berambut coklat tua, aihhhhhh… “come on… move move!!” gerutu saya dalam hati. Mood saya memang sedang jelek karena kelelahan mengangkat koper ditambah perkiraan cuaca yang bilang kalau ada peluang hujan di Mechelen siang itu. Saya lihat langit yang memang tampak mendung, saya hanya bisa berdoa agar hujan tidak turun saat saya masih struggling mencari alamat.

Setelah sabar menanti 15 menit untuk bis berikutnya, saya pun berada di bis nomer 5, duduk dengan tenangnya sembari membaca nama2 halte yang saya lewati, bersiap pencet bel begitu melihat kata “mechelen biest”. Impresi pertama saya saat melihat Mechelen dari jendela bus adalah 80% mirip dengan Gent. City hall, tower dan katherdalnya benar2 persis sama, hanya kurang kanal, graslei dan korenlei plus sungai Lys yang mengalir diantara keduanya. Shopping street di Mechelen juga lebih panjang dan jejeran toko dengan brand yang lebih beragam, membuat saya langsung membayangkan puasnya berburu barang murah di winter sale Januari nanti. Terlalu lama berangan, saya terlambat menyadari kalau bus yang saya naiki sedang berhenti di Biest sekarang. Namun terlambat, mesin bis kembali menderu, memberi saya keputusan bahwa saya harus berhenti di bus stop berikutnya.  

Dengan hanya berbekal bahasa Inggris, saya bertanya ke beberapa orang tentang Varkensstraat 6. Beberapa menjelaskan, tapi dengan bahasa Belanda.  Intinya, saya harus balik kea rah city center. Dewi keberuntungan datang melalui 2 perempuan berumur, yang meskipun dengan bahasa Inggris terbatas, mengajak saya naik ke atas bis nomor 5, kembali ke Mechelen station, karena bus nomer 5 dari Tivoli Park menuju Mechelen station tidak melewati city center—tempat dimana saya seharusnya turun. Si nenek bilang, alamat yang saya cari dekat dengan Gemeente, di dekat tower Belfry. Nampaknya raut wajah saya yang bingung masih terlihat meskipun saya sudah bilang,” sure I believe I’ll find it, thank you very much“ sambil tersenyum.

Satu dari dua wanita berumur tadi turun di halte kedua dari bus stop tempat kami sama-sama naik tadi. Mereka berpisah di halte itu, si nenek bilang pada temannya bahwa ia akan mengantar saya dulu mencari alamat, baru kemudian akan menyusulnya setelah selesai mengantar saya.  “Don’t worry, I will go with you” kata nenek itu pada saya. Alhamdulillah, kembali bertemu orang baik di negri yang serba asing ini. Di perjalanan napak tilas saya, dengan rute yang sama menyusuri Brull –main street di Mechelen city center-, saya mengobrol dengan nenek baik hati yang menyebutkan namanya Clamentine, tapi biasa dipanggil Tienneke itu. Ah iya, setelah 8 minggu sejak pertemuan, nama Tienneke masih melekat erat di memori saya, meski saya tak bisa mengingat raut wajahnya dengan jelas. Usia oma Tien sudah 70 tahun  namun masih gesit beraktivitas bersama manula2 lainnya. Salah satu aktivitasnya, tentu seperti yang sedang beliau lakukan, menolong anak muda kesasar seperti saya, hehe.

Beberapa meter setelah melampaui City Hall di Grotemarkt, oma Tienneke menunjukkan, itu dia Varkensstraat! Oma bilang, apa yang tertulis di Delijn maps salah, karena seharusnya saya berhenti di Veemarkt, instead of Biest. Dari Veemarkt, tulisan Varkensstraat di plat berwarna biru yang menempel di dinding apartment abu-abu nampak jelas terbaca. Saya pun yakin saya tidak salah alamat. Saat mengucapkan selamat tinggal ke oma tienneke, saya memeluknya erat di dalam bus, sebagai ungkapan terimakasih yang begitu besar. Alhamdulillah!
Friday, November 5, 2010 2 komentar By: shanti dwita

happy birthday Shanti


Sebenarnya saya bukan orang yang suka merayakan ulang tahun, karena menurut saya, hari kelahiran itu sama istimewanya seperti hari-hari lainnya. Waktu SMA dan berumur 17 tahun, saya melewati 25 oktober dengan mentraktir teman-teman nonton di 21 (lupa judul film-nya). Di ulang tahun yang ke 21, pacar (hiks.. males banget menyebutnya pacar) membuatkan pesta ulang tahun kecil dengan nasi tumpeng dan mengundang teman2.. Setelah menikah, ulang tahun dilewati dengan dibangunkan jam 12 malam dan mendapat ucapan “selamat ulang tahun sayang” dalam keadaan sama-sama setengah sadar lalu tidur lagi. Sekarang di usia 27? Saya sendirian merantau di negeri orang, sama sekali tak berharap akan ada perayaan apapun.

Senin, 25 Oktober 2010 seperti biasa, saya bangun jam 3 pagi. Setelah melakukan ini dan itu yang dianggap penting, saya pun memilih online di facebook dan membalas ucapan selamat dari teman juga murid dan mahasiswa. Kebetulan hari tidak ada kuliah yang mengaruskan saya hadir di kampus. Minggu ketiga setiap modul selalu diisi dengan self directed learning dan mempersiapkan paper, presentasi juga belajar untuk final exam di hari Jumat. Mempertimbangkan 4 faktor, tidak kemana-mana, hari lahir, hari Senin dan juga kewajiban membayar hutang puasa, saya pun meniatkan diri untuk berpuasa. Lengkap sudah saya melewati hari itu dengan tidur dan membalas 200an lebih ucapan di wall saya sambil sesekali mencari-cari jurnal yang bisa saya jadikan acuan untuk menulis paper tentang environmental vegetarianism

Jam 4 sore, ketika saya masih bermalas-malasan, bel kamar juga bel rumah berbunyi. Dari kamar saya melihat ada dua teman saya yang datang dan menunggu dibukakan pintu di bawah sana. Saya pun bergegas mencari bergo (istilah yang saya dapat dari Sara, teman kuliah saya, tentang jilbab praktis untuk sehari-hari di rumah) dan segera menuju ke bawah untuk membukakan pintu. 

