Showing posts with label Wisata kuliner. Show all posts
Showing posts with label Wisata kuliner. Show all posts
Sunday, November 27, 2011 6 komentar By: shanti dwita

Weekend : mencicipi waterzooi - Belgian gastronomic series

Tinggal sendirian di Mechelen membuat saya semakin autis, miskin interaksi social juga jarang komunikasi dengan orang.  Meski saya sering menyapa  pegawai-pegawai laboratorium tempat saya magang, tentu tak banyak kata yang saya umbar, sebatas “Hi, Hello, Good morning, Smaakelijk, Bye, See you tomorrow, Have a nice weekend!” Cenderung repetitive seperti itu, karena semua sibuk, terlebih saat makan siang bersama di dining room, mereka akan memakai bahasa Belanda. Sejauh ini teman baru yang ramah adalah Tina, Belgian petite girl dengan rambut blonde yang bicara bahasa Belanda,  Pruno, petite size Belgian man (kira-kira 172cm ideal), PhD student yang bicara bahasa Perancis karena dia dari Brussels, dan juga Myriam, Belgian girl dengan badan tinggi dan rambut coklat pendek yang baru pulang dari Ethiopia. Beberapa yang saya anggap lebih autis dari saya adalah cewek Polandia yang sama sekali tidak pernah menyapa, biarpun bertemu berhadap-hadapan di depan freezer minus 80 derajat di basement, juga saat berada satu ruang di autoclave lantai 1, di jalan, di tempat parkir, di stasiun, atau dimanapun. Hah, mungkin dia picky dalam berteman, buktinya dia bisa sangat talk-active saat ngobrol dengan bule2 lain di lab.

Oke, lupakan tentang rutinitas lab yang menjemukan, dan kembali ke masalah saya dan autism saya. Weekend pertengahan November lalu sudah saya habiskan dengan nonton drama Jepang dan Korea, tanpa beringsut sedikitpun dari lantai 4 student house tempat saya tinggal. Pergerakan hanya sebatas toilet, dapur dan shower room. Weekend minggu ini saya ingin membuat sedikit kemajuan, setelah menyadari betapa menyedihkannya mengurung diri di kamar, menangis dan tertawa sendirian saat emosi diaduk-aduk oleh hal sesepele film Korea . Tapi tetap…… tiga judul film berhasil saya khatamkan dalam waktu 12 jam: Humming, A millionaire’s first love dan juga The Classic. Judul-judul itu saya dapat setelah berkosultasi dengan kaskus dan juga prof. google. Tak lebih dari tiga, karena saya telah menyusun agenda yang cukup menjanjikan, berwisata kuliner di Brussels, window shopping di Nieuwstraat, dan ditutup dengan pengajian KPMI Belgia plus makan malam bersama di KBRI.

Sabtu siang ba’da Zuhur saya berjalan kaki menuju Mechelen Nekkerspoel, sejenak memberi cuti pada sepeda lipat super mini, membiarkan ia beristirahat di parkiran gedung housing bersama puluhan sepeda besar lainnya. Jadwal kereta yang tercantum di website SNCB (B-Rail) menjanjikan kereta IR akan datang di spoor 4 jam 13.31 dan tiba di Central Station Brussels 23 menit kemudian. Saya sengaja tidak makan siang, menyisakan ruang perut yang sudah saya kapling-kapling untuk typical Belgian dish semacam steam mussels dengan fries.
Dari stasiun, tujuan saya adalah Galeries Royal Hubert di rue de marche aux herbes  yang didaulat sebagai the most beautiful covered galleries in Europe. Terletak  tak sampai 200 meter dari stasiun, hanya butuh waktu 5 menit bagi orang dengan langkah kaki pendek-pendek seperti saya untuk mencapainya. Dibangun di 1847, Royal Hubert masih tampak mempesona, terlebih seperti saat saya lihat siang tadi, dengan hiasan bola-bola ala lampu disko berwarna emas dan ratusan lampu-lampu kecil benderang yang menghidupkan nuansa natal. Ya, di akhir November semua kota di Eropa sedang bersukaria menyambut natal, ditandai dengan berdirinya booth-booth yang menjual dekorasi natal di pusat kota. Brussels sendiri memusatkan Christmas marketnya di area Grotemarkt, hanya 1 blok dari Royal Hubert.  

