Showing posts with label romansa. Show all posts
Showing posts with label romansa. Show all posts
Friday, December 2, 2011 0 komentar By: shanti dwita

Saat aku menjadi ....

Saya duduk di pinggir perron 3 stasiun Nekkerspoel, awal Desember, pagi yang dingin dan senyap bekas hujan deras yang mengguyur Mechelen semalaman. Sepi, hanya beberapa orang tampak menunggu kereta. Kabarnya hari ini akan ada strike dan banyak kereta tidak beroperasi karena ada demonstrasi, kalaupun beroperasi, pasti akan terlambat. Itu sebabnya tak banyak mahasiswa-mahasiswa De Nayer Institute yang menunggu kereta L jurusan Atwerpen pagi itu, mungkin mereka sudah menumpang bus sejak tadi.

Saya sempat melirik judul di salah satu kolom harian “metro” berbahasa Belanda yang ditinggalkan pemiliknya di bangku merah yang warnanya mulai pudar, tentang FC Brugge, namun tak saya hiraukan lagi, it was in Dutch, man! Saya melamun saja akhirnya, dan angan saya melayang ke beberapa tahun lampau, saat saya masih rutin duduk di metromini butut warna orange-biru nomer 29 jurusan Pluit Muara Baru. Bukannya bermaksud sinis, tapi memang semua metromini yang menuju muara baru tidak ada yang mulus, semua berkarat hingga kadang lantai bis yang agak bolong membuat penumpang seperti saya bisa merasakan angin sepoi-sepoi dari bawah body bus. Angin sepoi-sepoi masih  dikategorikan good news, namun jika yang masuk lewat lubang tersebut adalah air laut, maka saya akan menghela nafas, sambil membaca Bismillah.

Banjir rob sering datang, menggenangkan Muara Baru setiap pasang purnama, atau mungkin lebih sering lagi, yang jelas, banjir itu datang di hari pertama saya bekerja di sana sebagai analis lab di pabrik pembekuan udang. Datang jam 7 pagi, langsung diberi tugas mengkultur bakteri dari sampel udang untuk bebepara parameter mikro. Saya sendirian di lab, hanya di pandu oleh kepala QC, namun prakteknya tetap saya yang kerja, ya iya, itu gunanya saya direkrut. Perusahaan itu perusahaan baru, dan saya memang digariskan untuk kerja sendirian, karena katanya, posisi saya ngga membawa keuntungan langsung buat perusahaan, jadi kalo bisa investasi pegawai untuk lab ditekan dengan memaksimalkan tenaga yang ada. Oke, ngga masalah, yang penting saya (akhirnya) dapat kerjaan, setelah berikhtiar mengirimkan berpuluh-puluh surat lamaran yang seringnya berakhir tanpa panggilan, atau gagal test di tahap akhir. Hmm.. mungkin ini yang namanya garis nasib, saya lulus dari IPB dengan IPK hampir 3,9 plus embel2 mahasiswa baik2, disalamin rektor pula, tapi kok ya nyari kerja susahnyaaa minta ampun. Anyway, no pain no gain, saya jalani dulu episode hidup saya di Muara Baru.

Saya tinggal di Luar Batang II, gang dengan lebar 2-3 meter, tidak jauh dari apartemen mitra bahari, hanya dipisahkan dengan parit besar yang sayangnya selalu meluap kalau hujan deras. Di ujung gang, ada masjid tua yang punya banyak jamaah dan sering dikunjungi untuk ziarah, orang-orang sekitar menyebutnya masjid keramat. Masjid tua yang jadi ikon Batavia ini pernah dikunjungi presiden SBY di acara buka bersama tahun 2007, saya ingat sekali, saat itu dari lantai 3 kamar, saya melihat sosok bu Ani dan Pak SBY di dalam mobil sedan RI 1 yang melaju sangat lambat, dengan kawalan pasukan pengaman berseragam batik. Sayangnya saya tidak ikutan, padahal menu buka puasanya sudah pasti lebih nikmat dari nasi kotak rumah makan padang sederhana SA yang paling mahal. Saya hanya dengar cerita dari teman-teman produksi di pabrik yang ikut menikmati nasi kotak dari presiden itu keesokan harinya. Di kawasan mesjid keramat, saat banyak peziarah datang di malam Jumat untuk berdoa di makan Sayid Husein bin Abubakar Alaydrus, para pedagang kaki lima pun akan selalu ramai menggelar dagangannya, saat gelap mulai menjalar. Aktifitas jual beli mulai ramai ba’da maghrib, mulai dari Luar Batang V, hingga menuju pelataran masjid. Barang yang dijual beranekaragam, mulai dari mainan anak-anak, sandal sepatu, jajanan sampai makanan macam sate lontong, bakso dan soto ayam, tapi yang mendominasi adalah pakaian. Sebagian penjual pakaian  adalah pedagang di beberapa kios di Pasar Ikan. Ya, saya tau karena saya pernah beli baju disana, dan ibu-ibu penjualnya bilang, “main-main ke toko saya kapan-kapan”. Bagi saya pasar malam di daerah kramat seperti hiburan yang selalu saya nanti-nanti tiap minggunya, dan saya tidak akan ragu untuk bilang kalau saya adalah pelanggan setianya.

Hari-hari bekerja di Muara Baru sangat saya nikmati, bahkan saya senang-senang saja untuk datang di hari Minggu untuk uji lanjut Salmonella yang dengan metode konvensional butuh 3-4 hari analisis. Alasan utama saya datang, karena selain dapat uang lembur, saya juga dapat sarapan dan makan siang gratis, seperti hari-hari kerja biasanya. Namun itu semua butuh adaptasi, setelah sekian kali saya merasa shock juga tersinggung dengan omongan para pekerja harian yang bukan main kasar dan joroknya. Dampak dari adaptasi itu salah satunya vocabulary kata-kata jorok saya bertambah (meski ngga pernah saya praktekkan) dan saya jadi lebih “gaul” dengan mereka setelah dekat dengan seorang QC yang cukup dianggap dikalangan pekerja harian, istilahnya, “kalo lo mau survive di pabrik, lo temenan yang baek lah ma ni orang!” Haha. Bytheway, dekat disini jangan diartikan negatif, saya dekat dengan dia hanya sebatas teman, karena meski laki-laki,  dia tertariknya dengan laki-laki juga, tidak dengan cewek tulen kaya saya.. UUpps #aib ! Oke, sebut saja sahabat karib saya ini sebagai Ditje.  