Ketika pintu dibuka, saya melihat Chooda (teman dari Nepal) menyembunyikan 1 kotak berwarna putih, dan saya pun segera menangkap maksud dibalik semua itu. Mungkin ini sebuah kejutan. “Come in!” kata saya menyuruh mereka masuk lengkap dengan isyarat kepala. “No, I’m waiting for haqqani” katanya. Haqqani adalah teman satu flat saya yang tinggal di lantai 1. Di lantai 2 ada Esther dan Steve dari Spanyol, dan di lantai 3 ada saya juga Lydia. “Ok, I’ll call him” kata saya sambil melangkah ke kamar Haqqani. “No, he’s out now!”kata Chooda sambil menerangkan kalau haqqani sedang membeli sesuatu di Proxy (jaringan supermarket Delheize, kalo di Indonesia seperti Superindo). Sajid yang datang bersama Chooda pun bertanya “where’s Lydia?”- “Well, she’s in Lille now”kata saya- “Yeah, but she said she’d be home at 3.30”

Tanpa banyak basa-basi lagi, saya pun mempersilahkan mereka untuk segera menuju ke dapur dan duduk di sana dengan manis. Benar dugaan saya, isi kotak itu adalah kue ulang tahun, sajid yang membelikannya untuk saya. What a nice guy! Dia juga sepertinya yang mengundang orang-orang dari kelas SEFO untuk datang ke rumah saya sore itu. Haqqani yang kemudian datang pun segera menggoreng 1 kg French fries, juga demikian halnya dengan Lydia yang membuatkan fruit tea dari Lille untuk kami semua. Sepertinya semua orang tak sabar untuk segera mencomot fries dengan saus tomat juga mencicipi hangatnya teh, termasuk saya. Dengan santainya saya mengambil fries dan makan. Setelah habis beberapa suap, saya pun mulai sadar dari mimpi “Astaga! Hari ini saya puasa” dan saya pun mendadak berhenti dan mulai senyum-senyum sendiri. “Hey, why are you smiling like that?? protes Rosina.. “Mmmm.. honestly.. I am fasting today..”- “Whaaaaatt??” mereka pun terperangah mendengar jawaban saya.



BIRTHDAY GIRL bantu-bantu bikin french fries

 Yah, berbagai pikiran berkecamuk di kepala saya. Jam 4 sore, mutus puasa, padahal dalam 2,5 jam azan maghrib akan segera berkumandang. Tapi saya juga nggak tega membiarkan surprised party yang telah mereka buat terbengkalai jika saya tak memakan kue itu. Pilihan sulit. Ya, sudahlah.. untuk menghargai mereka yang sudah datang, saya pun merelakan puasa saya hari itu terputus di jam 4 sore. Setelah difikir-fikir, itu pula sebabnya kenapa saya tak punya makanan apapun untuk mereka di hari itu. Saya puasa seharian, sama sekali nggak makan dan nggak masak.. Benar-benar bukan tuan rumah yang baik karena membiarkan para tamunya datang membawa makanan mereka masing-masing untuk merayakan ulang tahun saya.

Bithday Cake pemberian sajid
 
Saya kemudian duduk di hadapan kue ulang tahun serta lilin yang sudah dinyalakan, mereka mulai menyanyi dan mengganti lirik lagu selamat ulang tahun “happy birthday to you” dengan “how old are you now? Saya jawab “twenty seven” dengan nada fals karena benar2 ngga ada di lirik, dan kemudian rosinah menggantinya lagi dengan “you are like monkey..”- “you are like monkey”… Aaaaaaaaaaahhhhh, saya jadi seperti anak2… 

Teman-teman saya yang datang dengan membawa kamera mereka pun dengan sigap mengambil foto saya. OH..NO!.. saya tak siap untuk difoto hanya dengan berpakaian polo shirt serta training dan sandal jepit, tanpa make up, plus muka pucat karena tidur seharian.
Jadilah, Senin itu saya melewati hari ulang tahun saya bersama teman-teman. Rasa sepi berada jauh dari keluarga sedikit teralihkan dan berganti senyum ceria. Sangat senang memiliki teman-teman yang perhatian dan membuat saya merasa benar-benar ada di dunia ini. Thanks guys!

Happy bday to me!

Thursday, September 23, 2010 3 komentar By: shanti dwita

Belgia dan Eropa

Membaca jadwal kuliah yang dibagikan oleh Monika senin lalu membuat saya sedikit surprised. Ada materi Traceability, Labelling & Packaging, Microbiological Issues and Systems, Basis on Molecular Biology Techniques, Genetic Modification Technology and Food Safety dan ada juga materi  berjudul "From Europe with Love". "Ah ya, ini pasti menyenangkan" pikir saya waktu itu sambil berharap akan ada lagi kejutan dari penyelenggara program untuk mahasiswa EM SEFO 2010. 

Jam 14.00 kuliah dimulai. Siang itu saya berangkat agak terlambat karena azan zuhur baru berkumandang (melalui software azan di ponsel saya) jam 13.40. Daripada menunda sampai jam 16.00 selesai materi, saya lebih memilih untuk menunaikannya sebelum berangkat kuliah. Jadilah saya berlari-lari sendirian mengejar waktu agar tidak terlambat sampai ke kampus. Kurang dari sepuluh menit saya pun sampai. Andai saya punya sepeda, mungkin waktu tempuhnya akan semakin cepat, tapi itu dia, saya belum sempat browsing ke website yang memfasilitasi rental sepeda untuk mahasiswa di Gent, jadi untuk sementara, kemana-mana jalan kaki (plus lari). 

Satu menit merasakan duduk di kursi kelas, sang pemateri pun datang. Namanya Toon Van den Abeele. Wajahnya mirip siapa ya, mungkin Sven Gorran Eriksson dengan versi rambut ikal abu-abu putih lengkap dengan kacamata dan jasnya. Dilihat dari namanya, mungkin ia keturunan Belanda, tapi logat bicaranya dominan ke Prancis. Ya, orang Belgia rata-rata menguasai tiga bahasa, Belanda, Perancis dan Inggris (dan juga Jerman, tapi untuk daerah Flanders, rasanya tidak ada yang berbahasa Jerman). Jadi biarpun saya ke toko daging, saya tetap leluasa mengorder barang cukup dengan bahasa Inggris (dan itu pula sebabnya bahasa Belanda yang saya pelajari sedikit-sedikit tidak pernah berkembang)

Kelas dibuka dengan ditampilkannya peta negara-negara asal peserta EM SEFO, mulai dari Polandia, Brazil, Ekuador, Nikaragua, Uganda, Bostwana, India, Pakistan, Ethiopia, Serbia, dan tentu saja Indonesia. Tentang Indonesia, Toon menceritakan tentang Multatuli (Eduard Douwes Dekker) seorang penulis Belanda yang melahirkan novel satir Max Havelaar, yang berisi tentang kolonialisasi Belanda di Indonesia. Ia bilang, ia belum pernah ke Indonesia. Hal yang ia tahu tentang Indonesia, adalah fakta bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia (Oya?Ya!)