Royal Hubert Galleries terdiri dari 3 bagian, Galeries de la Reine (the Queen's Gallery), Galerie du Roi (the King's Gallery) dan Galerie des Princes (the Princes' Gallery). Di sepanjang galeri, terdapat banyak toko, diantaranya toko tas Delvaux dan Longchamp, beberapa café, juga toko coklat yang cukup sering disinggahi turis mancanegara. Mohon saya jangan dihitung sebagai turis, karena saya immigrant legal temporal.
Tujuan saya ke Royal Hubert bukan untuk belanja, bukan juga untuk hunting foto, tapi lebih spesifik untuk makan. Sudah beberapa kali sebenarnya saya melewati deretan rumah makan di dekat King’s gallery, terakhir melangkahkan kaki di Rue des bouchers, nama jalanan itu, adalah saat saya dan teman-teman berburu patung Jeanneke Pis sepulang sholat Idul Adha (idenya seperti manneken Pis— patung anak laki-laki kecil yang sedang pipis--  tapi yang ini berjenis kelamin perempuan).  Saat itu saya sempat melirik papan menu yang di jajarkan di depan rumah makan, yang juga di tunjuk-tunjuk oleh pelayan rumah makan yang siaga berdiri di pinggir jalan untuk menggiring tamu masuk dan membeli hidangan yang mereka tawarkan. Ada paket menu Belgian dish seharga mulai dari 12 euro. Papan-papan menu itulah yang menyeret kaki saya, juga menstimulasi otak saya untuk sekedar mencicip hidangan khas Belgique, di jalanan yang sama, 20 hari kemudian.

Ada banyak sekali rumah makan di Rue des bouchers (French) alias Beenhouwersstraat (Dutch). Hampir semuanya menyediakan beberapa meja di teras untuk pelanggan yang ingin menikmati makanan sambil menikmati lalu-lalang orang yang melintas di jalanan yang tidak terlalu lebar. Menu yang disajikan beragam, mulai dari Belgian dishes dengan mussels sebagai menu andalan, Spanish dengan seafood paella-nya, hingga Italian dengan pasta-nya. Meja-meja di luar tampak tertata rapi, dengan serbet yang terlipat serta piring saji dan ornament bunga. Saya suka suasananya yang terletak di pusat kota, dengan terrace roof warna merah-hijau dan bohlam-bohlam kuning  memancarkan warna tungsten yang berkesan hangat. Saya belum pernah makan di fine dining restaurant, dan saya rasa apa yang ditawarkan di Rue des Bouchers masih sangat jauh dari kategori fine dinning, cukup dibilang casual dining dengan predikat “decent atau fair” saja. Setidaknya setelah membaca beberapa review di trip advisor, saya tau bahwa banyak turis yang merasa tidak puas dengan berbagai alasan, mulai dari harga yang mahal, pelayan rumah makan yang bertampang seperti mafioso, hingga layanan rumah makan yang kurang memuaskan. Membaca komentar salah seorang trip advisor user tentang mafioso ini membuat saya membayangkan squidward di kartun favorit saya –spongebob squarepants. Berhidung besar dan bergaris wajah keras, meski sudah tersenyum ramah seramah-ramahnya untuk menggaet tamu, aura seram-nya masih terasa.

Seorang pelayan rumah makan menyapa saya siang itu “Assalamualaikum.. Would you like to eat, we have seat inside for you..” Ya, selalu begitu. Setiap kali saya (perempuan asia pendek, kulit coklat dan berkerudung) lewat sana, pelayan-pelayan pasti menyapa dengan Assalamualaikum, sebuah trik jitu untuk menarik minat wisatawan dari Malay-Indonesia, atau Turki, dan Timur Tengah. Ucapan salam itu juga keluar dari mulut pelayan yang berwajah arab, dengan rambut hitam klimis, sehingga saya pun tak ragu menjawab “Waalaikumsalam”. Setelah menolak tawaran dari beberapa rumah makan, saya akhirnya menerima pinangan dari Le beouf qui rit, tak jauh dari ujung jalan yang bersentuhan dengan Reine Koninginne (king) gallery.  Tertulis di teras mereka bahwa ada menu seharga 12euro yang bisa saya coba.

Masuk ke dalamnya, saya bertemu dengan sekelompok turis manula asal jerman, sekitar 8 orang, juga 4 pria yang saya tidak tahu asalnya, tapi saya yakin mereka pasti turis juga. Si pelayan berkemeja biru, celana hitam dengan tinggi sekitar 178 cm membawakan list menu untuk saya, masing-masing dengan harga 12 euro dan 18 euro. Ada berbagai pilihan appetizer, main course dan dessert yang bisa saya pilih. Tak lupa, ia pun mengarahkan saya untuk memilih menu yang halal, karena ia juga seorang muslim. Dia tidak merekomendasikan Belgian beef stew yang dimasak dengan beer, juga tidak dengan menu lain yang dimasak dengan wine. Menelusuri setiap nama masaka, saya sama sekali tidak tertarik dengan apa yang tertulis di daftar 12euro, karena untuk main course, hidangan yang ditawarkan adalah jenis pasta dan daging. Melirik menu 18euro, saya akhirnya memilih Mussels gratin untuk appetizer, Waterzooi untuk main course, juga dessert yang akan dipilihkan oleh pihak rumah makan. Menu yang saya inginkan sebenarnya, steam mussels atau mosselsoep dengan fries tidak ada di daftar, either di 12e ataupun di 18e, mungkin ada di daftar menu yang lebih mahal, dengan harga 26-50an euro.