Sejak bergaul dengan Ditje, pekerja-pekerja pabrik jadi nggak jutek lagi, saya juga selalu dapat live report tentang gosip-gosip terbaru di kalangan buruh harian, mulai dari ribut-ribut, berantem, berita selingkuh, sampai berita kesurupan. Ditje ini juga yang mengajari saya cara praktis menjadi QC di pabrik udang, karena kadang kalau saya bosan di lab, saya sering masuk ke ruang produksi, ngobrol dengan QC atau dengan staf-staf produksi, dan cateeet, “mereka semua laki-laki!!”

Banjir rob selalu menjadi warna tersendiri untuk saya. Banyak pengalaman manis bersama buruh-buruh pabrik yang saya lalui selama banjir. Untuk yang belum tahu seperti apa Muara Baru, ada baiknya mencoba main-main ke kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zahman, terutama saat banjir. Supir bajaj dan metromini yang sayang mesin, biasanya akan menurunkan penumpangnya di gang Elektro  atau gang Marina saat banjir di area pelabuhan mencapai paha orang dewasa. Jarak dari gang Marina ke kawasan industri masih sekitar 500-600 meter lagi, dan itu bisa ditempuh dengan berbagai ikhtiar. Banyak mode transportasi yang pernah saya coba, salah satunya sepeda onthel. Sedih kalau mengingatnya, bapak pendorong sepeda yang memanggil saya dengan sebutan “neng” akan menyuruh saya naik dan melipat kaki, sementara dia menuntun sepeda di tengah banjir, dengan kakinya yang meraba-raba pijakan, dan kepalanya yang mencoba mengingat-ingat dimana letak jalan bolong yang wajib dihindari, kalau tidak mau terperosok dan terendam lebih dalam.
Saat banjir rob datang di sore hari, rasanya pilihan menjadi lebih mudah. Jam pulang kerja, tak perlu kuatir dengan celana basah dan jinjing sepatu, itu sudah lumrah. Biasanya saya naik metromini dari dekat pelabuhan, bersama teman-teman QC/produksi dan pekerja harian yang mayoritas ibu-ibu, janda, juga anak-anak muda tujuh belasan tahun yang notabene adalah migran dari daerah brebes-tegal-pekalongan. Tapi ya, karena lama melanglang di Jakarta, tinggalnya di Muara Baru pula, biar darah djawa, tetep fasih dong ngomong “lu-gue”. Beberapa masih ada yang pakai aku-kamu, ada juga yang sebut nama, semisal “Asih mau kesitu dulu ya..” hehe, yang tipe begini biasanya anak baik-baik. Oke, alkisah, saya pun rutin pulang bersama-sama mereka, kalo nggak berdiri nggantung di pintu metro mini (sangking langka dan banyaknya penumpang yang ingin naik), kami kadang menyetop bajaj dan mengisi si roda tiga gembul warna oranye itu dengan 4 orang penumpang. Apa!! 4 orang?? Lima termasuk supir sebenarnya..Haha, yaaa.. begitulah, maklum, abang tukang bajaj suka jual mahal saat merasa supply lebih sedikit dari demand, tarif bajaj untuk perjalanan uji nyali melintasi banjir bisa didongkrak 2-3 kali lipat. Untuk seperti apa detilnya tentang deskripsi satu bajaj diisi 5 orang, silahkan dibayangkan dengan menaruh dua kaki penumpang depan di luar pintu, dan satu penumpang di tengah belakang yang apes karena harus bertahan 7 menit dalam posisi agak jongkok!

Saat ingin melintasi banjir dengan gratis, para buruh harian tercinta biasanya rajin-rajin mengulurkan jempolnya pada setiap mobil pick-up atau truk yang lewat. Saat mobil itu mengerem, saya pun ikut ambil bagian dengan berlari-lari mengejar mobil bersama mereka. Duduk di gerobak belakang mobil pick-up melewati genangan air, benar-benar terasa seperti putri kerajaan yang diarak tandu (*lebay). Pernah di suatu malam, saya dan teman-teman yang sudah terperangkap bajir di dekat gerbang Nizam Zahman dapat tumpangan truk.. seperti biasa, setelah bahu-membahu, saya bergasil naik ke gerobak belakang, dengan duapuluhan orang lainnya yang berdiri berjejalan di dalam truk, saya tidak sempat mengobservasi sekitar, yang jelas saya nggak harus berjibaku dengan air rob yang warnanya kadang kuning keruh, kadang abu-abu, dan kadang agak hitam.. yaaa.. tipikal warna air laut yang dicampur limbah pabrik ikan-udang. Turun dari truk di luar batang V bersama beberapa teman, saya pun akhirnya berhasil mengidentifikasi truk apa yang baru saja saya naiki.. Hiyuaaa.. truk kuning bertuliskan Dinas Kebersihan Jakarta Utara!! Pantas saja sejak awal saya naik, saya mencium bau-bau tidak enak!

Pengalaman dengan truk sampah masih terhitung biasa, dibandingakan dengan ketika saya naik trailer, bukan di samping supir, tapi di leher trailer, antara kepala (bagian ruang kemudi) dengan badan trailer (container). Kemacetan panjang saat banjir, hari yang beranjak gelap, juga ajakan teman-teman QC untuk naik ke trailer, seperti menyuruh saya untuk mencoba tantangan baru. Baiklah, 15-20 menit perjalanan macet gerbang Muara baru sampai Luar Batang (jaraknya mungkin hanya 1,2km), saya pegangan erat di tiang besi, setelah sebelumnya berhasil memanjat roda trailer yang besarnya bukan main. Saya harus melupakan bahwa saya ini perempuan, namun kerasnya medan membuat saya harus berani seperti layaknya teman-teman saya yang laki-laki.