 BELGIA

Toon pun melanjutkan dengan Belgia, negara tempat saya tinggal saat ini. Hal-hal apa saja yang lekat dengan belgia? Ia bilang kalau Belgia terkenal dengan lace (tenunan kain putih khas Brugge), coklat dan juga bir. Tujuan wisata utama di Belgia adalah Gent, Brussels, Antwerp dan juga Brugge (beruntunglah..empat-empatnya sudah saya datangi). Oya, di setiap kota pasti ada bangunan yang menjulang tinggi yang disebut Belfort tower dan menurutnya Belfort ini bukan bangunan indah semata, tapi juga simbol dari independensi sebuah kota. Tentang bahasa, seperti yang sudah saya bicarakan di tulisan sebelumnya, ada tiga bahasa utama yang digunakan di Belgia, yaitu Belanda, Perancis dan Jerman. Toon menceritakan sejarah Eropa sebagai asal muasal digunakannya 3 bahasa tersebut di Belgia, dan saya sedikit tidak yakin, apa saya mampu menceritakannya kembali sejelas apa yang dia katakan siang itu. Well, let's give it a try!

LINGUISTIC BARRIER

Linguistic  barrier di Belgia (mungkin?) berawal dari masa kejayaan Roma dengan bahasa Latinnya yang menyebar ke seluruh daratan barat  Eropa. Seiring dengan berkurangnya dominansi Romanic di Eropa pada abd ke-5, bahasa latin tersebut bermanifestasi menjadi bahasa lokal seperi Catalan, French, Italian, Portuguese, Romanian dan juga Spanish. Maraknya pelayaran internasional yang dilakukan oleh pelaut-pelaut yang terkenal di buku sejarah SMP saya seperti Bartholomeus Diaz dari Portugal yang menemukan Tanjung Harapan di Afrika Selatan, Vasco da Gama dengan petualangan India-nya dan juga Alfonso de Albuquerque membuat bahasa ini tersebar ke seluruh dunia. Dan itu pula sebabnya penduduk di latin Amerika yang berada di sebelah barat Amerika Selatan (seperti Argentina dan Ekuador) menggunakan bahasa Spanyol dan yang berada di sebelah timur (seperti Brazil) menggunakan bahasa Portugis.

Jika Roma dan eropa baratnya punya bahasa latin (romanic), maka penduduk di Eropa Utara punya bahasa yang disebut dengan Germanic languages. Beberapa bahasa yang berinduk dari Germanic  ini diantaranya Inggris, Belanda, Jerman dan bahasa Afrika. Tentang bahasa Afrika ini saya baru sadar ketika guru bahasa belanda saya bilang, cara saya ngomong Belanda persis seperti orang-orang di south Afrika, dan katanya dia suka. Haa? Tadinya saya fikir, apalah maksud pak guru ini berkata seperti itu, dan sekarang saya baru tahu kalau bahasa Afrika dan bahasa Belanda sama-sama beinduk di Germanic languages. Dengan bermigrasinya penduduk utara ke sentral Eropa, maka Germanic ini pun hingga sekarang berevolusi menjadi bahasa Inggris, Jerman, Belanda dan dipakai di masing-masing negara tersebut. Oke, kesimpulannya, di Eropa barat bahasanya adalah keturunan Romanic, dan  di Eropa Tengah keturunan Germanic. Bagaimana dengan Eropa Timur? Tentu, mereka  juga punya grup bahasa sendiri yang disebut dengan Slavic language.

Pembatasan bahasa itu secara maya tergambar dengan adanya linguistic dan cultural border antara Romanic dan Germanic, dan malangnya, linguistic border itu jatuh di Belgia. Itu sebabnya di selatan Belgia, bahasa yang digunakan adalah bahasa perancis (romanic) dan untuk warga di Utara, bahasa yang dipakai adalah Belanda (germanic). Perbedaan bahasa yang ekstrim ini membuat penduduk Flanders (utara) dan Wallonia (selatan) sering berselisih paham hingga sekarang. Dan itu sebabnya peran raja sangat diperlukan sebagai penengah untuk meredakan kekisruhan (?). Di Belgia, raja bukan hanya sebuah simbol, ia juga punya peran di pemerintahan, ia kepala negara. Meski pemerintahan  dijalankan oleh perdana menteri (prime minister), keputusan menentukan PM ini ada di tangan raja. masuk akal, jika kedua pihak (Flanders dan wallonia) sama-sama ngotot ingin menduduki posisi PM, lantas siapa yang menengahi? Itu dia tugas sang raja.


Raja Belgia saat ini adalah Albert II. Ia adalah raja keenam sejak Belgia memisahkan diri dari Belanda di tahun 1830 dan menyatakan sebagai negara merdeka. Raja pertama adalah Leopold I, sang pangeran Jerman yang ditugaskan menjadi raja Belgia (mungkin daripada tidak ada yang menjadi raja, orang Jerman pun jadilah). Lalu ada Leopold II yang hobby memotong tangan orang kongo hingga dijuluki "The Butcher of Congo", Albert I, Leopold III, Boudewijn dan akhirnya Albert II.

SEDIKIT TENTANG EROPA : Unification by Violence

Sama halnya dengan sejarah Belgia, sejarah Eropa pun menarik untuk dibicarakan. Hal menarik yang bisa saya kutip dari penjabaran Toon Selasa itu dalah bahwa sejak dulu usaha untuk menyatukan Eropa daratan telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Dan judul slide yang ditampilkan oleh Toon juga sangat menarik "Unification of Europe by Violence". Di baris pertama setelah judul itu, tertulis nama Charles V. Dia seorang raja spanyol yang lahir di Gent dan memiliki kekuasaan yang luas di Eropa setelah berhasil memenangi banyak peperangan. Awalnya, wilayah yang dimiliki hanyalah the burgundian netherlands (low countries : kira-kira daeraah ini mencakup belanda, belgia dan luxembourg), tapi kemudian meluas bahkan sampai ke Amerika dan Filipina (dengan ekspedisi Magellan) di abad ke 15. Lalu mengapa Charles V disebut melakukan kejahatan dalam menyatukan Eropa? Toon berkata bahwa Charles V menentang protestan, dan dalam istilah  mudahnya, Charles ingin Eropa bersatu dalam satu agama yaitu katholik.