Hidangan pertama datang, beberapa kerang hijau dengan satu cangkang, mungkin sekitar 12 ekor, disusun satu persatu diatas tray, disiram saus tomat yang sudah di simmer dengan basil, ditaburi keju parut dan kemudian dipanggang dengan oven. Saya tidak tau resep aslinya, tapi mungkin itu cara yang akan saya gunakan untuk membuat resep serupa, berdasarkan petunjuk dari indra pengecap saya. Saat mencoba makanan (seringnya masakan Indonesia), biasanya saya langung bisa menebak komposisi yang digunakan, meskipun tidak selalu 100% akurat. Oke, karena ini rumah makan, saya pun akan makan dengan pisau dan garpu, lupakan makan dengan cara “muluk”, meskipun pasti itu yang akan saya lkukan jika saya ada dirumah, menganalogikan mussels gratin dengan balado kerang pedas yang dimakan dengan nasi hangaaatt.. kyaaaaa… Pisau di tangan kanan saya arahkan untuk menyayat roti padat bulat dengan gandum putih di tangan kiri, letakkan roti sejenak di keranjang, colek butter dengan pisau, oleskan ditengah sayatan roti, letakkan pisau, dan segera lumat roti dengan kedua tangan. Ahh.. harusnya saya cuek saja, meski saat itu beberapa pengunjung lain mulai berdatangan dan rumah makan mulai penuh. Dua perempuan di sisi kiri saya dan pasangan Perancis (setidaknya si perempuan ramah menyapa saya dengan berkata bonjour) di sebelah kanan saya. Ya, tak perlu menghiraukan mata mereka yang mungkin diam-diam memperhatikan anehnya cara makan saya.



Selesai dengan mussles gratin, tak perlu menunggu lama, pelayan yang saka kira berasal dari Maroko  tadi segera membereskan meja dan mengisinya dengan piring, sendok dan garpu yang baru, tak ada pisau kali ini, karena main course yang akan tiba adalah waterzooi yang full kuah. Waterzooi adalah makanan khas dari Gent, awalnya dbuat dengan menggunakan bahan dasar ikan, namun saat ini waterzooi dengan ayam menjadi lebih popular, seperti apa yang sedang saya nikmati. Kuah panas berwarna putih kekuningan segera saya seruput dengan menggunakan sendok, untuk mencicipi bagaimana sensasi rasa yang pertama kali disampaikan reseptor lidah untuk disimpan di memori otak saya. Full kaldu ayam, seperti mencicip rebusan daging ayam dengan volume 1:1, satu ekor ayam dengan 1 liter air, gurih, creamy dan pas asinnya, saya sukaa.  Di suapan kedua, saya ikut menyertakan irisan dada ayam yang super empuk, namun tidak hancur dengan serat-serat daging masih melekat sempurna. Di suapan berikutnya, saya tidak ingat lagi yang keberapa, yang jelas puluhan suap hingga kuah, daging ayam, wortel, leeks (seperti daun bawang tapi ekstra jumbo), kentang bulat kecil yang tidak dikupas, brokoli dan juga presley hampir habis. Di akhir perjuangan saya menghabiskan semangkok waterzooi, saya pun menyerah, dan menyisakan sepotong ayam yang tak sanggup lagi saya habiskan, secara… saya nggak terlalu suka ayam. Actually, fish will be better, sayang tidak dicantumkan dalam menu 18euro, hanya ditawarkan di prime list dengan harga 30euro per porsi.



Kekenyangan dengan waterzooi, saya butuh rehat sejenak dengan memainkan game dari ponsel sebelum memakan dessert yang  berupa wafel dengan siraman gula palm. Maklum, saya satu-satunya tamu yang datang sorangan untuk makan disana, lainnya berdua, berempat atau berenam. Tapi saya enjoy saja, toh memang niatnya adalah untuk memanjakan perut dan membuat weekend lebih produktif, setidaknya setelah makan disana saya jadi punya materi untuk ditulis di blog. :D Makan-makan selesai, bill datang setelah saya minta, dan untuk ketiga makanan itu plus segelas orange juice, saya membayar 21euro. Cukup mahal untuk mahasiswa yang datang dengan beasiswa seperti saya, namun untuk pengalaman, saya lebih setuju dengan quote yang pernah saya baca di web, seorang traveler bilang “save memories, not money!” Benar-benar wow, tapi ya, kalau bisa saya ingin sedikit mengubahnya menjadi “save memories and money!” setidaknya itu benar-benar  “saya banget”. Ingin mengumpulkan uang untuk menjelajah dunia maha luas yang telah diciptakan Allah dengan sempurnanya, melihat midnight sun di lintang tinggi mendekati kutub, menginjakkan kaki di bulir-bulir pasir gurin di Timur tengah, tapi juga ingin membesarkan anak-anak saya dengan fasilitas yang cukup agar mereka lebih berbahagia dari saya. InsyaAllah!