Entah bagaimana saya harus menyebut semua itu, kenangan baik atau kenangan buruk, tapi yang jelas saya suka episode hidup saya di Muara Baru. Saya mengenal langsung teman-teman buruh harian dengan suka duka hidupnya, saya juga sering diajak main kerumah mereka, menyusuri jalanan sempit dengan lebar satu meter. Tiduran di salah satu rumah teman buruh sambil nonton tivi sambil ngobrol-ngobrol, tanpa ventilasi, dan agak sumpek karena kamarnya di lantai dua dengan tinggi ruangan hanya 2 meter. Pernah juga diajak Ditje ke rumah ibu-ibu pekerja di Pasar Ikan, dekat dengan sungai besar, gang-gang yang menuju ke rumah-rumah terbuat dari bambu-bambu besar yang terapung diatas sungai. Duduk di rumah kayu terapung sambil mendengarkan lantunan gossip-gosip seru seputar orang-orang di pabrik, juga tentang tetangga mereka. Banyak nama mereka yang masih saya ingat, yang paling lekat adalah Mak Nong, ibu-ibu heboh yang suka bawa makanan untuk dijual di pabrik. Karena tua, kosakata joroknya, beuhh, bukan main banyaknya, mungkin akibat bioakumulasi. Dagangan favorit saya sebenarnya ngga ada, tapi saya berkali-kali beli karena Ditje selalu beli, yah, kembali ke tips “kalo lo mao survive di pabrik bla bla bla..”

Ditje teman saya ini juga memperkaya falsafah hidup saya (falsafah itu apa sih??). Dia selalu bagi-bagi cerita kalu malamnya habis clubbing dan bertemu pria tampan, dia juga selalu stylish, dan peduli penampilan. Rajin rebonding, padahal rambutnya pendek aja, rajin facial dan pake moisturizer, juga selalu complain kalau badannya selalu bau kalau habis ngendon di ruangan produksi. Yah, saya tau persis bau-bau macam apa yang meninggalkan jejak di badan, karena saya juga sering ikut bantu-bantu buruh harian mengupas udang dan menyortir mana yang defect, broken, kualitas 1 dan kualitas 2, lumayan, sambil ngobrol waktu kerja pagi sampai sore akan cepat berlalu. Ditje pernah promosi tentang mie ayam enak di dekat pelabuhan ujung, saya lupa kalau ditanya arah mata anginnya,  kayaknya dari pabrik, saya masih jalan lagi ke utara, dekat dengan tempat kapal-kapal ikan mendarat dan bongkar muat. Saya ikut saja, toh harganya cuma 5000 rupiah semangkok, dan sudah dapat embel-embel rekomendasi enak. Sore itu, saya, ditje dan beberapa teman-teman QC/produksi (total kami berempat atau berlima), kabur diam-diam untuk hunting mie ayam. Namun mie yang dicari ternyata baru dalam proses memasang tenda. Ditje pun mengajak saya “gue tau rumahnya, kita susulin kesana aja yuk!” Haha, itu kali pertama saya akhirnya ikut bantu-bantu bapak-ibu penjual mie ayam buka lapak. Setelah nungguin tumisan daging ayam (untuk topping mie ayam) matang di dapur rumah mereka, saya dan ditje pun menawarkan bantuan untuk mengangkat termos dan perlengkapan buka lapak lainnya. Rumah mereka tidak bersih sempurna, tapi saya tidak kehilangan selera untuk makan disana, juga tidak minta diskon karena sudah bantu-bantu. Saya tetap membayar sesuai harga jual yang mereka pasang, malu dooooong, masa minta kortingan.

Tinggal di Muara Baru yang tidak bersih, tidak higin, tidak saniter.. apalah istilahnya, saya nggak merasakan semua itu sebagai masalah berarti. Tetap saja saya beli lauk dari warteg-warteg di sekitar tempat banjir itu, tetap juga saya jadi pelanggan aban bakso yang mangkal di depan kos, dan juga pelanggan setia kwetiaw rebus yang mengandalkan micin untuk kelezatan hidangannya. Saya tetap sehat kok, meski pernah sekali harus bermalam di Atma Jaya karena kram perut akut, diare dan muntah2, saya nggak pernah kapok.

Hmm.. saat menyelesaikan tulisan ini, saya sedang duduk di depan netbook, di student desk di laboratorium, ditemani segelas teh panas dengan krimmer kental. Hmm.. Nikmat Tuhan mana lagi kan yang kamu dustakan? Menerawang balik kehidupan saya di Muara Baru tahun 2007, dan membandingkannya dengan Desember 2011, saat saya kembali  berstatus mahasiswa di negeri antah brantah. 
Monday, December 27, 2010 0 komentar By: shanti dwita

Hari Ibu

Saya lupa, entah untuk berapa lama saya menyandang status sebagai ibu. Satu hal yang saya ingat, saya nggak mendapatkan ucapan "Selamat hari ibu" dari suami di 22 Desember tahun ini. Mungkin karena saya jauh, mungkin juga karena pada hari itu mereka berdua sedang sakit hingga sama sekali nggak kepikiran untuk memberi ucapan. Satu hal yang saya ingat, di hari itu suami saya menelfon "Yang, kalo Adis demam 37.5 Valisanbe-nya dikasih ngga? Dosisnya? Berapa kali sehari?" Empat bulan terpisah dari mereka belum cukup membuat saya lupa tentang merawat anak dikala demam. Bahkan dosis obat serta jam memberikannya saya masih ingat. Satu-satunya yang bisa saya lakukan saat itu adalah menelfon sesering mungkin untuk mengecek perubahan suhu badan Adis dan mempercayakan sepenuhnya perawatan Adis pada sang ayah. Dia  memang laki-laki, tapi dia sangat bisa diandalkan dalam merawat anak kami. Dia sibuk bekerja dari pagi hingga malam, tapi selalu punya waktu untuk memastikan Adis sudah makan, bahkan selalu menyempatkan untuk menyuapi setiap pagi sebelum berangkat kerja. Adis bukan anak yang doyan makan, bahkan mbak-nya kadang menyerah dan bilang "Adisnya ngga mau makan, Bu". Saat-saat seperti itu, Adis biasanya bilang "Adis maunya disuapin ibu atau Adis mau disuapin ayah aja.." Otomatis, saat saya tidak ada bersama mereka seperti saat ini, hanya dialah yang bisa diandalkan untuk membuat Adis mau makan.