Nama kedua yang tertulis di slide itu adalah Napoleon I (Napoleon Bonaparte) yang pada tahun 1800an menjadi orang yang berjasa dalam membangun perpolitikan di eropa. Saat itu France Empire sedang dalam masa kejayaan, dan Napoleon ingin agar semua wilayah kekuasaannya menggunakan bahasa Perancis. Sejenis dengan Charles V yang ingin eropa bersatu dalam satu agama, Napoleon pun ingin menyatukan Eropa dalam satu bahasa, yaitu bahasa Perancis.

Orang ketiga yang ditulis oleh Toon? Ya, dia Adolf Hitler! kanselir Jerman kelahiran Austria yang juga adalah pemimpin NAZI. Hitler ingin mewujudkan hegemoni/kepemimpinan NAZI Jerman di seluruh Eropa dengan mengedepankan Lebensraum (ruang istimewa) bagi ras Arya dan menganggap semua makhluk selain arya adalah kelas bawah dan layak untuk dibasmi. Dan hal itu memang dilakukannya, dengan membasmi kaum Yahudi di beberapa negara. Satu hal yang saya ingat tentang pembantaian ini adalah apa yang tergambar dalam film "Life is Beautiful", salah satu film favorit saya hingga sekarang yang membuat saya menangis getir menyaksikan betapa sang ayah  yang lucu dan penyayang  berusaha tegar hingga hela nafas terakhir untuk menenangkan anak dan istrinya, padahal ia tahu, ia akan segera menemui ajalnya. That's the greatest love!

Life is beautiful dan Band of Brothers

Membicarakan film dan sejarah Eropa, apalagi perang dunia kedua dimana Life is Beautiful mengambilnya sebagai setting, jelas akan membuat saya tidak berhenti ingin bercerita. Saya pun teringat dengan serial Band of Brothers. Kalau Life is Beautiful bercerita tentang tawanan yahudi yang ada di Jerman (yang nantinya akan dibebaskan oleh pasukan sekutu Amerika), maka Band of Brothers bercerita tentang pasukan khusus penerjun udara (Easy Company, atau regu E) dari Amerika yang bertugas membantu perlawanan Perancis melawan Jerman di perang dunia kedua. kenapa terjadi perang? Ya, ujung-ujungnya kembali ke masalah hegemoni tentara Jerman di Eropa yang ditentang olah banyak negara, terutama Perancis dan Inggris (plus Amerika yang hingga sekarang masih menjadi sahabat karib Inggris dalam berbagai hal :P). Band of Brothers bersetting di tahun 1944, dan karena disajikan dalam bentuk film, sedikit banyak saya mengerti dengan plotnya, meski nggak paham betul dengan sejarahnya. Pendaratan tentara sekutu di Normandy (prancis) membersitkan saya untuk mengunjungi daerah itu suatu hari nanti. Dan tentu, suami saya bilang "kalau nanti kamu ke Belgia, coba deh ke Bastogne". Bastogne ini adalah tempat dimana tentara Amerika banyak yang bertumbangan karena tak sanggup melawan dinginnya winter di akhir 1944 itu. Satu dialog yang saya ingat dalam film "kita akan sampai di Jerman pada saat natal dan merayakan malam natal disana". Dialog antara tentara yang tampak putus asa dengan segala kondisi perang, terlebih lagi mereka sebelumnya adalah orang sipil yang digembleng habis-habisan dalam waktu singkat. Hingga sekarang saya masih ingat hal itu dan ingin sekali pergi ke Bastogne. Guru saya erik bilang, di Bastogne terdapat banyak ornamen sejarah yang dibangun untuk mengenang tentara Amerika yang wafat. Sangat indah, katanya. tapi ketika saya tanya angkutan umum apa yang saya harus naiki kalau ingin pergi ke Bastogne, dia bilang, lebih baik nyetir sendiri. Ooww..


Uni Eropa (kini)

Kembali ke masalah mempersatukan Eropa, hingga mencapai terbentuknya Uni Eropa saat ini adalah sebuah perjalanan yang panjang. Setelah perang dunia dua usai, perancis dan jerman pun mulai menata hubungan baik. Pada tahun 1957, melalui Treaty of Rome (hehe, saya ingat jelas nama perjanjiannya, karena saya mencatat di buku saat Toon menerangkan. Bayangkan betapa niatnya saya belajar sejarah Eropa!) masing-masing wakil dari Belanda, Perancis, Belgia, Luxemburg, Italy dan Jerman Barat sepakan untuk mendirikan komunitas atom & ekonomi Eropa dan ini adalah cikal bakal berdirinya Uni Eropa. Tahun 2002, euro diluncurkan sebagai mata uang bersama, namun Inggris, Swiss dan Norwegia menolak mata uang euro ini dan memilih menggunakan mata uang mereka sendiri. Ketika saya tanya kenapa, Tooon mengatakan, Inggris tidak ingin kehilangan independensi mata uang poundsterling, tidak juga ingin terlalu terikat dengan Eropa daratan karena terkadang kerjasama dengan AS lebih menguntungkan. Untuk Swiss, ya, mereka negara kaya, karena seluruh orang kaya di dunia ini menabungkan uangnya di Swiss (juga demikian halnya dengan orang-orang kaya di Indonesia toh?). Mengapa mereka memilih Swiss? Toon bilang, Swiss dibatasi oleh pegunungan, sehingga sejak berabad-abad lampau, tak pernah ada cerita perang terjadi di Swiss, hingga rasanya swiss memang negara yang sangat aman untuk menimbun uang. Hmm.. Lalu bagaimana dengan norway? Singkat Toon menjawab, "mereka punya minyak.."

Itu dia hasil belajar sejarah singkat saya tentang Belgia dan Eropa, mudah-mudahan banyak benarnya  ketimbang salahnya. Maklumlah, aslinya saya buta sejarah dan juga pengetahuan umum, apalagi ekonomi.. jangan tanya..