Wednesday, January 5, 2011 0 komentar By: shanti dwita

Wisata kuliner di Porto

Setelah sempat mencicipi Pasteis de Belem di Lisbon, saya pun merasa ketagihan dan berniat mencari duplikatnya di Porto. Juga demikian halnya dengan duplikat castanha bakar yang saya beli di sekitar Jeronimos Monastery, Belem. Castanha ini dengan chestnut, rasanya manis seperti ubi bakar cilembu. Oya, ngomong2 soal ubi, saya pernah satu kali mendapati tukang ubi bakar di Sevilla, Spanyol, lengkap dengan gerobak dan arang kayunya. Pedagang castanha bakar ini juga memakai gerobak dorong, meski tidak berkeliling dengan bunyi2an, mereka umumnya mangkal di jalanan yang ramai. Dengan uang 1 euro, di Belem saya bisa mendapatkan 6 butir chestnut bakar yang hangat.
Senin, 3 Januari 2011 menjadi hari pertama saya di Porto. Setelah mendapat paket peta serta buku panduan tentang Porto dari Isabel, relation officer di kampus UCP, saya dan teman saya Janani dari India pun menghabiskan sore dengan berjalan kaki mengelilingi Porto. Bukan hal yang menyenangkan, karena hampir sama dengan pengembaraan mencari kastil Mouros, perjalanan dengan Janani ini memakan waktu 5 jam. Gosh! Jam 3 sore kami berangkat, saya berencana menemaninya mencari sekolah bahasa yang menyelenggarakan kursus bahasa Portugis gratis untuk mahasiswa asing yang stay di Porto, dengan biaya dari departemen pendidikan Portugal. Sebelum berangkat dia bilang bahwa kira2 waktu tempuh dengan berjalan kaki adalah 55 menit "Is that okay for you, shanti?".. Yup, saya pun akhirnya berangkat. dengan dia Satu jam berlalu, belum juga ada tanda-tanda kami akan sampai, justru jalanan menyusuri Rua de Boavista  dilanjutkan dengan Avenue da Boavista terasa semakin panjang. Saya sempat berhenti sejenak di dekat Casa de Musica untuk membeli castanha bakar dan mulai menikmati lagi perjalanan. Sayang, castanha yang saya makan sama sekali tidak enak, beda jauh rasanya dengan yang saya beli di Belem. Harganya memang lebih murah, 1 euro 8 butir, tapi..uuuuuuhh.. ngga manis dan agak alot. 

castanha bakar

Selesai mengantar Janani dengan misinya, saya menyempatkan diri mampir di LIDL, membeli setengah kilo caldeirada bacalao, sekilo cumi besar (lulas limpas), juga Pollack fish stick. Selain sayur maniak, saya juga seafood addict, dan saya rasa di Portugal menemukan produk2 seafood bukan perkara sulit. Oya, bacalao yang saya beli tadi adalah ikan cod asin khas  Portugal. Sebagian bilang makanan ini khas Spanyol, bersama-sama dengan tapas, namun bagi saya sama saja. Intinya saya akan kembali belajar masak makanan Eropa selain pasta dan lasagna yang rasanya sudah saya kuasai di luar kepala.

Dari sekitar Boavista, kami menuju city center dengan menumpang bus dan berhenti di Bolhao. Rasa letih menggoda kami untuk mampir di Confeitaria do Bolhao, sebuah cafe dan restaurant  bernuansa hijau yang menyajikan aneka dessert khas Portugis. Saya tak memesan pasteis, karena hari itu saya sudah mencicipi pasteis de nata di sebuah cafe dekat Marques station tempat saya biasa menunggu metro. Rasanya juga tidak terlalu lezat, mungkin karena saya sudah mencicipi biangnya Pasteis di Belem. Di Confeitaria do Bolhao, saya memesan bola carne medium dan secangkir kopi susu. Bola carne ini semacam pastry tebal yang didalamnya berisi serpihan ikan pollack dan keju, rasanya tasty meskipun agak asin untuk lidah saya. Janani memilih Brazileiros plus secangkir cokelat putih panas yang sangat kental. Mencicipi sesendok Brazileiros milik Janani sudah cukup untuk saya memahami kelezatannya. Betapa tidak, cake ini dilapisi dengan peach jam dan dibalut coklat leleh yang membeku di luar. Rasa manisnya seolah memporak-porandakan diet gula yang dulu pernah saya angan-angankan. Entah mengapa sejak saya tinggal di Belgia, dan kini di Portugal, saya menjadi suka makanan manis yang full sukrosa, juga roti yang glikemik indeksnya cukup tinggi. 