Masih lekat dalam ingatan bagaimana kami berdua melewati hari-hari bersama dulu, saat Adis masih berbentuk embrio yang meringkuk dengan nyamannya dalam perut saya. Dia, suami saya, paham betapa letihnya saya menjadi ibu rumah tangga, dengan setumpuk pekerjaan mulai dari masak, mencuci piring, menyetrika hingga membersihkan seluruh rumah, setiap hari. Dia pun oke saja ketika saya minta bantuan untuk menangani urusan cuci baju. Ketika bayi kami lahir, pekerjaan saya semakin menumpuk seolah 24 jam sehari tidak cukup untuk melakukan semua aktifitas. Saat itu, dia juga tidak diam saja meski saya tau dia lelah bekerja. Dia terjaga di malam hari dan mau mengganti popok. Saat bayi Adis rewel tanpa henti, dia bersedia untuk menimangnya hingga tangisnya usai. Hingga kini, saya masih ingat bagaimana dia duduk tertidur sangking lelahnya membantu menjaga Adis sepanjang malam dan juga ingat kalau saat itu saya memandangnya sambil tersenyum.

Menjalankan tugas sebagai ibu menurut saya tidak berat (selama ada suami yang membantu meringankannya). Kalau toh saya sebagai perempuan, ditakdirkan untuk memiliki rahim dan dijadikan perantara untuk seorang manusia baru lahir ke dunia, itu sudah lumrah terjadi. Bukan hal yang perlu dijadikan pamrih karena saya memang ikhlas menjalani hal itu. Mungkin perasaan ini juga dimiliki oleh ibu lainnya. Kalau ada ibu yang marah dan berkata "dasar kau anak durhaka, tidak tahu apa bagaimana ibumu mengandung dan melahirkan... bla bla", saya pun akan merasa kalau dia tidak ikhlas atas takdirnya sebagai perempuan. Mengandung dan melahirkan tidaklah berat, saya justru ingat bagaimana saya menikmatinya. Jika orang bilang melahirkan itu antara hidup dan mati, saya justru tidak pernah berfikir bahwa saya akan mati saat melahirkan. Suami saya justru yang paranoid setengah mati melihat saya yang kesakitan. Hingga dengan konyolnya dia berdoa, jika memang dia dihadapkan pada pilihan, dia ingin saya yang tetap hidup. "Honey, I'll just be alright!" 

Satu hal yang digaris bawahi dari pemikiran saya tadii (dari sudut pandang saya sebagai seorang ibu) : mengandung dan melahirkan itu sudah kodrat, tidak perlu dijadikan beban untuk anak hingga harus merasa berhutang budi pada ibunya. Hal terpenting sebenarnya adalah proses mengasuh dan memberikan kasih sayang, menurut saya itu hal termulia yang bisa diberikan seorang ibu pada anak-anaknya. Untuk hal ini, saya merasa sangat kerdil, hingga tak pantas rasanya disebut sebagai seorang ibu. Saya memang sangat memperhatikan kesehatan dan kebersihan Adis. Memasakkan makanan kesukaannya, mengatur jadwal minum susu, memberikan vitamin/suplemen, membutkan jus dan seterusnya yang berhubungan dengan kecukupan kalori dan gizi. Tapi semua itu tidak kontinyu, tidak setiap saat saya ada disisinya untuk melakukan hal itu, tidak punya bayak waktu juga untuk mengajaknya bermain dan belajar. Lalu? Siapa yang selalu ada di sisi Adis dan nggak pernah meninggalkannya? Jawabannya : suami saya! 

Beruntung memiliki seorang yang penyayang seperti dia. Saya tersenyum saat beberapa waktu lalu dia bilang  baru selesai mengajak Adis main layang-layang, juga saat dia bercerita membawa Adis turut serta dan menjadikannya supporter saat ia bermain futsal dengan teman-temannya. Tidak bisa dipungkiri kalau sebagian besar peran ibu telah diambil alih olehnya saat saya tak ada. Sangat nyata bahwa hidup yang dijalaninya tanpa saya disisinya begitu sulit, seperti halnya mobil yang kehilangan satu rodanya. Dia ibu dan juga ayah terbaik untuk Adis. Yang bisa saya lakukan adalah berdoa, agar setiap kesedihan dan kesusahan yang mereka berdua rasakan saat ini akan digantikan dengan kebahagiaan yang tak terkira. Akhirnya, jika seorang ibu begitu dianggap mulia hingga layak diberikan sebuah "hari ibu", maka sayapun akan memberikan ucapan "selamat hari ibu" pada suami saya. Meskipun dia tidak mengandung dan melahirkan, tapi perannya dalam memberikan kasih sayang, melebihi peran saya sebagai ibu biologis. "Selamat hari Ibu, honey!"




sahabat sejati

Jauh sebelum kami saling kenal, nama jelek itu sudah lekat dengan kami. Teman2nya memanggilnya aki karena dia keliatan tuaaa dengan brewoknya, sedangkan teman2 saya memanggil saya bogel.. Duh.. ngga tau yaa, masalah fisik ini maaahh (*pura2 bloon). 