Sunday, September 19, 2010 0 komentar By: shanti dwita

Antwerpen

Seminggu belakangan teman-teman satu kelas bahasa belanda di kampus yang terdiri dari Erasmus awardee (diploma) dan juga Erasmus Mundus awardee (master) sibuk memikirkan rencana berakhir pekan ke Amsterdam. Beberapa yang telah melakukan survey bilang kalau harga tiket PP ke Amsterdam sekitar 39 euro. Setelah berdiskusi melalui facebook dan juga diskusi di kelas, akhirnya rencana tersebut ditunda, karena sulit menemukan penginapan murah di akhir pekan kalau tidak melakukan booking at least satu bulan sebelumnya. Jika ke Amsterdam hanya satu hari dan tidak menginap, rasanya melelahkan, nggak puas dan juga sayang ongkosnya :). Setelah menimbang-nimbang antara mengunjungi Brugge atau Antwerp sebagai opsi lain dalam mengisi weekend, kami semua setuju untuk melakukan city sightseeing di Antwerp.

Hari Sabtu jam 11 siang adalah waktu yang disepakati untuk berkumpul di halte tram depan kampus. Saya bangun kesiangan, jam 7 dan langsung sholat subuh (azan subuh jam 5.30). Suasana rumah sepi karena mungkin teman-teman satu rumah baru pulang dari pub dan sedang lelap-lelapnya tidur. Oya, Jumat malam diadakan gathering party teman-teman sekelas dan setiap orang yang datang wajib membawa makanan khas dari negaranya masing-masing. Saya pun bawa nasi goreng untuk dinner lengkap dengan telur dadar iris tipis, timun serta tomatnya. Tapi karena saya datang telat (undangan jam 8.30 pm dan saya dkk datang jam 9.30), teman-teman sudah telanjur kenyang dengan berbagai macam makanan yang bertebaran di meja makan, akhirnya nasi goreng saya masih sisa separuh. Saya pun kenyang bukan kepalang hanya dengan menyantap hidangan yang dibawa teman-teman turki dan tak kuasa mengambil yang lainnya. Acara kumpul bareng itu pun ditutup jam 12 malam, tapi belum selesai, karena masih ada 'pub time' hingga pagi di sekitar centrum. Untuk acara kedua itu saya nggak ikutan dan lebih memilih tidur nyaman di rumah (itupun masih membuat saya bangun kesiangan!). Oke, kembali ke topik sebelumnya. Jam 10.30 pagi saat saya baru akan mandi, seorang polisi datang ke rumah kami mencari saya. Tapi jangan khawatir, polisi ini hanya ingin memastikan bahwa saya benar-benar tinggal di rumah itu berkaitan dengan aplikasi resident permit saya di Gent. setelah saya punya resident permit, maka saat itu pula saya dianggap legal untuk tinggal dan belajar di Gent.

Jam 11.15 (molor 15 menit), saya dan teman-teman serumah, Esther dan Esteve  (Spanish) sampai di halte tram. Disana sudah menunggu Dagmara (Polish), Leandro (Brazilian), Ramon (Spanish), Alessandro dan Silvia (Italian), Marija (Serbian) dan juga Roland (Hungarian). Kami bersepuluh adalah peserta piknik ke Antwerp edisi Sabtu 18 September. Butuh sekitar 40 menit untuk sampai di Antwerp Centraal train station dari Gent St-Pieters. Selama perjalanan, Dagmara menunjukkan tempat-tempat menarik di Antwerp yang tertulis di buku panduan wisata miliknya. Ada kebun binatang yang termasuk 'tertua' di Eropa, (dengan tiket masuk 11 euro), ada juga museum berlian karena Antwerp adalah juga kota yang terkenal dengan berliannya. Berlian dan Belgia mengingatkan saya pada film Blood Diamond-nya Leonardo di Caprio, tapi saya juga belum yakin kalau berlian-berlian yang ada di Antwerp ini datang dari Afrika seperti yang tergambar di film itu. 

Empat puluh menit berlalu. Setelah melewati terowongan gelap selama kurang labih 1 menit, saya pun mulai melihat warna-warni biru lampu yang terpasang di dinding (bawah tanah) stasiun Antwerp. Marija bilang, stasiun ini adalah yang terindah di Flanders, saingannya ada di Liege (Wallonia), tapi menurutnya tetap masih bagus Central Station Antwerp. Menurut info, stasiun ini dibangun berdasarkan ide dari Louis Delacenserie dan selesai pada tahun 1905. Arsitekturnya memang sangat indah, memiliki detail khas era baroque dengan ukiran plus nuansa emas yang saya rasa juga dimiliki oleh bangunan indah lainnya seantero Eropa.













                                  Centraal Station
Antwerpen



Hawa dingin sangat terasa ketika saya beranjak keluar dari stasiun dan teman saya yang bule asli Eropa pun mengamini hal tersebut, bahkan ia merasa lebih kedinginan dibanding saya. Kata dagmara nggak heran kalau saya tidak terlalu merasakan dingin, karena panas keluar dari tubuh terutama dari bagian kepala, dan saya memakai kerudung. "So, should I put my shawl on my head just like you?' katanya sambil tertawa. Pertanyaan lain muncul dari Marija, apakah semua orang di Indonesia pakai kerudung? kenapa kamu pakai sedang Lydia nggak? Well, ya, di Indonesia pake kerudung udah hal biasa, dan soal Lydia, "we're different, I am moslem and she's catholic".. Maria dan Dagmara pun seolah mengerti dan berkata "ya,Okay, it makes sense!"     

Dari stasiun kami menuju ke pusat kota Antwerp (Grote Markt) dengan berjalan kaki selama setengah jam. Jalan kaki adalah hal yang harus saya biasakan disini, bahkan untuk jarak 3 km saya HARUS sanggup dan tidak boleh mengeluh. Saya jadi ingat di Indonesia dengan mudah saya menemukan ojek, hingga jalan kaki 500 meter pun rasanya malas. Perjalanan menuju centrum itu sama sekali tidak terasa, karena di kiri kanan jalan terdapat banyak sekali toko dengan brand-brand yang cukup terkenal di Indonesia seperti Zara, Massimo dutti, Esprit, Mango, Fossil, st Oliver, Bershka dan sejumlah lainnya yang nyaris tidak terekam di memori. Orang-orang di Antwerp ini lebih beragam, berbagai ras dari belahan bumi rasanya ada disini. Antwerp juga merupakan tujuan wisata utama di Belgia, dengan perdagangan dan pelabuhannya yang ramai. Sebenarnya Antwerp tidak terletak di tepi pantai, tapi ia punya kanal besar yang bisa dilalui kapal-kapal dan bermuara di laut utara. Antwerp juga kota mode, tak heran kalau banyak perempuan (dari segala umur) yang tampil modis dengan boot, stocking, jacket dan shawl yang terlihat fit di tubuh mereka.Yang juga menarik dari para pejalan kaki di pusat kota ini juga adalah bahwa mereka semua tertib berlalu lintas. ya, pejalan kaki juga harus manut dengan lampu merah. Kalau lampu untuk pejalan kaki masih merah, meski jalanan sepi dan tak ada tram/bus/mobil yang melintas, mereka pun tidak akan menyebrang. Oleh karena itu, setiap ada lampu merah, rombongan pejalan kaki ini pun menyemut di sudut jalan, dan ketika lampu hijau, mereka bergerak cepat seperti tawon yang sarangnya diusik. Entah kenapa, saya suka sekali melihat hal seperti ini.