Hari kedua di Porto, saya, Janani dan satu peserta culinary hunting lainnya, Rui dari China, kembali berjalan menyusuri pusat kota Porto dan berhenti di the Majestic cafe. Untuk sebuah cafe, Majestik termasuk yang punya nama. Terletak di Rua de Santa Catarina, cafe sekaligus restaurant ini menyuguhkan suasana yang begitu nyaman, dengan nuansa gold juga dentingan piano yang mengiramakan nada-nada romantis. Untuk makan malam disana dengan menu lengkap, mungkin uang yang harus kami keluarkan adalah 30e per orang karena untuk menu afternoon tea-nya saja harga yang tertulis di buku menu sekitar 17-18euro. Jadilah, kami memesan minuman serta cake saja. Cafe affegato with vanilla ice cream menjadi pilihan saya. Saat disajikan, penampilannya cukup unik karena diatas cangkir yang berisi separuh kopi affegato pahit, diletakkan satu scoop bulat ice cream vanila yang ditusuk seperti sate. Uap panas kopi akan melelehkan ice cream, dan meneteskannya ke dalam cangkir. Kopi affegatonya terasa sangat pahit, seperti halnya espresso, sedangkan vanilla ice cream-nya sempurna. Adalah ide bagus untuk segera mencelupkan es krim kedalam Affegato, mengaduknya jadi satu dan menenggaknya sekali habis. Dan itu benar-benar saya lakukan!!!

Selesai dengan Majestic cafe yang classy, saya menuju Centro Comercial Via catarina, pusat perbelanjaan yang disesaki brand ternama. Awal tahu bari seperti ini adalah saat yang tepat untuk belanja karena semua toko menggelar end of season- sale. Di Portogal, istilah sale dikenal dengan "SALDOS", dan saya pun mendapati bahwa di depan Massimo Duti, Zara, Mango, Esprit, H&M, Pull and Bear, the Body Shop dan seabrek toko lainnya, tulisan saldos 60% terpajang dengan warna merah menyala. Haaaah.. Sangat menggoda gairah belanja. Namun, bayangan tentang checked baggage untuk penerbangan  Ryanair Porto-Brussels yang tidak saya punya segera menyadarkan saya untuk tidak tergiur sale. 

So, kembali ke masalah makanan. Saya akhirnya memutuskan untuk makan di Surbias yang ada di lantai 4 mall. Memesan satu porsi Filetes Pescada, hampir-hampir sama dengan yang saya makan di Lisbon saat malam tahun baru. Bukan berarti saya setia setelah jatuh hati pada suatu hal, tapi terlebih pada masalah kehalalan. Lebih aman untuk memesan menu ikan2an bukan? Dalam piring saji ada kentang, nasi yang menyerupai nasi ketan bulat yang cukup oily, filet ikan berbalut telur yang di stir dengan minyak, salad, jeruk lemon serta buah zaitun. Lezat dan mengenyangkan :)
Tuesday, January 4, 2011 0 komentar By: shanti dwita

Lisbon day 3

Minggu 2 Januari 2011 menjadi hari terakhir saya di Lisbon. Saat saya membuka jendela kamar di pagi hari, kota para pengarung samudera begitu berkabut. Saya berguman bahwa hari itu suhu udara akan lebih dingin dari hari sebelumnya. Agak malas rasanya mengemasi barang karena saya rasa saya telah begitu klik dengan Lisbon, residence, juga teman-teman baru saya. Tapi tentu, saya harus pergi ke Porto karena Seninnya saya akan memulai kuliah di Catolica untuk modul fats and oils. Itinerary untuk hari itu adalah mengunjungi Belem, 6 kilometer dari pusat kota Lisbon, tempat bersejarah dimana banyak pelayar2 kenamaan menarik jangkarnya dan berangkat menemukan "dunia baru". Salah satunya adalah Vasco da Gama yang bertolak menuju India di 1497 melewati Tanjung Harapan di selatan Afrika.