Sampai sekarang, panggilan itu masih sering kami pakai, lucu aja rasanya, memanggil dia “akiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii” seolah dia memang benar2 teman (tanpa embel2 cinta).. dan dia pun akan menyahut “Apa bogeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeLLL”… haha.. nggak pernah dewasa. Kami berdua layaknya sahabat sejati yang kompak. Berada disini dan jauh dari dia, saya merasa sangat kehilangan sosok teman, yang sering meledek saya hingga membuat saya keki minta ampun. Saya kehilangan partner main monopoli, kehilangan lawan tanding untuk main bulutangkis dan balapan lari, juga kehilangan partner untuk makan ketoprak di pinggir jalan Sudirman. Ah yaa.. Ketoprak! Seumur2 saya nggak suka makan ketoprak. Suatu hari dia pulang tengah malam setelah futsal/bulutangkis dan dia membawakan sebungkus ketoprak buat saya. Yah.. biarpun sama sekali nggak laper dan bener2 ngantuk karena sudah pules tidur, saya pun makan karena dia bilang “ini special untuk kamu, pedes soalnya”.. Dia pun menunggui saya makan dan cukup girang ketika saya bilang, “ketopraknya enaakkk!”  Dan sejak saat itulah..saya doyan makan ketoprak dan selalu malak dia untuk beliin. Saya jamin dia pun pasti seneng, karena harganya murah, Cuma 8000… Uhh.. beruntungnya dia, karena saya ngga suka makan makanan mahal! :(  

Sama halnya dengan film action. Jaman pacaran, dia nurut aja kalo saya pilih film drama romantis dan saya selalu nolak kalo dia nunjuk film action. Di benak saya film action sama sekali nggak asik, dan masalahnya, saya sering ngga nyambung sama jalan ceritanya. Karena hal itu juga, dia sering mengejek saya lemot dan sedikit bloon (sedikit doang.. ngga papa laaahh).  Tapi jangan ditanya setelah married. Berkeping2 VCD/DVD action  seperti Bourne (Ultimatum? Supremacy? Identity? Whatever lah…), film2 perang, film2 dengan setting jaman dulu (raja2 romawi, inggris etc etc), Wolverine X-Man sampai the departed-nya Di Caprio hilir mudik di depan mata saya.  Awalnya saya fikir “apaan sih ini..ngga banget..males nontonnya” dan aneka komentar negatif  lainnya. Suatu saat dia pergi kerja, dan saya ngerasa ngga ada kerjaan, mulailah saya habisi semua film2 action itu, dan ternyata…………..saya sukaaaaaaaa… !! haha..

Contoh lainnya? Ngngng… Kerokan!!! Nggak elit banget memang, tapi ngga tau kenapa, dia hobby banget, tiap ngerasa nggak enak badan pasti “yang…kerokin aku dong!” (panggilannya buat saya kalo lagi ada maunya). Ngga kebayang, karena dari kecil saya emang nggak pernah terjun dalam dunia kerokan, uuuhh.. tangan ini rasanya pegel banget disuruh megang koin  plus dikasih aba2 tentang cara ngerokin yang baik. Secara saya amatir, punggungnya memang jadi merah, tapi bukan karena anginnya keluar, lebih cenderung ke arah lecet dan luka2. Haha. Pastinya bukan “bogel” namanya kalo ngga minta reward. Kadang2 saya juga minta dikerokin balik, biarpun..hhhh..sakit gila! Tapi lumayan untuk ngasih dia kerjaan. Hehe, atau kalo ngga biasanya rewardnya “oke..gantiaaaann. Pijitin aku sampe tidur!” Duh..rasanya kaya ratu sejagat!(Really miss this moment!!)

Banyak hal2 yang sebelumnya saya ngga suka, tapi setelah kenal dia, saya jadi suka. Tapi rasanya, saya nggak begitu berhasil menghasut dia untuk menyukai hal2 yang saya suka. Saya ini pemakan segala, semua makanan dari yang namanya sayur daun pepaya yang pahitnya minta ampun sampe ikan asin yang asin banget, saya suka dan nggak pernah milih2 makanan. Beda banget dengan teman hidup saya yang  satu itu, ngeliat bawang Bombay, dipinggirin, makan sayur? Maunya tumis kangkung doang…makan ikan..ngga mau sama tulang2nya..padahal tulang ikan kan banyak kalsiumnya? Hhhh… (tapi memang dalam poin yang terakhir, saya agak lebai sedikit : buat saya, selama tulang ikan tersebut masih dalam kriteria “bisa dikunyah tanpa merusak gigi”, pasti saya lumat habis).

Ngomongin dia, nggak akan ada habisnya. Kemarin lewat telefon, dia bikin saya shock dan ngga bisa berhenti ketawa. Ketawa jengkel, gondok, lucu, gemes.. campuraduk!!!!!. Rasanya pingin cepet2 pulang dan balas dendam.. nggak sabar rasanya untuk bikin perhitungan dengan dia. Dan biasanya, perhintungan yang paling imbang untuk hal2 konyol dan menyebalkan seperti ini adalah “dikelitikin sampe nangis!” Saya sih gampang, kurang dari 5 menit diiket dan digelitikin, saya sudah bisa nangis dengan begitu sedihnya, hingga dia nggak tega dan membebaskan saya.. sedangkan untuk dia, ngga da cerita saya berhenti menggelitiki sebelum dia bilang ampuun seratus kali dan ngadu ke adis “adisss..tolong ayaaaaaaaahhh”..dan si mungil itupun pasti akan bilang “ibu stop ibu..kasian ayahnya” Huhhmmmmm!!! “Hunny! Waspadalah ! Wapadalaaaaaahhh! Your enemy is coming!”