                                                                lampu merah


                                                                    bubar.. jalan!!

Di tengah perjalanan, saya melihat ada toko yang menjual coklat deengan tulisan "The Chocolate Line, Paleis of de Meir". Ini pasti bukan toko biasa karena bangunannya besar dan terdiri dari beberapa lantai. saya pun mengajak teman-teman untuk masuk sejenak. Dan benar saja, toko ini tak hanya menjual coklat, tapi juga punya banyak patung yang terbuat dari coklat (tentu dengan tulisan 'Don't touch!") dan juga dengan peragaan proses pembuatan coklat dan cafe teras di bagian tengah gedung untuk menikmati segelas cokelat panas.



                        
                                               beberapa patung coklat di the chocolate line

Berjalan lagi seelama beberapa menit, saya menemukan telapak tangan raksasa yang teronggok di tepi jalan (?). Itu adalah patung telapak tangan. Mengapa ada patung telapak tangan? Ini semua ada kaitannya dengan cerita asal muasal kota Antwerp (seperti halnya asal usul batu menangisnya Malin Kundang mungkin). Alkisah, ada seorang pemuda gagah berani bernama Brabo yang berkelahi melawan raksasa jahat dan berhasil memotong telapak tangannya dan melempar telapak tersebut (dan jatuhnlah telapak tangan tersebut disana, di depan saya. Eits jangan dipercaya, saya bercanda tentang hal yang ada di dalam kurung ini). Dalam bahasa Belanda, melempar telapak tangan tersebut diistilahkan sebagai "hand werpen" dan jadilah nama Antwerpen itu hingga sekarang.  (Antwerpen = bahasa Belanda, Antwerp = bahasa Inggris). Cerita asal usul nama Antwerp ini saya dengar dari dosen fisika di kampus tempat saya belajar,  Toon van Den Abeele, yang kebetulan ditugaskan memberikan cerita tentang sejarah Belgia. Pak dosen bilang, setelah dia pensiun, dia mau menjadi Tour Guard. Hmm.. Nice idea!


                                                            telapak tangan raksasa

Akhirnya, sampailah saya di balai kota Antwerp. Setelah sebelumnya melewati "cathedral of our lady", sebuah katedral tua dengan tinggi 123m yang juga identik dengan kota Antwerp. Oya, karena kedinginan, kami pun sempat mampir sejenak (menghangatkan badan) di dalam Panos, kedai yang menjual aneka roti, sandwich, pizza dan sejenisnya. Saya pun memesan sepotong kecil vegetable pizza dengan harga 2,5 euro yang cukup panas hingga saus merah diatasnya meleleh. Sangat menggoda di siang hari yang dingin. Kembali ke balai kota, berbeda dengan balai kota di Gent atau Brugge ataupun Brussels, di balaikota Antwerp ini  terdapat banyak sekali bendera, rasanya bendera semua negara di Eropa ada disini. Tepat di depan balaikota terdapat patung Brabo dan air mancur. Di patung ini terukir sang pemuda sedang melempar tangan si raksasa dengan gagahnya (?). Karena patung ini sedikit banyak mengandung cerita historis asal usul Antwerp, maka banyak sekali wisatawan yang berpose di depannya, termasuk saya.


                               cathedral of our lady dan balaikota Antwerp (patung brabo)

Belum lengkap rasanya berkunjung ke Anwerp tanpa mengunjungi museum bahari dan juga castle "het steen/the stone" di tepi kanal Scheldt (scheldt river). Beraneka macam kapal ada disini dan tepat di depan castle, terpasanglah jangkar besar yang menandai bahwa Antwerp adalah kota pelabuhan, tempat jangkar-jangkar kapal ditancapkan. Castle-nya cukup indah dipandang, meski rasanya kalah senior dibandingkan dengan Castle of the Counts di Gent. Karena lebih muda, castle ini terasa nyaman untuk disinggahi. Terdapat juga jembatan kayu yang menghubungkan The Stone dengan bangunan lainnya (saya tidak tahu namanya dan juga tidak kesana karena jauh). Di sepanjang tepian jembatan  kayu terdapat teropong untuk melihat jauh ke seberang sungai meski rasanya tidak ada yang menarik di depan sana selain pepohonan dan juga gedung bertingkat. Untuk menggunakan teropong, cukup memasukkan koin 50 sen dan teropong pun siap digunakan.


                                                     jangkar raksasa dan the stone

Sebelum mengakhiri perjalanan, kami bersepuluh pun mampir di kedai minuman dan memesan coklat panas (padahal kalau di Gent, teman-teman saya ini selalu memesan bir, mungkin hawa dingin memaksa mereka untuk berpaling sementara dari minuman kegemaran mereka :P). Dengan habisnya coklat di dalam cangkir plus sepotong spekulaas renyah, maka berakhir pulalah city sightseeing di kota Anywerp Sabtu itu. Kami pun pulang menggunakan kereta IC seperti halnya saat berangkat. Saya menggunakan kartu GoPass yang saya beli seharga 50 euro untuk 10 kali perjalanan ke seluruh Belgia. Setiap kali perjalanan (one way), saya harus menuliskan hari, tanggal, tempat asal dan tujuan di kartu GoPass tersebut dan kebetulan perjalanan pulang ke Gent dari Antwerp itu adalah perjalanan saya yang kesembilan. Mungkin hari itu sudah ditakdirkan menjadi hari terakhir saya menggunakan GoPass karena sungguh di luar dugaan, petugas pengontrol tiket meminta saya menunjukkan kartu identitas. Daann.. kena kau! Ketahuan kalau umur saya 27 tahun, saya pun diminta untuk memberikan alamat di Gent plus diwajibkan membayar denda atau membiarkan kartu GoPass saya disita. Saya memilih opsi ketiga. Kartu GoPass ini sebenarnya ditujukan untuk mereka yang bermur 25 tahun atau kurang. Untuk yang berusia di atas itu, kartu yang harus dibeli adalah RailPass dengan harga 70 sekian euro (mahhaaalll). Ya, setidaknya hari itu saya dapat pelajaran berharga. Yang pertama, belilah tiket reguler untuk plesir di akhir pekan karena biasanya ada diskon, apalagi untuk yang berjarak dekat seperti Gent-Antwerp atau Gent-Brussels (9 euro belum diskon). Kedua, pakailah GoPass or even RailPass untuk perjalanan jauh yang tarifnya mahal, seperti misalnya dari Gent ke Liege atau daerah-daerah lain di Wallonia. Pelajaran pun selesai.