Jam 11 pagi, lewat 1 jam dari jadwal yang telah disusun, kami berangkat dari residence di Quinta das Conchas menuju Cais do Sodre dengan metro dan berganti dengan tram yang akan membawa kami ke Belem.  Kabut terasa makin tebal dan jarak pandang mungkin hanya berkisar 100 meter saat kami tiba disana. Antrian di depan Mosteiro dos Jerónimos yang cukup panjang kemudian menarik minat kami untuk ikut bergabung di dalamnya. Khusus untuk hari Minggu/Dimanche, kawasan monastery itu dibuka secara gratis untuk wisatawan. Setelah antri selama kurang lebih 10-15 menit, saya dan teman-teman langsung masuk ke area hall dengan arsitektur gothik berwarna coklat muda keemasan yang saya akui cukup indah.  Konon, bangunan ini dibuat pada tahun 1502 dan memakan waktu 50 tahun untuk menyelesaikannya, relatif cepat dibandingkan pembangunan Pantheon di Paris. Waktu 50 tahun cukup untuk menuangkan banyak aliran seni pada Jeronimos, hingga bukan hanya Manueline style (sebutan untuk gothik Portugis  style), yang mengilhami  desainnya,  tapi juga Renaissance dan Classical style.  Ukiran-ukiran yang tertoreh di dinding kapur Jeronimos mengingatkan saya pada detil serupa yang saya jumpai di Placa Espanha, Sevilla. Portugis dan Spanyol, sebagai negara tetangga, memang berbagi banyak kesamaan, mulai dari tipikal bangunan hingga makanan. Pohon jeruk berbuah lebat yang merupakan ciri khas Sevilla bisa saya  jumpai di beberapa sudut jalan di Lisbon.

Jeronimos Monastery inside
Jeronimos dari luar dengan backround kabut pekat

Di kawasan monastery, terdapat juga gereja  Santa Maria yang pembangunannya dinakhodai oleh João de Castilho, seorang arsitek Spanyol. Vasco da Gama diyakini sempat berdoa di kawasan monastery dan juga gereja ini sebelum pelayarannya menuju India. Saya sempat masuk ke dalam Santa Maria seusai misa minggu pagi itu, dan saya melihat ada patung Vasco da Gama dalam posisi rest in peace di atas peti mati. Begitu lekatnya image Vasco juga para pelayar Portugis dengan area monastery menjadikan kawasan ini sebagai simbol "Age  of  Discovery" bersama dengan Belem tower (Torre de Belem).

Vasco da Gama di dalam st. Maria

Tak jauh dari Jeronimos, kami menyeberangi underpass menuju Discoveries Monument, sebuah bangunan yang didirikan untuk mengenang 500 tahun pelayaran para pelaut Portugis. Digambarkan di bangunan itu, sebuah kapal besar dengan beberapa 'punggawa'nya, dimulai dari Raja Manuel I, Prince Henry serta pelaut kenamaan seperti Vasco da Gama, Magellan dan Cabral.

Discovery monument

Lima ratus meter berjalan menapaki tepi utara Sungai Tagus, membawa kami berlima ke Torre de Belem, sebuah kastil yang pernah dipakai sebagai benteng saat pasukan Portugis berperang melawan Spanyol yang berniat menduduki Belem. Fungsi tower itu kemudian berubah sebagai mercusuar bagi kapal-kapal yang akan berlabuh di pantai Lisbon. Sama dengan Jeronimos, kastil 4 lantai ini dibangun ala Manueline style di muara Sungai Tagus. Tepat di muara sungai Tagus yang sekarang menjadi bagian dari Pantai Lisbon ini,  ratusan tahun yang lalu  kapal-kapal pelayar Portugis berangkat mengitari bumi.

Torre de Belem- cloudy foggy afternoon

Setelah merasa cukup mengambil beberapa snapshots di kawasan Belem tower, kami bergegas mencari tempat untuk makan siang. Pilihan pun jatuh pada Mc.Donalds dengan paket BigMac berisi burger sapi, kentang serta ice lemon tea  medium seharga 5euro. Saat menikmati burger di kursi luar McD, matahari mulai muncul, gosh! Jam 3 siang. Benar-benar hari berkabut yang sungguh terlalu. Diiringi musik ala indian yang dimainkan oleh "pengamen" berkostum indian lengkap dengan aksesoris tulang dan bulu-bulu, menjadikan makan siang itu cukup menyenangkan. Selesai dengan Mc.D, persinggahan berikutnya adalah Antiga Confeitaria de Belem, sebuah kafetaria di Rua de Belem yang berdiri sejak 1837. Kafe ini menyediakan hidangan khas yang disebut Pasteis de Belem, sebuah tart dengan isi custard manis dan lembut, ditaburi cinnamon bubuk serta gula pasir yang menciptakan aroma yang sangat istimewa. Mencoba sepotong Pasteis membuat saya sangat ketagihan, entah resep kuno macam apakah yang digunakan hingga banyak sekali orang yang mengantri di luar kafe demi mendapatkan sepotong Pasteis.