Halloween party

Beberapa waktu lalu di penghujung Oktober teman-teman saya mengajak untuk mengikuti perayaan Halooween di the Porter House, sebuah night club tempat anak-anak muda Gent biasa ngejojing alias disko-disko. Setelah ajakan2 ke night club yang selalu saya tolak sebelumnya, akhirnya kali ini saya bilang "iya" dengan pertimbangan bahwa ini special occasion, bagian dari kultur Barat yang memang ingin saya lihat. Lagi pula, saat itu momentumnya tepat, baru saja terlepas dari beban ujian 3 mingguan, presentasi serta paper yang benar-benar "menggila". Terus terang saya nggak punya persiapan apapun untuk ke acara Halloween. Saat teman-teman saya mengatur janji di  facebook untuk membeli pernak-pernik serta make-up, saya malah sedang nyenyak-nyenyaknya tidur siang. Pun saat saya tanya housemate saya, Esther dan Steve, tentang kostum yang akan mereka pakai, saya memilih apatis. Betapa tidak, mereka bilang mau mengecat muka ala Joker dengan warna putih, bibir merah belepotan darah, mata hitam, serta beberapa bekas luka sayat.. Aahh..mana mungkin saya bisa ikutan??!

Perayaan Halloween saat ini memang lekat sekali dengan pesta kostum, terutama di kalangan muda mudi. Halloween aselinya merupakan tradisi Samhain, sebuah tradisi di akhir musim panas untuk menyambut datangnya winter dan dilakukan oleh bangsa Galia kuno di wilayah Scotland. Bangsa Galia meyakini bahwa di hari Samhain (31 Oktober) batas antara dunia nyata dan dunia gaib akan sangat tipis, sehingga para penduduk dunia gaib dapat dengan mudahnya menyeberang ke alam nyata dan mengganggu mereka. Nah, agar roh jahat tidak merasuki mereka, para penduduk pun memakai topeng menyeramkan sebagai penangkal. Tradisi memakai topeng serta kostum seram inilah yang hingga saat ini masih dilakukan hingga sekarang. Lalu mengapa tradisi yang tadinya bernama "Samhain" berubah menjadi "Halloween"? Menurut artikel yang saya baca, itu semua ada kaitannya dengan campur tangan gereja dan kaum nasrani yang menganggap Samhain tidak gerejawi. Dengan harapan bangsa Galia meninggalkan tradisi Samhainnya, maka diciptakanlah label baru untuk festival ini, yaitu All Hallows Evening (malam bagi orang suci- All Saints), terdengar lebih religius, bukan? Kelamaan nama "Halloween" pun muncul untuk memudahkan masyarakat melafalkannya.

Kembali ke acara Halloween party di Porter House, Overpoort. Jam 11 malam saya bergabung bersama teman-teman, menunggu tram yang akan membawa kami ke dekat porter house. Teman-teman Turki, trio Hazal, Melike dan Mehmet sepertinya niat abis dengan dandanan maksimal. Hazal memakai kostum ala narapidana, dengan stocking stripes, hot pants, juga tanktop yang dibuat garis-garis dengan bantuan selotip putih. Crazy her! Plus  make up seram, topi khas napi, rantai juga tag yang bertuliskan nomor tawanan. Melike, berpakaian ala penyihir, tapi ngga mau mengambil resiko untuk tidak terlihat cantik. Mehmet, cukup total dengan make up seram, gigi drakula serta jubah berkerah tinggi, typically Dracula! Ahh... pergi bersama mereka bertiga rasanya cukup membuat kami semua mencuri perhatian orang-orang yang ada di tram. Dan karena perginya rame-rame, ngga ada alasan untuk ngga PD toh?

Trio Turkish

"So, Shanti.. this is your first time inside the night club! What is your impression then? Is it good?"  Well, nightclub itu penuh sesak, musik hingar bingar, lampu remang-remang dan semua orang sibuk bergerak. Di sana saya melihat Alessandro, teman Erasmus dari Italy. Dia lebih gila, mencoret-coret jas lab nya dan menjadikannya kostum scientist ala Dr. Frankeinstein.Teman-teman dari Spain juga datang, dan mereka semua kompak dengan kostum yang mereka pakai, Joker style!! Selain semua itu, satu hal yang menarik perhatian saya adalah dua gadis yang berdandan ala "The Smurfs", tokoh kartun yang diciptakan oleh kartunis/komikus (sorry kalo salah kata) Belgia, Pierre Culliford, yang sempat trend saat saya masih SD.

Dr. Frankeinstein wanna be

Spanish Guys

"The Smurfs" girls


Semakin larut meninggalkan pukul 12 malam, semakin banyak orang yang datang dan membuat suasana semakin penuh. Obviously, there was no place to sit. All I had to do was following the rhythm. But what did I do then since I couldn't dance? Aseli, irama musiknya sih woke dan saya suka, tapi rasanya  berat sekali menggerakkan badan. Walhasil, saya pun lebih asyik mengamati orang-orang disekitar saya , mengambil gambar mereka, dan mengobrol dengan beberapa teman yang rasanya makin malam makin banyak yang saya temui. Saya juga menengguk sebotol cola, minuman wajib saya saat kumpul dengan teman-teman, karena memang cuma itu minuman yang saya yakini tidak beralkohol, selain air kran tentunya.:P

Sekitar jam 3 pagi saya akhirnya pulang bersama keempat teman saya (setelah berhasil membujuk mereka karena lazimnya mereka baru akan pulang sekitar jam 5 pagi). Berjalan kaki menyusuri kanal di daerah Coupure, menempuh jarak sekitar 4-5 kilo! Untungnya malam itu cerah dan suasana hati cukup happy meskipun tidak terlalu menikmati malam pertama saya di nightclub. Voila, sampai dirumah, saya pun tidur dengan nyenyak, namun hanya 2-3 jam karena jam biologis tubuh saya akan otomatis berbunyi jam 6 pagi untuk sholat subuh. Setelah itu? Saya nggak bisa tidur lagi.