Sunday, September 12, 2010 2 komentar By: shanti dwita

BRUGGE


Brugge merupakan ibukota dari West Flanders yang terletak di barat laut Belgia. Karena termasuk wilayah Flanders, maka bahasa yang digunakan di daerah ini adalah bahasa Belanda. Sedikit mengulas tentang bahasa, di Belgia terdapat tiga bahasa yang digunakan, yaitu Belanda, Perancis dan Jerman. bahasa Belanda dipakai di wilayah Flanders, Perancis dipakai di Wallonia dan Jerman digunakan oleh 80.000 orang yang bermukim di perbatasan Belgia-Jerman.

Brugge ditetapkan sebagai kota warisan dunia (World Heritage Site) oleh UNESCO sejak tahun 2000. Mungkin kriteria tradisi budaya serta arsitektur kota yang sangat bernuansa abad pertengahan (medievel architecture) yang membuat kota ini dinobatkan sebagai warisan dunia bersama patung Liberty di Amerika, Westminster Abbey di UK, piramid Giza di mesir dan ratusan lokasi-lokasi lainnya di seluruh dunia. 

                                                        bangunan khas Brugge

Memasuki kota Brugge, selain terpampang logo UNESCO, saya disambut dengan bangunan-bangunan yang unik berdinding batu bata merah dengan atap segitiga berdetail gerigi dan cerobong asap. Kata bu Frieda, arsitektur ini mirip sekali dengan yang ada di Belanda, hingga rasanya  melihat Brugge sama seperti melihat Belanda secara umum (kecuali tulipnya mungkin yang tidak bisa ditemukan di Brugge). Di akhir pekan, kota ini sangat ramai dengan wisatawan dari berbagai negara. Hal  itu terlihat dari beragamnya plat nomor mobil yang parkir di sekitar kawasan wisata Brugge. Pak Eddy pun selalu menjawab semua pertanyaan tentang plat nomor yang saya ajukan, misalnya huruf "D" artinya Deutschland/Jerman, "F" untuk France, "PL" untuk Poland dan banyak lagi lainnya. Semua plat nomor kendaraan Eropa memiliki logo/sticker 12 bintang kuning dengan background biru (logo uni Eropa). Untuk mobil dari dalam Belgia sendiri warna platnya merah dengan latar putih, sedangkan dari luar belgia, warna hitam dengan latar kuning, persis seperti plat angkutan umum di Indonesia. 

Benar-benar beruntung saya kesana ditemani oleh pak Eddy dan bu Frieda yang sangat mengerti tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Meskipun hanya sebagian kecil dari Brugge yang saya lihat, tapi secara garis besar saya tahu bahwa kota ini tepat sekali untuk dijadikan tujuan wisata. Lokasi pertama yang kami lewati adalah Belfort (the belfry tower of Bruges), terletak di Markt (Market square), memiliki tinggi 88 meter dan terdapat 47 lonceng di dalamnya. Konon, kesemua lonceng itu punya bunyi yang khas yang berbeda satu dengan lainnya. Belfry tower ini menjadi salah satu simbol kota Brugge dan terbuka untuk umum. Dengan membayar sejumlah uang (saya tidak tahu pasti), wisatawan bisa naik dan melihat pemandangan seluruh Brugge dari atas. Bu Frieda mengatakan bahwa pondasi yang berada di bawah Belfry Tower ini dialasi oleh kulit sapi (terbayang banyaknya kulit sapi yang terpendam di bawah sana), oleh karena itu setiap tahun Belfry Tower mengalami perubahan kemiringan seperti halnya menara Pisa di Italia.

                                                                       Belfort

Dari Belfort, sambil berjalan, kami melewati banyak sekali kanal. Sabtu itu wisatawan yang datang sangat banyak, dan sebagian besar dari mereka menggunakan perahu (dipandu seorang travel guide) menyusuri kanal-kanal dengan harga tiket 6,9 Euro untuk 30 menit perjalanan.  Karena banyaknya kanal (sungai), maka Brugge juga disebut sebagai Venesia dari Utara (guru bahasa Belanda saya, Erik, bilang, Genoa of the North). Konon, dulu kanal-kanal ini berukuran sangat lebar karena Brugge merupakan kota perdagangan yang dilintasi oleh banyak kapal. Seiring waktu berlalu, perubahan kondisi geografis-pun terjadi dan Brugge tak lagi berada di dekat lautan (jangan tanya kenapa). Wisata perahu ini rasanya hampir sama dengan yang biasa saya temui di Gent, meski di Gent kanalnya lebih sedikit. Harga tiketnya pun hanya beda 0,4 Euro karena untuk berperahu ria di Gent, euro yang perlu dirogoh adalah 6,5 (saya juga belum mencoba sih!).


                                              menyusuri kanal dengan perahu

Karena banyak sekali kanal di Brugge, otomatis jumlah jembatannya juga melimpah. Hampir semua jembatan memiliki bentuk yang sama, yaitu dengan detail lorong-lorong setengah lingkaran di badannya. Ketika saya tanya bu Frieda, jembatan berbentuk seperti ini lekat  sekali dengan suasana romantis. Oleh karena itu, banyak sekali lukisan tentang kota Brugge menampilkan jembatan sebagai objeknya. Di kanal kecil terdapat banyak sekali angsa putih yang merupakan simbol cinta. Angsa selalu setia, kata bu Frieda. Saat pasangannya mati, angsa jantan tidak akan mencari pengganti dan akan betah hidup melajang hingga maut memanggil (saya baru tahu hal ini). Angsa di Brugge diberi tag pada bagian kakinya, mungkin agar tidak hilang sekaligus untuk menghitung populasi angsa di kawasan itu (saya jadi teringat mata kuliah bioper tentang fish tagging and marking). 