pasteis bekas gigitan saya :D

Selesai makan pasteis dan berpamitan dengan sahabat-sahabat baru saya di Lisbon, saya kemudian menaiki bus 28 yang akan membawa saya ke stasiun Oriente. Tiga hari di Lisbon yang menyenangkan pun berakhir. Jam 5 lewat tiga menit, kereta Alfa Pendular datang dan saya pun kembali berada di atas kereta yang akan membawa saya kembali ke Porto. Beda dengan intercidade yang saya naiki pada saat berangkat, kereta alfa pendular lebih mewah dengan kecepatan maksimum 220 km/jam, juga dengan gerbong resturant dan tempat duduk yang lebih nyaman. Menonton Legends of the Fall-nya Brad Pitt dari netbook hingga usai membuat perjalanan ke Porto tidak terlalu terasa, karena beberapa saat setelah film usai, saya sudah berada di Villa Nova de Gaia, 1 stasiun dari Porto Campanha, tempat saya akan turun dan menuju Marques.

Lisbon day 2

Kali pertama saya makan di Chinese restaurant adalah di Sintra, perbukitan indah di barat laut Lisbon. Itu pun bukan karena kesengajaan, namun lebih sebagai pelarian setelah lebih 1 jam menunggu bus 434 yang seharusnya membawa saya dan teman-teman EM ke Moorish Castle (Castelo dos Mouros) dan Pena Palace. Terletak tepat di depan Sintra tourism office, 100 meter berjalan kaki dari stasiun, Chinese resto  dengan bangunan merah berdetail khas negeri tirai bambu ini tampak begitu menggoda saat dingin terasa menusuk. Kami berenam, saya, mbak Dian, Elias, Avit, Bayes dan Sherdrov pun masuk dan memesan menu lengkap untuk 6 orang. Tak ada yang spesial dari menu hari itu karena hampir semua sudah pernah saya coba di Indonesia. Tak perlu menunggu lama, seorang pelayan bermata sipit yang mungkin direkrut untuk benar2 menambah aura China datang ke meja kami. Diawali dengan chicken soup panas sebagai appetizer, serta aneka hidangan lain seperti nasi goreng, mie goreng, Peking duck, ayam masak almond, udang asam manis, udang cah jamur, dan hotplate ayam saus bawang putih, kami berenam makan dengan bersemangat. Bagi saya, the best part was chicken with garlic sauce, benar-benar tasty! Untuk dessert, mereka menyuguhkan buah leci dengan sirup. Untuk keseluruhan menu yang benar2 bikin nampol itu, kami berenam membayar 52 euro.

Dari Chinese resto, meskipun tertutup kabut tipis, kami bisa melihat Castelo dos Mouros yang berada di atas bukit. Bangunan batu yang berdiri kokoh itu seolah merayu kami untuk segera mendatanginya. Tapi sayang, hari itu, 1 Januari, bus 434, satu-satunya bus yang bisa membawa para wisatawan lagsung ke Mouros tidak beroperasi. Kami pun sepakat untuk berjalan kaki tanpa tau pasti jarak yang harus kami tempuh. Dan dimulailah "pengembaraan" dengan tema "Castle hunting" dengan jumlah peserta di garis start 6 orang. Dua puluh menit pertama terasa sangat menyenangkan karena di kiri kanan ada banyak scene indah yang bisa difoto. Pun saat memasuki kawasan souvenir shop, yang membuat saya teringat pada kios-kios di dalam kawasan wisata Tangkuban Perahu, semua begitu menakjubkan mata. Tipikal jalanan yang berbatu, berbentuk kotak-kotak kecil dan disusun menyerupai puzzle seolah melengkapai nuansa Sintra yang juga disebut sebagai UNESCO's World Heritage Site. Tipe jalanan seperti ini  hampir sama seperti yang ada di Belgia, namun ukuran batu yang digunakan lebih kecil dan permukaannya lebih rata.