Dua hari setelah Halloween party di porter house, teman2 di group Facebook pun marak menyuarakan tuntutannya agar foto-foto halloween segera di upload. Ha, siapa lagi kalau bukan saya, karena memang hanya sayalah yang sibuk jeprat-jepret kamera saat semua orang berhappy-happy dengan minuman dan dansa dansi. Oke, tanpa ba bi bu, saya pun segera meng-upload foto-foto halloween di account Fb saya dan menge-tag semua teman Erasmus yang ada di foto-foto itu. Urusan selesai. Namun dugaan saya salah, karena hanya butuh beberapa saat sebelum sebuah surat "cinta" hinggap dengan manisnya di inbox. Hmm.. surat itu dari suami saya. Isinya begini :



Oops.. Did i make mistakes? Ya, di awang-awang sederhana saya, tentu saya ngga berfikir sejauh itu. Tapi, setelah ditelaah, apa yang dikatakannya memang banyak benarnya. Saya juga jadi ingat, rasanya mungkin hanya saya perempuan berkerudung yang hadir di Porter House malam itu, bukan hanya malam itu mungkin,  bisa jadi dalam sejarah Porter House buka, baru saat itulah ada perempuan dengan tutup kepala ikut  serta. Setelah sempat bingung tentang gimana caranya menghapus album di Fb dan tanya kanan kiri, akhirnya, dalam hitungan detik, album yang di upload sekitar 6 menit itu pun musnah, sempurna.

But, I think it's okay now to share it in my blog. 
Mengikuti kata orang bijak bahwa menulis adalah cara jitu untuk mengingat sesuatu, saya pun memuat cerita ini untuk mengingat kalau saya punya teman (hidup) yang selalu mengingatkan saya.
Thanks honey!
Wednesday, September 22, 2010 4 komentar By: shanti dwita

bertiga bersama

Sontak keriuhan itu hilang di telan malam, dan disinilah aku sendiri membunuh waktu tatkala kantuk belum juga mau mengusikku. Sunyi ini membuatku berfikir bahwa aku sendirian. Tapi benarkah itu, karena jiwaku merasa aku tak sendiri. Ada perasaan yang menenangkan saat kuyakin seeseorang yang berada di belahan bumi lain selalu menyenandungkan kasih dan kerinduan untukku. Tidakkah itu semua cukup menenangkan. Andai jarak dan waktu adalah maya, dan tak pernah nyata. Andai dengan mengejapkan mata ku bisa berada disisinya, disisi mereka. Mereka rumahku, seperti halnya saat ia berkata aku adalah rumahnya, tempat dimana ia akan pulang saat senja menjelang, tempat dimana ia akan bernaung kala awan mendung menggulung. Entah siapa yang romantis diantara kami, mungkin aku, mungkin juga dia, mungkin juga kami berdua, hingga kata-kata "ajaib" seperti itu sering muncul dan seolah menjadi biasa. Dan rasanya kami tak akan pernah menjadi dewasa jika parameternya adalah panggilan formal seperti "papa mama". Kami saling memanggil sesuka hati, asal saja, entah itu "Cint", "yang", "neng", "bos", "juragan", "ente" "ane" atau nama-nama jelek kami waktu di kampus dulu seperti "aki" dan "bogel". Dan mungkin yang akan protes jika mendengar hal ini adalah junior kami " Ibu, itu bukan ayang, itu ayaaaahhh."-- "oke, oke, ibu salah, itu ayaaahh". 

Banyak hal remeh temeh yang tak bisa kujabarkan satu-persatu  dan saat ini ingin kulakukan. Aku ingin melihatnya menangkap ikan dan aku yang memfiletnya. Aku ingin mendengar adisku (dan juga dia) merajuk minta dibuatkan donat, atau bolu atau cake apapun. Aku juga mendadak rindu kebiasaanya menguntitku saat belaja sayur di pasar becek. Konyol memang, sama sekali tidak ada bapak-bapak di dunia ini yang ikut masuk kepasar dan menunggu istrinya memilih-milih bawang, menawar ikan dan juga hilir mudik mencari dimana si penjual kluwek berada. Tapi ia melakukannya. Aku juga senang mengenang saat kami sedikit bersitegang tentang hal-hal konyol, dan biasanya  aku  tak pernah bisa marah untuk waktu yang lebih lama dari satu jam., karena dia pasti mengacaukan semuanya. Aku ingin menonton berkeping-keping DVD serial korea hingga tengah malam terlewat. dan melihatnya ikut ketagihan.  Aku juga senang dan puas sekali melihatnya menangis haru melihat film yang menyayat hati, dan hanya aku yang tau ekspresi wajahnya saat menangis. :P

Menuliskan semua hal diatas membuatku sejenak bahagia, karena ternyata ada harta yang kupunya. yang mungkin tak dipunyai orang lain, atau mungkin orang lain memilikinya, tapi tentu tidak akan  persis sama dengan apa yang kugenggam saat ini. Dan juga seorang lelaki kecil yang dengan mengingat sedikit tentangnya membuatku dengan mudah berkaca-kaca. Ah cinta, mengapa rasa itu ditakdirkan ada di jiwa manusia, hingga sulit rasanya berada jauh darinya. Andai aku pun mati rasa, masih layakkah aku disebut manusia. Aku bersyukur menjadi manusia dengan segala konflik yang sedikit demi sedikit mendidikku menjadi dewasa. Meski sungguh aku tidak tahu kemana arus hidup akan membawaku di tahun-tahun  mendatang. Terbayang betapa sempurnanya hidup bertiga tanpa harus memikirkan tentang apapun. Seolah saat bertiga membuatku memiliki segalanya ditengah segala ketidakidealan ataupun ketidaksempurnaan. Bertiga membuatku merasa timpang saat satu dari kami menghilang, seperti halnya segitiga yang tak pantas disebut segitiga tanpa sudut runcing disisinya.