                                              jembatan romantis dan angsa setia

Dari kanal, kami berjalan lagi menuju the Brug Square, tempat dimana city hall (kantor pemerintah setempat) berdiri. Brug square dan Markt square sebenarnya sama-sama town square di pusat lota Brugge, tapi ukuran Markt square lebih besar. Jika diperhatikan pada gambar yang saya upload di bawah, ada empat bendera yang terpasang di bangunan balai kota. Yang paling kanan, merah putih dengan singa biru di tengahnya adalah bendera Brugge, disampingnya terdapat bendera kuning dengan singa hitam  yang merupakan bendera Flanders,  lalu ada bendera Belgia (hitam, kuning, merah) dan yang terletak di sebelah kiri adalah bendera Uni Eropa, berwarna biru deengan 12 bintang yang terangkai menjadi sebuah lingkaran. Oya, kalau dilihat dari arsitektur bangunannya, city hall ini memiliki detail ukiran keemasan di dindingnya (setelah saya tanya mbah Google, ternyata arsitektur seperti itu disebut bergaya Renaissance).


                                                                  city hall

Selain city hall, di sekitar center juga terdapat museum Salvador Dali . Saya agak familiar dengan nama ini karena di SMA guru kesenian saya mengajarkan bermacam-macam aliran lukisan dan nama-nama pelukis yang terkenal dari berbagai masa, mulai dari  medievel (pertengahan), renaissance, romantic dan lain sebagainya. Tidak hanya lukisan yang ada di dalam museum, tapi juga karya seni lainnya, seperti patung. Bu frieda bilang, di Brugge terdapat karya asli Michael Angelo berupa patung, namun beliau tidak bisa mengantar saya melihatnya karena waktu yang semakin sore.

Bu frieda pun kemudian mengajak saya menyusuri jalanan terkecil yang ada di Brugge (kalau di Indonesia biasa di sebut gang) yaitu de Garre. Jalan ini jalan buntu, di tembok-tembok yang kami lewati banyak terpasang pamflet dan diujung jalan terdapat sebuah restauran yang saya lupa namanya. Oleh karena itu, setelah dengan sengaja menemui "dead end" kami pun berputar balik dan kembali melewati jalanan dengan lebar satu meter itu.

                                                                   de Garre

Sebelum memasuki de Garre, saya  juga sempat membeli beberapa kartu pos (akhirnya dibelikan oleh Pak Eddy karena uang saya 20 Euro dan si pemilik toko menolak uang besar). Salah satu kartu pos bergambar kincir angin seperti yang ada di Belanda. Saat itu saya tidak tahu apa bahasa Inggrisnya kincir angin, pun tidak tahu nama lokasi tempat kincir angin itu berada tapi saya ingin sekali melihatnya. Akhirnya, saya keluarkanlah si kartu post dan menunjukkannya pada Pak Eddy.. "Ooh..you wanna see the windmill?" Saya pun mengangguk. Pak eddy yang baik hati  bersedia mengantar, namun karena letaknya agak jauh dari pusat keramaian Brugge, kami harus kembali ke tempat parkir dan mengendarai mobil menuju kesana.  Setelah 10 menit berkendara, kami sampai di kincir angin yang bernama The Bonne-Chiere. Kincir itu dibangun di atas sebuah gundukan tanah serta rumput hijau yang sangat indah. Itu kali pertama bagi saya melihat sebuah kincir angin. Benar-benar seperti sedang berada di Belanda. Di sekitar windmill, terdapat taman (mungkin lebih tepat disebut lapangan rumput agak luas) dengan jalanan sempit tepi kanal yang dinaungi rindangnya pepohonan. Di area rumput tadi saya melihat banyak orang bermain anggar, mungkin sebuah klub anggar sedang latihan rutin. Di jalanan yang sempit saya juga menyaksikan banyak orang berlalu lalang dengan berbagai aktifitas, ada yang bersepeda, berjalan bersama anjing, duduk di bangku, yah..sepertinya mereka semua menikmati hari sabtu yang cerah di Brugge. Benar-benar cerah, dan entah mengapa saya menjadi suka sekali cuaca cerah dengan matahari hangat. Mungkin karena di Gent selalu dingin, berangin dan lumayan sering hujan.

                                                     The Bonne-Chiere Windmill

Di kanal yang cukup besar (masih di area windmill), rombongan yacht (perahu pribadi) akan melintas. Seperti halnya kereta api yang akan lewat, sirine pun berbunyi dan sejenak kemudian jembatan yang tadinya rebah dengan santainya pun mulai terangkat. Mobil dan sepeda yang akan melintas menyeberangi kanal agaknya harus  berhenti sementara hingga rombongan yacht habis. Sebenarnya tepat di depan rumah tempat saya tinggal di Gent juga ada jembatan sejenis yang juga akan terangkat saat ada perahu yang akan lewat. Saya sempat melihatnya sekali dari jendela namun tak perrnah ingin memotretnya. Tapi lain dengan yang saya lihat di Brugge ini, saya memotretnya dengan senang hati.

                                                            jembatan terangkat

Sebelum mengakhiri perjalanan, pak eddy dan bu frieda menunjukkan satu tempat lagi yang cukup terkennal di Brugge, yaitu the Beguinage. Beguinage adalah kompleks gereja tua, dengan bangunan berwarna putih, tidak tinggi, dengan kusen-kusen hitam dan cerobong asap. Gerejanya sendiri terbuat dari bata yang tidak diplester dan tampak sangat sederhana. Di kawasan ini banyak sekali peringatan bahwa pengunjung tidak boleh membuat keriuhan, walhasil semua wisatawan tampak mengecilkan volume suaranya saat bercakap-cakap. Suasana hening yang tercipta benar-benar membangkitkan aura "tua" pada kompleks ini, dan mungkin saja dugaan saya bahwa bangunan ini berumur 1000 tahun benar adanya. Oya, mungkin ada yang bertanya, mengapa harus hening? "karena para biarawati tinggal di area ini, jadi tidak boleh berisik", kata bu Frieda.


                                                               the Beguinage

yahh..  selesai sudah perjalanan saya di Brugge sabtu itu. Sangat menyenangkan mengenal pasangan pak Eddy dan Bu Frieda yang begitu baik pada 'orang asing yang baru dikenal' seperti saya. Saat mengantar saya kembali ke Ghent, beliau pun berkata akan mengundang saya untuk makan bersama mereka di Aalter bulan Oktober nanti, sepulangnya mereka dari liburan di Spanyol.