jalanan di Sintra

Lepas dari Sintra kota, kami mulai mendapati jalanan sunyi, beraspal halus yang lazim dilalui bus menuju kastil. Di tepi kanan dan kiri adalah hutan dengan lembah yang melandai serta beberapa bangunan tua yang berjarak sekitar 100m satu sama lain. Semakin kami mendaki ke atas, semakin jarang bangunan yang kami temui. Hal yang cukup menenangkan adalah bahwa bukan hanya kami wisatawan kesorean yang nekat berjalan kaki, ada beberapa wisatawan lain yang juga jalan kaki, meski mereka berjalanan ke arah yang berlawanan, dengan kata lain, kembali ke kota. Beberapa dari mereka bilang bahwa gerbang kastil ditutup, sehingga mereka tidak punya pilihan lain selain kembali. Hm... beberapa dari kami pun mulai goyah, dan berniat balik badan. Namun, Elias, teman dari Ethiopia bilang, "Plis, don't waste it, kita sudah jalan kaki 1 jam lebih, saya ngga mau balik sebelum nemuin kastil!" Yaa, alasannya masuk akal juga, mungkin dalam beberapa saat lagi kami akan sampai. Namun, plang-plang di tepi jalan yang menunjukkan angka 9,2 agak menggoyahkan hati kami. Dua ratus meter berjalan, angka itu berubah menjadi 9. Apakah itu berarti kami masih harus berjalan 9 km lagi menuju gerbang Mouros? Tidaaaaakkk.... Andaikata kontur jalannya rata, tidak menanjak, tidak dingin, tidak gerimis juga tidak menjelang senja, mungkin kami berenam akan bersama-sama sampai di puncak. Kenyataannya? Dua dari kami, Bayes dan Sherdrov mengundurkan diri dan memilih pulang ke Lisbon.  Tersisalah 4 orang penuh determinasi yang bertekad bulat menemukan pintu gerbang kastil, hanya pintu gerbangnya saja karena diyakini 100% bahwa kastil Mouros ditutup 1 Januari. Singkat kata, kami berempat, four musketeers, sampai di pintu masuk. Seekor kucing hitam tua menyambut kami, ya, hanya kucing, bukan penjaga loket yang siap menerima 14 euro dari tiap wisatawan yang hendak menikmati indahnya pemandangan Lisbon dari puncak Mouros. Tak ingin merasa sedih, kami pun membuat foto-foto konyol dan tertawa terbahak-bahak hingga lelah seolah sirna.

Castelo dos Mouros, gambar diambil dengan extra zoom 
setelah menempuh 1/3 perjalanan (intinya : masih jauuh)


Di dalam kereta yang akan membawa kami pulang ke Lisbon, kami semua tertidur. Tampaknya 4 jam berjalan kaki cukup membuat kami merasa "sedikit" lelah meskipun belum berhasil membuat kami berencana menyudahi perjalanan. Tiba di Rossio, stasiun dalam kota Lisbon, kami kemudian berencana untuk makan malam di Bangla Restaurant, rumah makan dengan menu khas Asia Selatan. Mbak Dian bilang, kari ayam dan roti chapatinya benar-benar enak. Bangla resto ini berada di kawasan Martim Moniz, tempat yang diyakini "rawan bahaya" karena banyaknya penduduk migran yang berdiam disini. Memasuki kawasan Martim Moniz, kesan yang tampak adalah gelap, kotor dan tidak terawat. Di kanan-kiri jalan banyak migran yang berdiri mengobrol, umumnya mereka berasal dari China, India dan sekitarnya serta Afrika. Di jalanan ini pula, grocery shop yang menjual bumbu-bumbu Asia berada. Teman saya Avit membeli bumbu Briyani, dan bilang di pertengahan Januari dia akan memasak masakan Bangladesh dan mengundang kami semua. Sayang, tanggal itu saya sudah berada di Porto. Ajakan makan malam bersama juga datang dari teman2 EM, untuk Minggu malam, 2 Januari di rumah makan khas Nepal. namun kembali saya sesalkan, karena minggu malam saya pasti sedang di atas kereta menuju Porto. *sigh

Rumah makan khas Bangladesh yang kami datangi menyajikan menu-menu khas Asia Selatan yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Yang familiar bagi saya hanya Chapati, Pharata, Curry juga Nasi Biryani karena keempat makanan itu bisa didapat di Indonesia. Tak mau berspekulasi, akhirnya makanan itu juga yang saya pesan disana karena di buku menu tidak ada definisi setiap dishes dan sang pelayan juga tidak bisa bahasa Inggris. Satu piece roti chapati hangat plus kari kambing full spices pun segera saya nikamati. Rasanya tak beda jauh dengan yang pernah saya buat di Gent saat sedang getol-getolnya bereksperimen masakan. Itu tandanya, saya bisa disetarakan dengan koki rumah makan ini kan? Agak menyesal juga memesan kari kambing, meskipun saya akui rasanya lezat walau tidak sepedas yang saya angan-angankan. Mustinya saya memesan makanan lain yang benar-benar khas Bengali. Mudah2an ada lain waktu untuk mengunjungi Bangla resto dimanapun, bahkan jika memungkinkan saya ingin mencicipinya di tempat asalnya, Bangladesh. Oya, untuk 1 pc chapati juga semangkuk kecil lamb curry, saya membayar hampir 9 euro. Hiks.. mahaaaall.