Hampir 5 tahun menjalani hidup bersama, dan mungkin aku dan dia akan melewati fase 1. Lima tahun pertama perkawinan adalah penyesuaian karakter. Aku dan dia dan keluarga kecil yang kami bangun memang tidak sempurna. Tapi aku masih muda, begitu juga dia, mudah-mudahan kami punya banyak waktu hingga senja menjelang untuk mengumpulkan batu yang akan memperkuat pondasi rumah kami hingga anak-anak kami kelak merasa nyaman berada di dalamnya. Kalaupun saat ini apa yang ada masih terasa samar, aku berharap kami bisa melaluinya bersama, dan selalu bersama. 

Aku ingin meresapkan kata "BERTIGA, BERSAMA" jauh ke dalam relung hatiku. Hingga setiap sel dalam tubuhku tahu apa yang akan kulakukan. Hingga hatiku tau apa yang semestinya kupikirkan. Aku tak ingin larut dalam fikiran buruk tentang segala yang negatif, sungguh aku ingin berfikir positif. Aku ingin tidak selalu melihat langit, tapi ku ingin selalu melihat kerikil terdekat yang mungkin akan membuatku jatuh. Aku ingin menghindarinya, dan kalaupun aku terpaksa jatuh, aku percaya akan ada tangan yang menggenggamku erat dan mengajakku bangkit. 

Sungguh aku manusia yang hanya menuruti perputaran nasib, dan tentu aku tak tahu kemana angin dunia meniupku dan menghembusnya. Tapi kupercaya, jalan akan selalu ada selama aku tak berputus asa. Aku juga yakin tentang kata hati yang teruap secara spontan, teriring di setiap detakan nadi, dan itu adalah sebenar-benarnya pengharapan yang jujur.. "bersama"
Friday, September 10, 2010 6 komentar By: shanti dwita

Lebaran sendu


Gema takbir membahana di kedutaan RI Jumat pagi waktu Brussels. Mata saya berkaca-kaca dan selalu begitu saat takbir itu berkumandang. Entah mengapa, rasanya hari itu saya begitu melankolis. Saya tidak sedang teringat akan ibadah puasa saya yang bulan ini banyak bolongnya karena alasan biologis, saya juga tidak sedang teringat akan tilawah aquran saya yang minim selama Ramadhan ini. Lalu apa yang harusnya saya tangisi? Ya, sebuah hal manusiawi yang memang hanya ada pada jiwa seorang manusia. Rasa sepi di tengah hingar bingar ratusan orang yang bertegur sapa dan saling bersalaman sambil menikmati aneka hidangan khas nusantara.  Rasa hampa saat harus tersenyum riang kala lensa kamera menjerat. Saya pun mendapati bahwa apa yang ada di dalam foto tak pernah nyata. Tidakkah orang tahu duka, cemas, sedih dan takut yang tersembuyi di balik wajah seorang yang sedang tertawa ‘pura-pura bahagia’ di dalam satu foto? Itu yang saya alami. 

Sungguh saya menangis mendengar doa di akhir khutbah karena saya teringat orang-orang tercinta yang berada jauh, belasan ribu kilometer jaraknya dari tempat saya duduk sambil mengangkat tangan. Bukan sedang menangis haru atas doa tentang kemajuan bangsa Indonesia yang sedang dipanjatkan Bapak ustadz di depan sana. Sungguh saya berlinangan air mata karena hati saya pedih tak bisa mendekap mereka dengan hangat, tak bisa merasakan renyahnya canda tawa, tak bisa menenangkan gundah si kecil yang terus bertanya pada ayahnya “dimana ibu?”

Angin dingin membuat saya gemetaran di sana. Memasuki akhir musim panas dengan suhu 16-17oC bukan perkara mudah bagi indera tubuh saya yang sedang susah payah beradaptasi. Dingin itu membuat saya sadar, saya jauh. Melihat orang-orang yang hilir mudik dengan sepatu boots hangat serta coat tebal membuat saya ingat, saya tidak di Indonesia. Mendengar banyaknya orang bercakap-cakap dengan bunyi “R” yang samar, membuyarkan lamunan saya tentang lebaran yang biasa saya alami bersama keluarga. Mereka bicara bahasa Belanda, Perancis, Inggris, apapun itu.  Saya pun yakin, saya benar-benar jauh. 

Lontong, opor ayam, rendang, sayur lodeh, sambal goreng hati-kentang, asinan, telur bacem, kerupuk jala, bakso, nastar, lapis legit, cendol, wajik, kacang mede, semua ada. Disajikan dengan kemurahan hati kedubes RI di Brussels secara cuma-cuma  untuk semua warga Indonesia yang hadir disana Jumat pagi 10 September. Sepuluh hari lebih meninggalkan Indonesia belum membuat saya terlalu rindu pada semua makanan itu, namun, seketika pesawat lepas landas, saya merasa begitu rindu pada mereka semua, saya merasa begitu cemas, akankah saya mampu bertahan? Jika iya, maka akan seberapa lama? 

Sekarang saya jauh. Saya mulai begitu ingin tahu. Apa sebenarnya yang membuat saya bahagia di dunia ini? Saya meminta agar Allah mengabulkan doa saya agar saya diterima menjadi pengajar di universitas negeri untuk menenangkan hati orangtua tercinta. Permintaan itu diluluskan, saya pun dikirim 400km jauhnya dari ‘rumah’ untuk mengambil surat kelulusan saya itu. Lalu, saya berdoa lagi untuk mendapatkan beasiswa di Eropa. Doa saya pun lagi-lagi didengar, dan disinilah saya sekarang, 13000 km mendekati utara bumi jauhnya dari Indonesia. “Maka nikmat Allah yang manakah yang engkau dustakan?”  Sungguh, nikmat itu melimpah. Tapi berlebihankah jika sekarang saya meminta (lagi lagi dan lagi), “Ya Allah, kirimkan suami dan anakku kesini agar aku bisa tenang dan bisa merasa tidak takut akan apapun, kecuali pada-Mu?”

ending
"Do you know where you're going to? Do you like the things that life is showing you? Where are you going to? do you know?
Do you get what you're hoping for? When you look behind you there's no open door. What are you hoping for? Do you know?"
(Diana Ross - Do You Know)